Happy Reading..
Hari itu, begitu pulang sekolah, Christy langsung pergi ke Gramedia bersama Marsha, sahabatnya, yang ingin mencari komik terbaru.
Sebelumnya, Chika sudah mengajak Christy jalan setelah pulang sekolah. Tapi Christy bilang, "Aku mau ke Gramedia dulu sama Marsha, tapi cuma sebentar kok. Nanti setelah dari sana aku pasti pulang terus jalan sama Kak Chika!"
Chika pun mengiyakan meskipun sedikit ragu.
Namun, waktu berlalu lebih cepat dari yang Christy sadari. Saat jam menunjukkan pukul 2 siang, Chika mengirim chat:
"Dedek udah selesai di Gramedianya?"
"Aku jemput ya?"
Tapi tidak ada balasan.
Chika menunggu sebentar, lalu akhirnya menelpon. Namun, panggilannya malah langsung di-reject. Tak lama kemudian, sebuah pesan masuk dari Christy:
"Bentar lagi pulang."
"Gaperlu jemput, nanti supir Meng yang anter."
"Jangan telfon dulu ya, Kak."
Chika mengernyit, merasa ada yang aneh, tapi ia mencoba bersabar dan menunggu di rumah.
Namun, hingga jam 4 sore, Christy belum juga pulang. Chika mulai kesal, terutama karena Christy tadi bilang hanya sebentar.
Hingga akhirnya, jam 5 sore, Christy baru sampai di rumah.
Ia langsung mencari Chika ke kamar, tapi tidak menemukannya. Setelah mencari ke beberapa tempat, akhirnya ia melihat Chika di taman belakang rumah, duduk di bangku kayu dengan tangan terlipat di dada dan wajah jelas-jelas bad mood.
Pelan-pelan, Christy mendekat. "Kak Chika..." panggilnya hati-hati.
Chika tidak langsung menoleh, hanya menghela napas panjang.
Christy duduk di sampingnya dan mencoba tersenyum. "Aku pulang..." katanya pelan.
Chika tetap diam.
Christy mulai merasa bersalah. Ia menyentuh lengan kakaknya, berusaha membujuk. "Maaf ya, Kak... Aku nggak sengaja lama..."
Chika akhirnya melirik, ekspresinya masih kesal. "Katanya cuma sebentar?"
Christy menggigit bibirnya. "Iya... awalnya memang cuma sebentar. Tapi Meng lihat-lihat buku lain, terus aku juga jadi ikut liat, terus ngobrol-ngobrol... Nggak kerasa waktunya lewat."
Chika mendengus pelan dan kembali mengalihkan pandangannya. "Ya udah. Sama Marsha aja sana. Temen lebih penting, kan?"
Christy makin panik. Ia buru-buru meraih tangan Chika, menggenggamnya erat. "Bukan gitu, Kak!..."
Chika masih diam, tapi tidak menarik tangannya dari genggaman Christy.
Melihat kata-katanya tidak cukup meluluhkan hati kakaknya, Christy mulai melakukan sesuatu yang lebih manja. Ia menyandarkan kepalanya ke bahu Chika, lalu menggoyang-goyangkan tubuh kakaknya pelan.
"Kak Chika... jangan marah, ya..." bisiknya lembut.
Chika masih berusaha mempertahankan wajah juteknya, tapi bibirnya sedikit bergerak, seakan ingin tersenyum.
KAMU SEDANG MEMBACA
YANG INDAH? | ch2 (END)
FanfictionDipisahkan sejak bayi, Chika dan Christy kembali bertemu setelah 16 tahun. Bagi Chika, adiknya adalah separuh dirinya, sumber bahagia sekaligus luka terdalam. Chika rela mati-matian menjaga, meski perlindungan itu sering disalahpahami. Christy sayan...
