Bab 33

1.9K 185 38
                                        

Selamat Membaca...



























Setelah makan malam selesai, suasana di ruang keluarga masih terasa hangat. Chika, yang masih kelihatan lemas, merebahkan diri di sofa sambil menarik tangan Christy agar duduk di sampingnya.

"Dek, pijitin boleh?" pintanya dengan suara serak

"Boleh. Sini..

Christy mulai memijat bahu chika"Tapi habis ini minum obat lagi, ya."

Belum sempat Chika menjawab, ponsel Christy tiba-tiba berdering. Nama Dirga muncul di layar. Sebelum Christy sempat mengangkatnya, Zean sudah bersuara sambil nyengir.

"Wah, Dirga nelpon nih. Pacar baru, ya?" godanya, lengkap dengan kedipan mata jahil.

Chika yang tadinya santai, langsung bangkit dari rebahannya. Wajahnya memerah, entah karena demam atau emosi. "Lo bisa nggak sih nggak usah godain Christy mulu soal cowok?!"

Zean tertawa santai. "Lah, gua cuma bercanda. Lagian kenapa sih? Dirga juga baik"

Chika merengut, nadanya meninggi meski suaranya serak. "Lo tau dari mana kalau dia baik, hah?! Lo bahkan gak kenal dia! "

"Gua nggak suka kalau ada cowok deket-deket sama Christy, apalagi dengan latar belakang yang belum gua tau!"lanjutnya

Christy menoleh ke kakaknya, mencoba menenangkan. "Kak, tenang ya. Dirga cuma temen kok, nggak lebih."

Tapi Chika sudah terlanjur kesal. "Iya temen! Lama-lama juga jadi pacar! Aku nggak mau kamu punya pacar atau deket sama cowok sembarangan! Aku gak mau kamu di sakitin cowok"

Zean mendengus sambil berdiri dari kursinya. "Lu berlebihan tau gak?!. Christy juga butuh pasangan kali, bukan cuma ngurusin lo doang. Lo tuh posesif banget!"

Kata-kata Zean itu membuat pipi chika memanas. Ia langsung berdiri, meskipun tubuhnya masih lemas. "Gua emang posesif! Terus kenapa? Adik gua, urusan gua!" Sentak chika

Christy buru-buru berdiri juga, mencoba mencegah pertengkaran semakin panas. "Udah, udah, jangan kayak gini, dong. Kakak kan lagi sakit. Istirahat aja, ya?"

Tapi Chika malah makin marah. "Aku nggak butuh istirahat!"

"Gua butuhnya lo nggak usah ngurusin gua dan Christy!"chika menunjuk wajah zean

Dengan langkah tertatih, Chika mengambil jaketnya dari sofa. Christy mencoba menahan tangannya. "Kak, jangan keluar dulu. Kamu belum sembuh."

Tapi Chika menepis tangan Christy dengan lembut, meskipun matanya terlihat berkaca-kaca. "Aku butuh udara segar."

"Chika, jangan keras kepala," Shani yang baru keluar dari dapur mencoba ikut menenangkan.

Tapi Chika sudah melangkah keluar, membanting pintu di belakangnya. Suasana di ruang keluarga langsung hening, hanya suara detak jam dinding yang terdengar.

Zean mengusap wajahnya dengan frustasi. "si chika tuh kenapa sih? Kekanak-kanakan banget!."

"Dia lagi sakit bang, perasaan sensitif." Tegur shani

Setelah membanting pintu rumah dengan keras, Chika melangkah cepat menuju garasi. Dadanya sesak oleh amarah membuat suhu tubuhnya kembali naik.

Tanpa pikir panjang, dia meraih helmnya dan menyalakan motor sport kesayangannya. Sepertinya ia lupa jika hukuman untuk tidak membawa kendaraan belum berakhir.

YANG INDAH? | ch2 (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang