Selamat Membaca..
Chika masuk ke rumah dengan langkah malas, melempar tasnya ke sofa, lalu menghela napas panjang. Hari ini terlalu melelahkan. Kepalanya masih pening, dan dadanya masih terasa sesak setiap kali mengingat tatapan Christy.
Langkah berat terdengar dari tangga, lalu muncul Zean dengan kaus hitam dan celana pendek, tampak baru saja bangun dari tidur siang.
"dek," sapanya santai sambil menguap. "Lo kenapa?"
Chika tidak menjawab, hanya menjatuhkan diri di sofa dengan wajah kusut.
Zean menaikkan alis, lalu berjalan ke dapur, mengambil air mineral dari kulkas, dan kembali ke ruang tengah. Ia melempar satu botol ke arah Chika.
"Minum dulu, terus cerita," katanya sambil duduk di sebelah adiknya.
Chika membuka botolnya, meneguk air tanpa bicara.
"Lo dipukulin orang?" Zean menyipitkan mata, memperhatikan pipi Chika yang masih merah.
"Enggak," jawab Chika pendek.
"Bohong."
Chika mendengus, lalu akhirnya berkata, "Gua kena bola voli, Bang."
Zean terkekeh. "Serius lo? Pantes aja bego dari dulu nggak ilang-ilang."
"Anj— Bang, sumpah, lo nggak ada simpati sama sekali," gerutu Chika, menendang kaki Zean pelan.
Zean hanya tertawa kecil. "Tapi kenapa muka lo kayak orang abis nahan nangis?"
Chika terdiam.
Zean meneguk airnya, lalu menatap Chika lebih serius. "Ini tentang dedek, kan?"
Chika menggigit bibirnya, lalu akhirnya mengangguk pelan.
"Dia masih ngejauh," gumamnya.
Zean menghela napas panjang. "Lo sadar nggak sih, Chik? Lo sibuk ngejar dia terus, tapi lo nggak pernah nyoba buat bener-bener ngerti kenapa dia ngejauh?"
Chika mengerutkan kening. "Apa maksud lo?"
Zean menatap adiknya dengan ekspresi sulit ditebak.
"Gua nggak tahu semua detailnya, tapi yang jelas, Christy nggak ngejauh karena dia mau," kata Zean. "Ada sesuatu yang bikin dia harus ngejauh. Dan gua yakin lo juga ngerasain itu."
Chika menggigit bibirnya lebih keras.
Tentu saja ia merasakannya.
Setiap kali Christy menjauh, ia bisa melihat ada rasa sakit di matanya. Seolah-olah Christy pun tersiksa, tapi tetap memilih untuk tetap jauh.
"Lo harus cari tahu sendiri, Chik," lanjut Zean. "Tapi jangan cuma mikirin perasaan lo sendiri. Coba liat dari sudut pandang dia juga."
Chika menunduk, meremas botol di tangannya.
Ia ingin tahu. Ia ingin mengerti.
Dan kali ini, ia akan mencari jawaban—apa pun itu.
.......
Zean turun dari kamarnya dengan pakaian yang rapi, rambutnya sedikit basah seperti habis mandi. Ia berjalan menuju meja makan, mengambil botol air mineral dan meneguknya sambil melirik Chika yang sedang duduk di sofa ruang tengah.
"Lo mau ikut nggak?" tanyanya santai.
"Kemana?" Chika mendongak, menatap abangnya dengan malas.
"Perpus. Mau nyari buku buat mata kuliah," jawab Zean sambil merapikan lengan kemejanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
YANG INDAH? | ch2 (END)
FanfictionDipisahkan sejak bayi, Chika dan Christy kembali bertemu setelah 16 tahun. Bagi Chika, adiknya adalah separuh dirinya, sumber bahagia sekaligus luka terdalam. Chika rela mati-matian menjaga, meski perlindungan itu sering disalahpahami. Christy sayan...
