Happy Reading
Christy menatap layar ponsel itu beberapa detik. Ruangan yang tadinya penuh ketegangan dan kehangatan mendadak terasa seperti tersiram air dingin. Tatapan Chika berubah, dari penuh gairah menjadi muram dan… cemas.
Christy menoleh ke arah Chika, masih dalam pelukan ringan itu. “Aku angkat dulu ya,” bisiknya pelan.
Chika tidak menjawab, hanya mengangguk kecil, lalu bangkit dan duduk di sisi tempat tidur, memunggungi Christy. Ia menarik napas pelan, mencoba menetralisir gemuruh yang baru saja memuncak di dadanya.
Christy menggeser diri sedikit dan mengangkat telepon.
“Halo?” suaranya lembut, tapi jelas terdengar canggung.
“Hei… Chris.” Suara Dirga di ujung telepon terdengar biasa saja.
“Kamu udah sampe rumah belum? Aku cuma mau pastiin aja tadi kamu baik-baik aja…”
Christy menoleh sekilas ke arah punggung Chika, lalu mengangguk meski Dirga tak bisa melihat. “Iya… aku baik-baik aja. Kak Chika ajak jalan sebentar.”
“Oh…” Dirga terdiam sejenak. “Yaudah, aku cuma mau bilang… makasih udah balikin hoodie-nya. Dan… kamu cocok pakai itu.”
Christy tersenyum tipis. “Thanks…”
Keheningan menggantung sebentar sebelum Dirga akhirnya menutup percakapan. “Oke deh. Take care ya...”
“Iya, kamu juga.”
Telepon ditutup. Christy meletakkan ponselnya di meja samping tempat tidur. Ia menoleh pada Chika yang masih duduk diam, punggungnya tegak tapi tak lagi setegang tadi.
“Kak…”
Chika tidak langsung menjawab. Hanya bahunya yang naik turun pelan, menahan napas yang entah sejak kapan terasa berat.
Tatapannya kosong menatap layar ponsel yang kini tak lagi menyala. Ia menghela napas, mencoba menenangkan detak jantung yang berdebar cepat entah karena kejadian barusan atau suara panggilan dari nama yang tak ia harapkan.
Christy pelan-pelan duduk, lalu meraih tangan Chika dan menggenggamnya erat. Ia memiringkan kepala, menatap wajah kakaknya yang terlihat mulai tegang dan kaku.
“sayang…” panggilnya lagi tapi kali ini lebih manja.
Chika hanya menoleh sedikit.
Christy lalu menggeser duduknya, hingga kini ia berada persis di samping Chika, lalu melingkarkan tangannya ke pinggang sang kakak dari belakang dan menyandarkan dagunya di bahu Chika.
“Nggak usah mikirin yang barusan ya…” bisiknya lembut, napasnya hangat menyentuh kulit leher Chika.
Chika menutup mata, tubuhnya mulai melunak.
Christy mencium pelan pipi kakaknya dari samping, lalu mengelus tangan Chika dengan ibu jarinya. “Hari ini punya kita berdua… cuma kita. Jangan izinin siapa pun ngambil itu dari kita, ya?”
Chika akhirnya mengangguk pelan.
Christy tersenyum kecil, lalu berputar ke depan Chika, duduk di pangkuannya perlahan. Tangannya naik ke pipi Chika, mengelus dengan lembut. “Aku di sini, Kak. Lihat aku, jangan yang lain.”
Chika menatap mata adiknya—ada kerinduan, ada cinta yang utuh, dan kelembutan yang selalu berhasil menenangkan.
“Boleh?” tanya Christy pelan, jemarinya mengusap pelan bibir Chika, seolah meminta izin.
Chika tak menjawab. Tapi tangannya kini sudah melingkar ke pinggang Christy, menariknya lebih dekat. Napas mereka saling menyatu.
Christy mendekat, mengecup bibir Chika singkat, lalu menggesekkan hidungnya dengan manja ke hidung sang kakak.
KAMU SEDANG MEMBACA
YANG INDAH? | ch2 (END)
FanfictionDipisahkan sejak bayi, Chika dan Christy kembali bertemu setelah 16 tahun. Bagi Chika, adiknya adalah separuh dirinya, sumber bahagia sekaligus luka terdalam. Chika rela mati-matian menjaga, meski perlindungan itu sering disalahpahami. Christy sayan...
