Selamat Membaca...
Siang itu, Chika berjalan santai bersama Olla, Adel, Oniel, dan Flora di koridor sekolah. Mereka baru saja selesai jam pelajaran terakhir dan memutuskan untuk mencari angin segar di kantin sebelum pulang.
"Kita pesen es teh aja yuk, panas banget," kata Olla sambil mengibaskan kerah seragamnya.
Chika hanya mengangguk kecil. Biasanya, dia yang paling cerewet kalau sudah ngumpul begini, tapi hari ini pikirannya melayang entah ke mana. Wajah Christy masih terbayang di kepalanya-senyumnya, tatapannya yang penuh keraguan, dan cara dia perlahan-lahan menarik diri.
"Chik, lo kenapa sih diem banget?" Oniel meliriknya curiga.
"Capek aja," jawab Chika pendek.
Mereka baru saja berbelok ke arah lapangan ketika tiba-tiba-
DUG!
Sebuah bola voli melesat cepat dari arah samping, menghantam wajah Chika dengan keras. Benturannya membuatnya oleng, kepalanya langsung pening.
"O-ow..." suara Oniel tercekat.
"Astaga, Kak Chika! Maaf! Aku nggak sengaja!" seorang cowok dari tim voli buru-buru berlari mendekat, ekspresinya panik.
Chika memejamkan mata sejenak, mengatur napas. Pusingnya luar biasa. Tapi yang lebih aneh, ada sesuatu di dadanya yang tiba-tiba terasa sesak.
Dan sebelum ia sadar, tangannya sudah melayang.
BUG!
Pukulan pertamanya mendarat di bahu anak itu.
"K-Kak Chika?" suara cowok itu bergetar, jelas terkejut.
Tapi Chika tidak berhenti. Ia kembali mendorongnya, kali ini lebih keras.
"Kak, maaf! Aku beneran nggak sengaja!"
Namun, bagi Chika, permintaan maaf itu terdengar jauh. Tangannya bergetar, napasnya memburu, dadanya sesak dengan emosi yang entah dari mana datangnya.
Bola itu bukan masalahnya. Pukulan ini bukan sekadar balasan atas hantaman di wajahnya.
Ini bukan sekadar amarah.
Ini pelampiasan.
Selama beberapa hari terakhir, ia menahan segalanya-kebingungan, rasa kehilangan, ketidakpastian tentang Christy. Ia ingin marah, ingin meneriakkan segalanya, tapi tidak bisa. Dan sekarang, semuanya meledak begitu saja.
"Chik, udah!" Flora buru-buru menarik lengannya, menahan tubuhnya agar tidak makin lepas kendali.
Chika terengah, rahangnya mengeras. Matanya masih menatap tajam ke arah cowok yang kini mundur selangkah, terlihat bingung dan sedikit ketakutan.
Saat itu juga, ia sadar.
Ia bukan marah pada orang ini.
Ia marah pada keadaan.
Ia marah pada semua hal yang membuatnya merasa seperti ini.
Menarik napas dalam-dalam, Chika akhirnya melangkah mundur, melepaskan genggamannya dari kerah seragam anak itu.
Tanpa mengatakan sepatah kata pun, ia berbalik dan berjalan pergi dengan kepala yang masih berdenyut serta hati yang terasa jauh lebih berat dari sebelumnya.
"Chik, lo jangan ngeyel deh! Lo tuh kena bola tadi, muka lo merah banget!" suara Adel terdengar setengah panik, setengah kesal.
Flora dan Olla sudah menopang Chika dari kedua sisi, sementara Oniel berjalan cepat di depan, mendorong pintu UKS dengan sedikit kasar.
KAMU SEDANG MEMBACA
YANG INDAH? | ch2 (END)
FanfictionDipisahkan sejak bayi, Chika dan Christy kembali bertemu setelah 16 tahun. Bagi Chika, adiknya adalah separuh dirinya, sumber bahagia sekaligus luka terdalam. Chika rela mati-matian menjaga, meski perlindungan itu sering disalahpahami. Christy sayan...
