Happy Reading..
Hari Kedua Persiapan Event
Pagi itu, suasana di aula SMA Bumantara sudah ramai sejak bel masuk pertama berbunyi.
Christy bersama anggota OSIS lainnya sibuk mempersiapkan segala hal untuk acara basket antar sekolah yang tinggal beberapa hari lagi.
Meskipun semangat mereka tetap tinggi, tekanan semakin terasa karena waktu semakin mepet dan masalah baru terus muncul.
Christy berdiri di tengah aula dengan clipboard di tangan, mengecek daftar tugas yang belum selesai.
Wajahnya terlihat serius, matanya bolak-balik menatap catatan dan mengawasi teman-temannya yang sibuk bekerja.
Di sudut ruangan, Dirga sedang sibuk mengatur spanduk bersama Rehan dan Reza, sementara Gita, Kathrina, dan Marsha merapikan meja registrasi.
Ella dan Lulu terlihat ribut soal dekorasi yang belum selesai.
Di tengah semua keributan itu, Dimas, ketua OSIS, berdiri dengan tangan disilangkan di dada, mengawasi semua dari jauh.
“Chris, ini spanduknya kurang pas, deh. Tulisan ‘Turnamen Antar Sekolah’ kayaknya miring!” teriak Dirga dari seberang ruangan.
Christy melangkah cepat mendekati Dirga, matanya fokus pada spanduk yang dia tunjuk.
“Coba diturunin sedikit di sisi kiri, ga. Biar rata sama garis pintu.”
Dirga mengangguk, mengikuti arahan Christy dengan cekatan. “Sip, gini?”
Christy tersenyum puas. “Iya, udah pas.”
Tapi belum sempat Christy kembali ke tempatnya, suara Dimas terdengar dari belakang. “Christy, sini bentar.”
Christy menoleh, mendapati Dimas berdiri dengan ekspresi serius sambil memegang berkas di tangannya.
Dia berjalan mendekat, sedikit merasa canggung karena Dimas selalu saja membuat suasana jadi aneh dengan caranya yang terlalu dekat.
“kenapa kak?” tanya Christy, berusaha tetap sopan.
Dimas mengulurkan berkas itu. “Ini daftar tim yang belum konfirmasi ulang. Harusnya kamu yang urus, kan?”
Christy menghela napas, mengambil berkas itu. “Iya, kak. Aku cek lagi deh.”
Dimas masih berdiri di situ, matanya menatap Christy agak lama. “ jangan terlalu capek, ya. Kalau butuh bantuan, bilang aja.”
Christy mengangguk cepat, mencoba mengakhiri percakapan. “Iya, kak. Makasih.”
Begitu Dimas menjauh, Dirga mendekat dengan senyum tipis. “Dimas itu perhatian banget, ya,” gumamnya sambil melihat ke arah ketua OSIS itu.
Christy hanya tertawa kecil. “Iya, mungkin karena dia ketua, jadi harus perhatian sama semua anggota.”
Dirga mengangguk, tapi ada kilatan di matanya yang menunjukkan dia nggak terlalu suka dengan sikap Dimas. “Kalau ada yang ganggu, bilang aja. Gue bantu.”katanya
KAMU SEDANG MEMBACA
YANG INDAH? | ch2 (END)
Fiksi PenggemarDipisahkan sejak bayi, Chika dan Christy kembali bertemu setelah 16 tahun. Bagi Chika, adiknya adalah separuh dirinya, sumber bahagia sekaligus luka terdalam. Chika rela mati-matian menjaga, meski perlindungan itu sering disalahpahami. Christy sayan...
