Bab 84

1.4K 158 116
                                        

Happy Reading..

























Saat sore menjelang pukul lima, Chika baru saja pulang dari les di sekolah. Bus yang ditumpanginya berhenti di halte dekat rumah, dan ia segera turun, menenteng kotak kue brownies yang baru dibelinya di perjalanan pulang.

Dengan langkah santai, ia berjalan ke arah rumahnya, menikmati angin sejuk yang bertiup pelan. Begitu sampai di depan gerbang tinggi rumahnya, dua satpam yang berjaga langsung membukakan pintu.

"Baru pulang, Non?" tanya salah satu satpam dengan ramah.

Chika mengangguk kecil. "Iya, baru selesai les."

Ia melangkah masuk ke halaman rumah yang luas, melewati taman yang mulai diterangi lampu-lampu kecil di sepanjang jalur setapak. Dalam hati, ia sudah tidak sabar ingin memberikan brownies ini kepada Mama Shani dan Christy.

Namun, langkahnya terhenti begitu melihat pemandangan di teras rumah.

Papa Gracio dan Dirga.

Keduanya sedang duduk di kursi rotan, tampak mengobrol santai. Yang lebih mengejutkan, mereka terlihat cukup akrab-sesuatu yang tidak pernah Chika bayangkan sebelumnya. Sejauh yang ia tahu, papanya selama ini bersikap dingin terhadap Dirga. Tapi sekarang?

Chika sempat berdiri diam di dekat pintu, memperhatikan mereka dari kejauhan. Dirga terlihat mendengarkan dengan penuh perhatian saat Papa Gracio berbicara, lalu sesekali menimpali dengan tawa ringan.

Chika menarik napas dalam sebelum melangkah masuk ke teras rumah. Meski wajahnya tetap tenang, dalam hati ia masih mencerna pemandangan yang baru saja dilihatnya.

"Papa," sapanya singkat begitu sampai di depan Gracio. Dengan sopan, ia menyalami tangan papanya.

Gracio menoleh dan tersenyum tipis. "Kakak dah pulang?"

"Iya, pah..," jawab Chika sambil melirik sekilas ke arah Dirga, yang masih duduk dengan ekspresi santai seolah sudah menjadi bagian dari keluarga.

"Belajar yang bener yaa" ujar Gracio singkat sebelum kembali mengalihkan perhatiannya ke Dirga.

"Jadi, seperti yang om bilang tadi, kalau kamu serius mau mulai bisnis sendiri, yang paling penting itu mindset sama networking. Modal bisa dicari, tapi kalau pola pikirnya salah, bisnis nggak bakal bertahan lama," Gracio melanjutkan obrolannya dengan nada serius.

Dirga mengangguk paham. "Iya, Om. Saya juga setuju. Makanya sekarang saya lagi belajar dari banyak orang, terutama yang udah pengalaman kayak Om Gracio."

Gracio tersenyum bangga. "Bagus, bagus! Anak muda harus punya semangat kayak kamu, Dirga. Jangan cuma mengandalkan teori, tapi langsung praktik di lapangan. Papa suka cara berpikir kamu."

Chika nyaris tersedak udara. "Dirga anjinggg!" batinnya. "Bisa-bisanya dia udah luluhin hati Papa! Sejak kapan sih dia jadi anak emas begini?!"

tidak mau berlama-lama di sana karena hanya melihat wajah Dirga saja sudah membuatnya kesal.

"Pa, Christy di mana?" tanyanya tanpa basa-basi.

YANG INDAH? | ch2 (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang