Selamat Membaca..
Chika duduk sendirian di balkon kamarnya. Lampu kamar mati. Di tangannya, segelas air yang dari tadi tak disentuh. Matanya bengkak, pipinya basah.
Angin malam menyapu wajahnya pelan, dingin, menusuk dada yang sudah beku sejak keluar kamar tadi.
“Cemburu, kan?”
Kata-kata itu bergaung terus di kepala. Chika kembali ke kamar dan berbaring di kasurnya
Pintu kamar terbuka pelan..
Shani berdiri di ambang pintu, membawa segelas susu hangat. Raut wajahnya tak seperti biasanya—ada khawatir yang dalam.
Sejak pulang dari toko rotinya tadi malam, ia diberi tahu oleh ART bahwa Chika dan Christy bertengkar
Dan dari sore sampai hampir tengah malam, Chika belum keluar kamar. Tak terdengar suara. Tak ada gerakan.
Shani masuk perlahan. Ia tahu... ini bukan sekadar amarah.
Ia duduk di sebelah Chika. Menaruh susu di meja kecil. Tak langsung bicara, hanya diam beberapa detik. Lalu, tangannya terulur—membelai rambut Chika dengan kelembutan yang hanya seorang ibu miliki.
“Sayang...” bisiknya, lembut, serak.
“Kenapa? Cerita sama Mama, ya...”
Chika menunduk, memalingkan wajah. Ia takut. Takut jika satu-satunya orang yang ia andalkan justru tak percaya padanya. Takut, karena Shani adalah salah satu orang yang diam-diam mendukung kedekatan Christy dan Dirga.
Shani menarik Chika dalam pelukannya. Pelan. Hati-hati. Seperti memeluk anak yang baru saja jatuh dan belum tahu seberapa sakit lukanya.
“Mama denger dari bibi, katanya kalian sempat berdebat, ya?”
Suara itu tetap lembut, penuh kasih, tanpa nada menghakimi.
“kak... Mama nggak pilih siapa-siapa. Tapi malam ini... boleh nggak Mama jadi tempat kamu bersandar dulu?”
Tangis Chika pecah tanpa suara. Air matanya mengalir, membasahi pundak ibunya.
Tapi tetap tak ada sepatah kata pun keluar.
Dan Shani tak butuh kata. Ia hanya terus mengusap punggung Chika, berbisik:
“Mama di sini, ya. Selalu.”
Shani menarik selimut, menyelimuti tubuh anak gadisnya. Lalu ia berdiri, membetulkan posisi bantal, menepuk pelan bahu Chika.
“Minum susunya kalau udah tenang, ya. Biar bisa tidur hangat malam ini.”Ia mengusap pipi Chika satu kali, penuh cinta.
“Mama sayang kakak. Apapun yang terjadi.”.
Pagi harinya – di sekolah
Chika tidak tidur semalaman. Matanya merah, kantong matanya gelap.
Ia datang ke sekolah lebih awal dari biasanya, ia berangkat sendiri tanpa CHRISTY. Hanya dengan satu tujuan: menemukan Dirga.
Dan ia menemukannya. Dirga sedang duduk santai di taman depan perpustakaan, tertawa kecil bersama dua temannya. Senyumnya menyebalkan. Seolah tak ada yang salah.
Tanpa pikir panjang, Chika menghampiri. Langkahnya cepat. Nafasnya kasar.
"DIRGA!!!"
Semua kepala menoleh. Dirga mendongak, kaget melihat Chika yang wajahnya penuh amarah.
Chika langsung menarik kerah seragam Dirga. Teman-temannya refleks berdiri, tapi mundur saat melihat tatapan membunuh dari Chika.
“Lo ikut gua sekarang!” bentaknya, menyeret Dirga ke lapangan tengah. Siswa-siswa mulai berkumpul, beberapa berbisik pelan, tapi tak ada yang berani mendekat.
KAMU SEDANG MEMBACA
YANG INDAH? | ch2 (END)
FanfictionDipisahkan sejak bayi, Chika dan Christy kembali bertemu setelah 16 tahun. Bagi Chika, adiknya adalah separuh dirinya, sumber bahagia sekaligus luka terdalam. Chika rela mati-matian menjaga, meski perlindungan itu sering disalahpahami. Christy sayan...
