Happy Reading..
Chika mengepalkan tangannya begitu erat hingga kuku-kuku jarinya memutih. Matanya menatap layar ponselnya dengan kemarahan yang hampir meledak.
Mereka pikir bisa mengurung Christy begitu saja?!
Nafasnya memburu. Dadanya naik turun dengan cepat. Otaknya langsung membayangkan berbagai cara untuk menerobos rumah Oma dan Opa.
Gue bisa langsung ke sana sekarang. Nggak peduli ada bodyguard berapa pun, gue bakal dobrak pintu, bikin kekacauan, dan bawa Christy pergi!
Ia bahkan sempat berpikir untuk menyabotase listrik rumah itu, atau melempar batu ke jendela kamar Christy, sekadar memberi tahu bahwa ia ada di sana untuknya.
Tapi kemudian—ia tersentak.
Apa yang gue lakuin?
Ia menggigit bibirnya. Seketika, amarahnya seperti dihantam tamparan keras.
Mengamuk, menyerang, bertindak gegabah? Itu hanya akan memperburuk keadaan. Ia bisa saja benar-benar membuat Christy dalam masalah yang lebih besar. Bisa-bisa Oma dan Opa makin membatasi gerak Christy, makin menjaganya ketat.
Chika meremas rambutnya sendiri, lalu menghembuskan napas kasar.
Oke, gue harus bijak. Gue nggak bisa asal nekat.
Ia menekan nomor pertama di kontak—Papa.
Belum sempat dering kedua berbunyi, telepon sudah diangkat.
"Chika? Ada apa, kak?"
Chika langsung to the point.
"Pah, Oma dan Opa udah keterlaluan! Mereka naruh bodyguard buat ngawasin Christy!"
Ada jeda sejenak sebelum Papa menjawab, suaranya dalam dan serius. "Apa?"
Chika bisa mendengar nada tidak percaya dalam suara Papanya.
"Christy nggak bisa dihubungi dari pagi! Nomornya nggak aktif, chat kakak nggak dibaca, terus temennya bilang dia kayak dikurung di rumah itu! Papa masih bisa diem aja?"
Dari seberang telepon, ada suara langkah kaki tergesa-gesa. Lalu suara Mama menyusul. "Kakak, tenang dulu. Maksudnya Oma dan Opa benar-benar buat pengawal untuk Christy?"
"IYA, MA! Dan Christy makin dikekang!"
Chika bisa merasakan amarahnya kembali mendidih. Tapi kali ini, bukan hanya dirinya.
"Papa bakal urus ini," suara Gracio terdengar dingin dan tajam. "Pulang ke Rumah dulu. Jangan bertindak sendiri."
"Papa, kita harus cepet—"
"Pulang ke Rumah, Chika."
Tut. Telepon terputus.
Chika mendesis kesal, tapi ia tahu Papa pasti akan segera bergerak.
Namun, ia tetap belum puas. Ia butuh seseorang yang bisa diajak diskusi sekarang juga.
Jadi, ia menelepon Zean.
Dering pertama. Kedua. Ketiga.
"Ha, napa dek?"
"Bang, lo nggak bakal percaya ini," Chika langsung bicara tanpa basa-basi. "Oma dan Opa naruh bodyguard buat ngawasin Christy. Dia nggak bisa dihubungi dari tadi pagi!"
Dari seberang telepon, Zean menghela napas panjang. "Sialan... Gue baru pulang kuliah, Chik. Ini gila sih."
"Apa kita harus langsung jemput dia?"
KAMU SEDANG MEMBACA
YANG INDAH? | ch2 (END)
FanfictionDipisahkan sejak bayi, Chika dan Christy kembali bertemu setelah 16 tahun. Bagi Chika, adiknya adalah separuh dirinya, sumber bahagia sekaligus luka terdalam. Chika rela mati-matian menjaga, meski perlindungan itu sering disalahpahami. Christy sayan...
