Bab 90

2.4K 215 141
                                        

Selamat Membaca..



Kamar Christy

Christy masih duduk di atas ranjang, bersandar pada Mama Shani yang memeluknya dengan sabar. Hidungnya masih merah, tapi tangisnya mulai mereda.

Ponselnya yang tergeletak di atas bantal tiba-tiba bergetar.

Drrtt… Drrtt…

Christy menoleh. Notifikasi dari Marsha muncul di layar:

Marsha: "Toy, ini… kamu harus lihat. Maaf ya aku ngirimnya sekarang, tapi aku nggak bisa diem aja."

Di bawah pesan itu, ada satu tautan video.

Dengan jantung berdebar, Christy mengetuk video itu. Layar menampilkan suasana gelap, lampu warna-warni, suara musik keras berdentum. Tapi tidak butuh waktu lama untuk mengenali wajah itu—Chika.

Kamera bergoyang, seolah diambil dari kejauhan, sembunyi-sembunyi. Chika duduk di pojok sofa sebuah klub malam, dengan kondisi kacau. Rambutnya berantakan, matanya sembab.

Di tangannya ada gelas minuman. Wajahnya merah, entah karena alkohol atau karena tangis. Ia sempat tertawa—tawa lirih yang terdengar lebih mirip jeritan sunyi seseorang yang sudah menyerah.

Lalu terdengar suara samar dari arah perekam:

"Eh itu Chika bukan sih? Gila, anak SMA mabok ginian? Hah, anak orang kaya bebas ya…"
"SMA Bumantara, kan? Buset…."

Christy menutup mulutnya dengan tangan. Wajahnya langsung pucat. Tapi bukan hanya itu—hatinya seperti ditusuk. Napasnya tercekat, tubuhnya membeku.

"Sayang… kenapa balik lagi ke tempat itu…"

Air mata mengalir pelan di pipinya. Semua kenangan ketika ia dulu membujuk Chika buat berhenti minum—dan Chika menurut, dengan senyum lelah namun penuh usaha—kini muncul kembali dan pecah berkeping-keping.

“Ma…!” desisnya, hampir tak bersuara.

Shani menoleh dan melihat layar ponsel sebelum perlahan mengambilnya dari tangan Christy. Matanya membelalak saat melihat isi video itu. Tangannya langsung menekan dadanya sendiri, seolah berusaha menahan sesak yang tiba-tiba menghantam.

“chika…” bisik Shani, nyaris tanpa suara.

Christy kembali meraih ponselnya, jari-jarinya gemetar saat mengetik balasan ke Marsha.

Christy: "dapet dari mana video ini?"

Marsha: "Temen adek aku yang ngirim. Katanya udah mulai nyebar di grup angkatan lain juga."

Christy menggigit bibir bawahnya. Matanya kembali ke layar video yang kini terjeda.

“Aku harus cari Kak Chika. Sekarang,” katanya serak, bangkit berdiri.

Shani ikut berdiri, panik. “dek, kamu gak tau dia di mana—”

“Dia pasti di klub yang dulu biasa dia datangi. Tempat nongkrong mereka yang dulu. Aku gak bisa diam aja. Kak Chika bisa kenapa-kenapa!”

Shani menarik napas cepat, wajahnya tegang. “Kalau gitu… Mama ikut.”

Namun saat mereka hendak berjalan keluar kamar, suara berat Gracio menghentikan langkah mereka.

“Kalian mau ke mana?” tanyanya dari ruang tengah.

Shani berjalan cepat menghampiri meja dekat pintu dan mengambil kunci mobil. "Mau jemput anakku,” jawabnya, tajam.

YANG INDAH? | ch2 (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang