Happy Reading...
Malam itu, Gracio berdiri di halaman rumahnya sendirian. Hujan turun rintik, menampar wajahnya yang sudah penuh lelah dan air mata. Ia menggenggam ponselnya erat, lalu menekan nomor yang sudah lama tak ia hubungi.
"Cari Leonardo," suaranya serak pada anak buahnya.
"Aku ingin bertemu dengan dia... malam ini juga."
Suara di seberang sempat ragu. "Tapi pak... dia buronan polisi"
"Kerjakan saja!" potong Gracio dengan nada berat. "Aku harus menyelesaikan semua ini."
Beberapa jam kemudian, di sebuah gudang tua pinggiran kota, akhirnya Gracio berdiri berhadapan dengan Leonardo.
Tubuh Leonardo terlihat lebih kurus, matanya merah penuh dendam. Begitu melihat Gracio, tangannya langsung mengepal, langkahnya menghentak maju.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan!" suara Leonardo bergetar menahan amarah. Tangannya merogoh balik jaket, mengeluarkan sebilah pisau yang berkilat dalam cahaya redup. "Saya sudah menunggu saat ini... untuk menghabisi anda dengan tangan saya sendiri!"
Ia mengangkat pisau itu tinggi-tinggi, sorot matanya liar, penuh benci yang dipendam bertahun-tahun. Udara di ruangan seolah membeku, hanya terdengar napas berat Leonardo.
Gracio menunduk, tubuhnya bergetar tapi bukan karena takut. Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan.
"Aku... aku datang bukan untuk melawan, Leo."
Ia maju setapak, tanpa mengangkat tangan untuk menangkis, seolah sengaja membuka dirinya pada tusukan. Suaranya pecah, parau:
"Aku ingin minta maaf. Maaf karena aku sudah Menghancurkan hidupmu, maaf karena aku memperk*sa Rianaq, maaf karena aku kau kehilangan orang yang paling kaucintai. Aku... aku berdosa besar."
Leonardo mendengus, tangannya bergetar makin kuat. "Maaf anda... tidak akan pernah bisa menghidupkan istriku kembali!" teriaknya.
Pisau itu turun, melesat hanya beberapa jengkal dari dada Gracio. Tapi di detik terakhir, Leonardo berhenti. Ujung pisau hanya menempel di dada baju Gracio, menekan kainnya hingga hampir robek. Tangan Leonardo gemetar hebat, napasnya memburu.
Gracio menunduk lebih dalam, wajahnya penuh air mata bercampur hujan yang menetes dari atap bocor gudang.
"jika nyawaku bisa menebus kesalahanku, ambillah, Leo. Aku memang sudah tidak pantas hidup. Tapi biarkan aku menanggung semua ini dulu di dunia. Aku akan menyerahkan diri ke polisi. Aku akan mengakui semuanya."
Leonardo terguncang. Mata merahnya berkedip, tangannya nyaris tak mampu lagi menggenggam pisau. Dendamnya menuntut darah, tapi luka lamanya justru membuat dirinya rapuh.
Tiba-tiba suara sirine polisi meraung dari luar. Lampu merah-biru menembus jendela gudang. Pintu digedor keras, beberapa polisi masuk dengan senjata teracung.
"Leonardo Adijaya! Anda ditangkap atas tuduhan penculikan dan percobaan pembunuhan!"
Leonardo menoleh kaget. Pisau di tangannya terlepas, jatuh beradu dengan lantai basah, suaranya memantul ke seluruh gudang. Semua sudah berakhir.
Gracio berdiri perlahan, menatap polisi dengan mata basah. "Dan saya juga menyerahkan diri. Saya yang membunuh Riana istri dari Leonardo Adijaya tujuh belas tahun lalu. Saya mau bertanggung jawab."
Polisi saling berpandangan, sempat tertegun, lalu memborgol keduanya.
Di bawah deras hujan dan cahaya sirine, dua sahabat lama itu berjalan berdampingan-bukan lagi musuh, bukan lagi saudara. Hanya dua lelaki tua yang akhirnya menyerah pada dosa masing-masing.
• • •
Keesokan harinya, berita itu tersebar cepat.
"Pengusaha Gracio Harlan ditangkap atas kasus pembunuhan istri sahabatnya 17 tahun lalu."
"Leonardo Adijaya resmi ditahan karena penculikan dan penembakan putri Gracio."
KAMU SEDANG MEMBACA
YANG INDAH? | ch2 (END)
Fiksi PenggemarDipisahkan sejak bayi, Chika dan Christy kembali bertemu setelah 16 tahun. Bagi Chika, adiknya adalah separuh dirinya, sumber bahagia sekaligus luka terdalam. Chika rela mati-matian menjaga, meski perlindungan itu sering disalahpahami. Christy sayan...
