Bab 97

1.1K 171 49
                                        

Selamat Emosi..
























Mereka nyaris berlari menuju ruang monitor CCTV sekolah. Derap langkah menghentak lantai koridor, napas memburu, dada naik-turun. Cahaya lampu neon yang redup membuat bayangan mereka memanjang di dinding.

Begitu pintu ruang CCTV terbuka, aroma kopi basi dan udara pengap langsung menyeruak. Seorang petugas keamanan duduk di balik meja, memandang mereka dengan alis terangkat.

“Pak… tolong. Kami harus lihat rekaman CCTV tadi siang. Penting,” kata Zean cepat, suaranya seperti menahan ledakan.

Petugas itu hanya menggeleng, nada santainya kontras dengan ketegangan mereka. “Untuk apa? Cctv tidak bisa diakses sembaranganHarus ada surat izin dari kepala sekolah.”

Olla sudah siap membalas, tapi Zean mengangkat tangan, menahannya, lalu ia menarik dompet, menyelipkan beberapa lembar uang di atas meja.

“Pak… ini urgent. Tolong.”

Keheningan singkat. Petugas menatap uang itu, menghela napas panjang, lalu menggeser kursinya.

“Sebentar saja, ya.”

Layar monitor diputar ke arah mereka. Rekaman hitam putih berderit diputar mundur, hingga muncul sosok Dirga berdiri di depan kelas XI IPA 1, menyerahkan helm ke Christy. Gadis itu terlihat ragu sejenak, namun akhirnya menerima.

Potongan berikutnya, di parkiran, Dirga membantu Christy naik ke boncengan motornya. Motor itu melaju keluar, menghilang ke arah selatan.

“Jam berapa itu?” tanya Chika, suaranya pelan namun menegang.

“Jam satu lewat lima belas,” jawab petugas.

Olla melirik jam dinding. “Sekarang udah jam dua lewat dua puluh… mereka udah pergi lebih dari sejam.”

Chika menatap layar itu lagi, seolah berusaha menangkap sesuatu yang terlewat. Nafasnya terdengar, pelan tapi berat.

Rekaman berhenti. Mereka keluar dari ruangan, tapi langkah Chika melambat. Matanya tiba-tiba membesar.

“Tunggu…

”gue kan pernah pasang GPS di HP Christy.”

Dengan tangan bergetar, ia membuka ponsel, mengetik cepat. Titik biru di layar akhirnya muncul sebuah jalan kecil di pinggiran kota. “Ini… di sini,” katanya, menunjukkan ke Zean.

Mobil langsung melaju. Jalanan sepi mereka terobos. Namun saat tiba, hanya ada jalan kosong,

“Ini… lokasi terakhir” gumam Chika, menatap sekeliling.

"Setelah itu handphone nya udah gak aktif lagi"

Hening.

Rasa frustrasi mulai menekan dada mereka.








































• • •
Di sebuah kamar Megah

Kepala Christy terasa berat, nyeri menusuk setiap kali ia bergerak. Matanya perlahan terbuka, menangkap cahaya redup dari ruangan.

Bau lembap bercampur wangi parfum aneh menusuk hidungnya.

Tubuhnya terasa kaku dan lemas, dan saat matanya benar-benar terbuka, ia sadar sedang terikat di sebuah kursi kayu yang dingin dan kasar. Tangan dan kakinya terjerat erat oleh tali yang membuatnya sulit bergerak.

YANG INDAH? | ch2 (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang