Selamat Membaca..
Halaman Rumah Jojo
"Gua langsung balik ya," pamit Dimas, melangkah menuju mobilnya.
"Iy—" ucapan Christy terpotong.
"Tunggu..." Suara Chika tiba-tiba membuat Dimas berhenti di tempat. Christy menoleh, sama terkejutnya dengan Dimas.
Dimas membalikkan badannya, menatap Chika dengan alis terangkat. Christy pun ikut menunggu kelanjutannya.
"Maaf!.." Ucap Chika akhirnya, meski terdengar sedikit kaku.
Dimas dan Christy sama-sama mengernyit, tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar. Chika—si Chika yang keras kepala dan gengsinya setinggi langit—benar-benar meminta maaf?
"Atas kejadian kemarin siang," lanjut Chika, suaranya lebih pelan tapi mantap. "Gua mengaku salah. Gak seharusnya bertindak tanpa tahu kebenaran, apalagi sampai melakukan kekerasan. Kalaupun ada biaya yang lo keluarin buat obat atau apapun, gua bersedia ganti sebagai bentuk penyesalan. Sekali lagi, maaf."
Dimas menatap Chika sesaat sebelum akhirnya tersenyum simpul, mengangguk pelan. "Iya, gapapa. Lupain aja, udah berlalu juga. Btw, gua gak ngeluarin biaya berobat kok, soalnya Christy sendiri yang obatin."
Chika merasakan darahnya naik ke kepala, tapi ia menahan diri. “Christy sendiri yang obatin”? Batinnya mendidih membayangkan adiknya merawat Dimas dengan perhatian.
"Kemarin lo ngobatinnya telaten banget, gak sakit sama sekali," tambah Dimas, melirik Christy dengan senyum lembut. "Cocok jadi anak PMR."
Christy tertawa kecil. "Ka Dimas bisa aja. Tapi sekarang lukanya udah gak sakit lagi, kan?"
"Aman! Kan lo yang obatin," jawab Dimas santai.
"Songong banget si anj," batin Chika, mati-matian menahan rasa cemburu. Ia bisa membayangkan Dimas modus di UKS, memanfaatkan situasi. Tapi Chika memilih diam, menahan diri agar tak terjebak dalam drama baru. Ia tahu kalau marah sekarang, konsekuensinya bakal di-diemin part dua. Dan itu… lebih menyiksa.
"See u, Kris," pamit Dimas akhirnya, melambaikan tangan sebelum masuk ke mobilnya.
"Hati-hati, Kak Dim!" balas Christy ceria.
Chika langsung melengos masuk ke rumah, mendahului adiknya. Christy cepat-cepat menyusul.
"Kak..." panggil Christy pelan.
"Hm?" Chika berhenti, menoleh dengan ekspresi datar.
Christy menatap kakaknya, lalu tersenyum lembut. Sorot mata Chika yang biasanya tajam kini terlihat sedikit melunak, meski ia masih berusaha memasang wajah cuek.
"Kenapa senyum-senyum?" tanya Chika, menyilangkan tangan di dada.
"Gapapa, aku bangga aja," jawab Christy.
"Cause?"
"Ka Chika rela nurunin gengsi buat minta maaf dan ngakuin kesalahan. Gak semua orang bisa lakuin itu."
Chika mendengus pelan, meski dalam hati ada rasa hangat yang tak bisa ia tolak. "Sebenarnya aku males dek kalo harus ketemu banci itu, tapi aku lakuin buat kamu," batinnya.
"Jadi aku udah dimaafin?" tanya Chika akhirnya, nadanya lebih lembut.
"Kan Kak Dimas bilang gapapa tadi," sahut Christy polos.
KAMU SEDANG MEMBACA
YANG INDAH? | ch2 (END)
FanfictionDipisahkan sejak bayi, Chika dan Christy kembali bertemu setelah 16 tahun. Bagi Chika, adiknya adalah separuh dirinya, sumber bahagia sekaligus luka terdalam. Chika rela mati-matian menjaga, meski perlindungan itu sering disalahpahami. Christy sayan...
