Bab 89

1.5K 187 91
                                        

Happy Reading










Pukul 19.03

Suara deru mobil terdengar di halaman. Shani baru saja tiba, wajahnya letih karena seharian mengurus toko rotinya. Namun rasa lelah itu seketika tergantikan oleh tatapan cemas saat melihat suasana rumah yang terasa sunyi—terlalu sunyi.

Ia masuk ke rumah, melepas tasnya, dan disambut oleh Bibi Ratna yang raut mukanya gelisah.

“kenapa bi?” tanya Shani sambil menatap ke arah tangga

Bibi ragu-ragu menjawab, “Ibu… non chika nya tadi siang keluar rumah. Tapi kayaknya bukan keluar biasa… dia pergi setelah… bertengkar sama bapak.”

Shani membeku di tempat.

“Bertengkar?” gumamnya, nyaris tak percaya.

Bibi mengangguk perlahan. “Iya, Bu… saya nggak tahu persisnya gimana. Tapi saya dengar suara tamparan. Lalu Chika naik ke atas sebentar, terus keluar rumah. Baju dan tasnya masih lengkap, kayak orang yang nggak berniat balik.”

Wajah Shani langsung pucat
Ia berjalan ke kamar Christy

Christy tengah duduk memeluk lututnya di atas tempat tidur. Matanya sembab, jelas ia juga habis menangis. Pintu diketuk perlahan, lalu terbuka.

“Dedek…” panggil Shani lembut.

Christy menoleh cepat. “Ma…”

Shani masuk dan duduk di sampingnya, mengusap rambut Christy dengan sayang.

“kenapa sayang…?” tanyanya pelan. “Bibi bilang… kakak pergi dari rumah? Kenapa?”

Christy menggigit bibir bawahnya. Dadanya terasa sesak. Ia belum sepenuhnya pulih dari perkelahian chika dan Dirga tadi pagi dan tatapan dingin chika padanya. Tapi mendengar suara lembut mamanya, air mata itu kembali jatuh.

“kakak… mukulin Dirga mah…” bisiknya. “dia bikin Dirga sampe masuk Rumah sakit.
Dia bilang Dirga itu bahaya. Bohong. Jahat. Tapi aku yakin kakak cuma cemburu…”

Shani mendengarkan dengan sabar, tapi matanya mulai berkaca-kaca.

“Lalu?” tanyanya dengan tenang.

“pas kak Chika balik ke rumah—ketemu Papa. Mereka ribut. Aku gak tahu apa yang dibahas. Tapi… aku dengar suara tamparan…” suara Christy nyaris tak terdengar. “Kayaknya Papa nampar Kakak”

Shani menghela napas dalam. Suara tangisnya mulai pecah, tapi ia tahan.

“terus dia pergi… setelah itu?” tanyanya dengan suara bergetar.

Christy mengangguk.

Shani memejamkan mata sejenak, mencoba mengatur napasnya. Luka sebagai ibu mulai menganga. Ia merasa gagal menjaga putri sulungnya dari rasa sakit—baik secara fisik maupun batin.

"Dedek tau kakak ke mana?” tanyanya dengan harapan kecil.

Christy menggeleng pelan. “Tadi sempat buka HP… terakhir online sekitar jam lima sore. Tapi dia nggak baca pesan—

Tok. Tok. Tok.

Christy dan Shani sama-sama menoleh. Pintu terbuka perlahan. Gracio muncul dengan wajah tegang, bukan karena penyesalan—melainkan karena amarah yang belum tuntas.

Ia berdiri di ambang pintu, tangannya menyentuh kusen.

“Ada kabar dari Chika?” tanyanya singkat, nadanya masih dingin.

Shani menatapnya tanpa ekspresi. “Belum,” jawabnya, juga singkat.

Hening sesaat. Lalu Shani bangkit dari ranjang, berdiri tegak menghadap suaminya. Tatapannya tajam, penuh emosi yang sudah terlalu lama ditahan.

YANG INDAH? | ch2 (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang