Bab 92

1.8K 178 98
                                        

Happy Reading..












Masih di apartemen Zean.

Shani sibuk di dapur kecil, menyiapkan sarapan seadanya. Zean duduk di kursi memperhatikan mereka bertiga

Chika masih di sofa, berselimut. Rambutnya acak-acakan, mata sembab, wajah lesu.

Mama Shani meletakkan semangkuk bubur hangat di meja, lalu mendekat ke arah Chika sambil membawa sendok kecil yang telah diisi.

"Makan dulu ya, sayang..." ucapnya pelan, menyodorkan sendok berisi bubur ke arah Chika.

Chika hanya menoleh sebentar. Tatapannya kosong. Lalu ia menggeleng pelan.

Shani menarik napas lembut. "kakk, tubuh kamu belum pulih..."

Zean akhirnya angkat suara, nadanya sedikit lebih tegas. "Makan, Chik! Semalam lu muntah dua kali dan sempet menggigil parah. Mama gak tidur semalaman..."

Chika diam. Matanya menatap ke bawah. Selimut ditarik lebih erat ke tubuhnya, seolah menjadi perisai.

Shani menurunkan sendok. "Kalo kamu terus kayak gini, kapan sembuhnya, sayanggg..."

Christy menatapnya, lalu mendekat perlahan. Suaranya tenang tapi dingin."Boleh marah... Tapi jangan nyakitin diri sendiri."

Chika mendongak pelan. Mata mereka bertemu.

"Gue gak nyakitin diri..." ucapnya pelan, datar. "Gue cuma lagi belajar ngerasain... gimana rasanya sendiri."

Christy terdiam. Kata-kata itu seperti selapis kabut dingin yang menutup ruangan.

"Lo gak perlu khawatir," lanjut Chika. "Gue kuat. Cuma... kadang gue pengen tau, apa rasanya kalau orang yang paling gue percaya... ngeraguin gue juga."

Christy tak langsung menjawab.

"Gue gak butuh dikasihani," lanjut Chika. "Kalo lo ke sini cuma buat nebus rasa bersalah... yaudah. Misi lu selesai."

Christy menarik napas, menahan emosi. "Aku ke sini karena aku peduli ka.."

Chika menatapnya datar. "Peduli, tapi gak percaya?"

"Aku cuma... butuh waktu"

Chika tertawa kecil. Bukan senang. Dingin.

"Waktu buat apa? Nunggu Dirga kasih klarifikasi?"

Christy memijit pelipisnya, lalu menatap Chika dalam.

"Aku gak belain siapa-siapa. Tapi kamu nyerang dia. Di depan orang-orang sampai Babak belur."

Ia menambahkan pelan, tapi tegas, "Kamu pikir itu bikin semua orang langsung bisa membenarkan tindakan kamu?"

Chika diam. Bahunya tegang. Tapi matanya tetap menatap Christy.

"Gue mukul dia karena gak ada lagi yang bisa gue lakuin biar lo dengerin gue," ucap Chika pelan.

"tiap kali gue ngomong, lo malah belain dia. Diam lo itu lebih nyakitin daripada semua kata."

Christy menggeleng pelan. "Tapi kamu tetap salah, Kak. Sekuat apa pun alasannya... nyakitin orang gak pernah jadi jawaban."

"Lo ngeliatnya dari luar. Lo gak tahu apa yang dia lagi rencanain, ke lo. Gue cuma bereaksi."

"Kamu bereaksi, tapi tanpa kendali," balas Christy. "Dan itu yang bikin aku takut."

Chika tertunduk. Tapi bibirnya tetap bergerak. "Jadi lo takut sama gue sekarang?"

"Bukan takut, Kak... kecewa."

Sunyi.

Chika menarik napas panjang, lalu menghela pelan.

YANG INDAH? | ch2 (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang