Selamat Membaca...
Pagi itu, sinar matahari lembut menyelinap melalui celah-celah tirai kamar Chika, menerangi ruangan dengan cahaya keemasan. Udara masih terasa sejuk, menyisakan ketenangan setelah malam yang panjang.
Christy menggeliat pelan, kelopak matanya berkedip beberapa kali sebelum akhirnya terbuka sepenuhnya. Tubuhnya masih terasa nyaman dalam kehangatan selimut, dan yang pertama kali ia sadari adalah tangan Chika yang masih menggenggam tangannya erat.
Chika masih terlelap di sampingnya, wajahnya terlihat damai-tidak ada lagi gurat khawatir yang selama ini sering Christy lihat. Napasnya teratur, sesekali bibirnya bergerak seolah sedang menggumamkan sesuatu dalam tidurnya.
Christy tersenyum kecil, jemarinya perlahan mengeratkan genggaman tangan kakaknya. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali ia bangun di tempat ini, dalam suasana setenang ini.
Namun, saat ia menoleh lebih dekat, matanya tiba-tiba menangkap sesuatu-sebuah luka kecil di sudut bibir Chika. Luka itu tampak seperti bekas sayatan atau benturan, sedikit kemerahan dan mulai mengering.
Hati Christy mencelos. Ia baru menyadarinya sekarang.
Kilasan kejadian tadi malam langsung terlintas di benaknya-bagaimana Chika dan Zean harus menghadapi para bodyguard yang mencoba menghalangi mereka, bagaimana kakaknya berdiri di depannya, melindunginya tanpa ragu sedikit pun.
Christy menggigit bibirnya, merasa bersalah. "Kak..." panggilnya pelan, jemarinya tanpa sadar terulur, menyentuh pelan luka di bibir Chika.
Chika mengerjap pelan, matanya masih terlihat mengantuk saat ia menatap Christy. "Hmm...?"
Christy menatap luka itu dengan sorot mata penuh penyesalan. "Bibir Kakak... kenapa bisa luka?"
Chika tampak bingung sebentar sebelum akhirnya tersenyum kecil, seolah menganggap itu bukan hal besar.
"Oh, ini?" Ia mengangkat bahu santai.
"lecet dikit, nggak sakit kok."
Tapi Christy tidak bisa tertawa seperti biasanya. Tatapannya tetap terfokus pada luka itu, hatinya terasa semakin berat. "Aku... Aku baru sadar, Kak..."
Chika menghela napas pelan, lalu dengan lembut menggenggam tangan Christy. "Dedek, ini bukan salah kamu. Kakak nggak apa-apa, kok."
"Tapi-"
"Tidak ada tapi-tapian," potong Chika lembut, lalu tersenyum lebih hangat. "Yang penting sekarang kamu di sini, aman."
Christy terdiam, masih menatap luka itu dengan perasaan campur aduk. Tapi saat Chika meremas tangannya pelan, ia tahu bahwa kakaknya benar-benar tidak ingin ia merasa bersalah.
Ia menarik napas dalam, lalu perlahan mengangguk. "Okeii... Tapi nanti Kachika harus di obatin, ya?"
Chika terkekeh kecil. "Iya, iya. Nanti aku pake."
Namun, sebelum mereka sempat beranjak dari tempat tidur, suara ketukan di pintu terdengar.
Tok, tok, tok!
Suara Zean yang terdengar mengantuk menyusul. "Kalian udah bangun belum?"
Christy refleks menoleh ke pintu, sementara Chika hanya bergumam malas, masih enggan bangun dari tidurnya.
"Udah bang" jawab Christy pelan, suaranya masih dipenuhi kantuk.
"Mama nyuruh turun dek, sarapan" sahut Zean sebelum langkah kakinya terdengar menjauh.
KAMU SEDANG MEMBACA
YANG INDAH? | ch2 (END)
FanficDipisahkan sejak bayi, Chika dan Christy kembali bertemu setelah 16 tahun. Bagi Chika, adiknya adalah separuh dirinya, sumber bahagia sekaligus luka terdalam. Chika rela mati-matian menjaga, meski perlindungan itu sering disalahpahami. Christy sayan...
