Selamat Membaca..
Pagi hari..
Chika sedang duduk di tribun lapangan basket, menikmati angin pagi sebelum latihan dimulai.
Ia menyandarkan punggungnya santai, memainkan ponselnya sambil sesekali menyeruput minuman dingin yang dibawanya.
Tak lama kemudian, Dirga datang menghampirinya dengan senyum ramah. "Pagi, Kak Chika," sapanya santai, mengambil tempat di sebelah Chika.
Chika melirik sekilas tanpa mengubah ekspresinya. "Hmm.." jawabnya pendek, tetap fokus pada ponselnya.
"Nggak capek latihan terus? Gue aja liat lo sibuk mulu, kayak nggak ada istirahat," kata Dirga mencoba mencairkan suasana.
"Udah biasa," balas Chika singkat, nadanya datar. Ia tahu Dirga nggak sekadar mampir buat basa-basi. Ada sesuatu yang pasti mau dibicarakan cowok itu.
Dirga mengusap tengkuknya pelan, mencoba tetap santai. "Oh iya, Kak... kemarin Christy cerita kalo lo jago banget di lapangan. Kayaknya dia bangga banget punya kakak kayak lo," katanya lagi, berusaha memuji.
Chika menoleh sebentar, matanya menyipit curiga. "Mau apa lo, Dir?" tanyanya langsung, tak tertarik dengan pujian kosong.
Dirga tertawa kecil, akhirnya memutuskan untuk bicara jujur. "Gue... mau jujur aja, Kak. Gue suka sama adek lo" ucapnya, suaranya sedikit lebih serius dari sebelumnya. "Makanya, gue pengen minta izin lo buat deketin dia."
Kalimat itu sukses membuat jantung Chika mencelos. Ada rasa perih di dadanya, tapi ia menekannya dalam-dalam, berusaha tetap terlihat santai.
Hatinya terasa berat membayangkan adiknya yang selalu memanjakannya, kini ada orang lain yang ingin mengambil tempat di sisi Christy.
Namun, Chika tidak menunjukkan perasaannya. Ia malah tertawa kecil, meskipun nadanya terdengar dingin.
"Lo yakin bisa deketin dia?" tanyanya sambil menyandarkan tubuh ke belakang.
"Gue usahain," jawab Dirga mantap. "Gue tahu Christy nggak gampang dideketin, tapi gue serius sama dia, Kak."
Chika terdiam sejenak, menatap kosong ke arah lapangan. Ada rasa ingin menolak langsung, tapi ia tahu Christy bukan miliknya—meskipun hatinya berat melepaskan.
"Ada banyak hal yang lo nggak tahu soal Christy," suara Chika terdengar lebih dingin dari sebelumnya. "Dia bukan tipe yang gampang percaya orang, dan sekali lo nyakitin dia, lo bakal susah banget buat dapetin hatinya lagi."
Dirga mengangguk, mencoba memahami betapa protektifnya Chika terhadap Christy. "Gue ngerti, Kak. Gue nggak main-main. Gue beneran mau jagain dia."
Chika menghela napas panjang, mencoba menenangkan rasa sesak di dadanya. Ia bangkit dari duduknya, menatap Dirga dengan tatapan tajam dan penuh peringatan. "Terserah lo mau deketin atau enggak," ucapnya akhirnya, nadanya nyaris tanpa emosi.
Dirga mengira itu tanda ia mendapat restu, tapi sebelum ia sempat merasa lega, Chika melanjutkan dengan suara yang lebih rendah namun menusuk.
"Tapi, jangan nyesal kalau Christy tetap balik ke gue." Ada nada kepemilikan di kalimat itu, seolah-olah sekeras apa pun Dirga berusaha, pada akhirnya Christy akan selalu memilih Chika.
KAMU SEDANG MEMBACA
YANG INDAH? | ch2 (END)
FanfictionDipisahkan sejak bayi, Chika dan Christy kembali bertemu setelah 16 tahun. Bagi Chika, adiknya adalah separuh dirinya, sumber bahagia sekaligus luka terdalam. Chika rela mati-matian menjaga, meski perlindungan itu sering disalahpahami. Christy sayan...
