Happy Reading
Lampu jalan yang temaram memantulkan bayangan panjang motor Dirga yang berhenti di area kosong, jauh dari keramaian. Ia duduk sendiri di atas motornya, helm sudah dilepas dan ditaruh di tangki. Udara malam dingin, tapi kegeraman di matanya lebih menusuk dari angin apa pun.
Ponselnya berdering. Ia langsung menjawab tanpa melihat layar.
Tut. Klik.
"Lakukan besok," suara berat dari seberang terdengar dingin, tanpa emosi. "Aku sudah tidak sabar melihat Gracio menderita."
Dirga menarik napas panjang sebelum menjawab, nada suaranya datar tapi berisi peringatan.
"Jangan terburu-buru. Gue belum jadian sama dia."
Suara di seberang terdengar kesal. "Berapa lama lagi? Kita gak bisa terus nungguin kamu pacaran, Dirga. Ini rencana besar. Kalau perlu, kita pakai Plan B."
Dirga mengepalkan tangannya. Suara mesin motor yang masih menyala pelan seakan ikut menegangkan atmosfer.
"Gue bilang sabar!" katanya keras. "Cewek ini beda. Gue harus bikin dia percaya penuh dulu. Sekali dia lengah, semuanya selesai. Rencana lo bakal jalan, dan Gracio bakal nyembah di kaki lo."
Suara di seberang hening sejenak. Lalu terdengar pelan, tapi menyelidik menusuk.
"Kamu gunakan perasaan ke dia?"
Dirga langsung mendengus, wajahnya menegang. Tatapannya mengarah ke jalan kosong di depannya, tapi pikirannya mengeras seperti baja.
"Gue gak pernah make rasa ke anak pembunuh." Hardik Dirga, suaranya dingin dan penuh dendam.
"Semua yang gue lakuin, karena dia anak Gracio. Titik."
Pria di seberang tertawa kecil, tapi tak ada tawa di baliknya. Lebih mirip nada sinis dari seseorang yang sedang menguji kesetiaan.
"Bagus. Karena kalau sampai kamu jatuh hati, Dirga... Kamu bukan lagi anak ku"
Klik. Panggilan terputus.
Dirga menatap layar ponselnya yang kini gelap. Lalu ia mendongak, menatap langit malam yang kosong, sebelum mendesis pelan.
Matanya kini merah, bukan karena angin malam, tapi karena dendam yang telah membusuk terlalu lama.
"Gracio Harlan..." ucapnya, dengan tatapan penuh kebencian yang menyala seperti bara.
Ia menghidupkan gas motor perlahan.
"Anak lo bakal jadi tiket kehancuran lo sendiri."
Pagi hari ☀
Mobil kecil berwarna abu-abu memasuki halaman rumah keluarga harlan. Olla dan Adel turun. keduanya saling bertukar pandang sebelum menekan bel pintu.
Ting, nung.
Pintu dibuka oleh salah satu asisten rumah tangga.
"Silakan masuk, Bu Shani sudah nunggu,” ujarnya ramah.
Mereka masuk ke dalam, dan benar saja, Shani sudah berdiri di ruang tamu.
“Pagi, Tante,” sapa Adel lebih dulu, sopan.
“Pagi, Tante Shani,” sambung Olla.
Shani mengangguk, tersenyum lelah. “Makasih ya kalian udah datang pagi-pagi gini…”
KAMU SEDANG MEMBACA
YANG INDAH? | ch2 (END)
FanfictionDipisahkan sejak bayi, Chika dan Christy kembali bertemu setelah 16 tahun. Bagi Chika, adiknya adalah separuh dirinya, sumber bahagia sekaligus luka terdalam. Chika rela mati-matian menjaga, meski perlindungan itu sering disalahpahami. Christy sayan...
