.
.
.
.
.
.
.
Lanjut..
Klik!
“Mas?” suara Shani terdengar dari arah pintu.
Gracio menoleh cepat. “Shan?” suaranya terkejut.
Shani melangkah masuk, membawa kotak roti dan termos kecil di tangan.
“Ngapain kamu ke sini?!” tanya Shani tegas, matanya menusuk Gracio.
“mau jemput Chika,” jawab Gracio singkat, masih menahan emosi. “Dia udah bolos les beberapa kali. Kamu tahu itu, kan?”
“Gila ya kamu, Mas…” suara Shani mulai meninggi. “Kamu datang ke sini, teriak-teriak, maksa dia pulang buat apa? Les?”
Gracio mengernyit. “Shan, kamu tahu kita udah bayar mahal buat bimbel. Kalau dia terus kabur kayak gini, gimana bisa dia keterima kuliah di Jepang?!”
“Mas, Chika itu PUTRI kamu. Dia anak kita!” Shani meletakkan kotak roti di meja dengan suara keras. “Fisik dan mentalnya lagi sakit. Dan kamu datang-datang, malah maksa dia les??”
Gracio mendengus. “Dia sakit karena cemburu. Kamu gak lihat itu? Dia gak terima adiknya deket sama cowok. Cuma itu. Drama remaja.”
Shani menatapnya seperti melihat orang asing. “Kamu beneran gak punya hati, ya, Mas?”
Gracio tidak memperdulikan istrinya
“CHIKA!” suara Gracio meninggi lagi. “Ayo pulang!”gracio mendekat hendak meraih lengan putrinya
Zean langsung berdiri menghadang Gracio yang hendak menarik paksa lengan Chika. Tubuhnya jadi tameng
“jangan lancang, pah!!” bentak Zean
Gracio tertegun sesaat, lalu tatapannya mengeras. “Kalau kamu masih makan, tinggal dan sekolah dari duit Papa, jangan kurang ajar!”
Zean menggertakkan giginya. “Lebih baik aku kelaparan daripada hidup dari uang yang bikin kita menderita!”
“Dasar anak kurang ajar!” Gracio maju selangkah. “Semua ini gara-gara kamu shani!"Gracio menunjuk wajah Shani
"Kamu racunin pikiran anak2! Kamu bikin zean jadi cowok pembangkang!”
Mata zean membelalak. Dan...
BUGH!
Tinju Zean mendarat keras di rahang Gracio.
Gracio terdorong mundur tapi langsung membalas
bug!
tinju balasannya mengenai pelipis Zean.
“Jangan Bawa Mama Dalam Omongan Kotor Papa!!!!” Zean meraung, lalu melayangkan pukulan lagi ke perut Gracio, membuat pria itu terbungkuk.
Gracio mendorongnya ke tembok, memiting leher baju Zean. “Kamu pikir kamu jagoan sekarang, hah?!”
Zean membalas dengan siku ke dada Gracio. Mereka jatuh ke lantai, saling hantam. tinju, dorongan, makian bercampur napas memburu.
"Durhaka kamu zean!”
“Aku Gapapa Dibilang Durhaka! Kalo Durhaka Sama Orang Tua Kaya Papa !!” Zean berteriak sambil melepaskan dirinya.
Shani menjerit, “Zean, cukup! Gracio!! Berhenti!!” melerai keduanya
Gracio mengusap darah di sudut bibirnya, napasnya berat. Matanya menatap Zean penuh benci.
“Sakit jiwa…!” desisnya pelan, tapi tajam. “Kalian semua... sakit jiwa kayak mamamu!”
KAMU SEDANG MEMBACA
YANG INDAH? | ch2 (END)
FanfictionDipisahkan sejak bayi, Chika dan Christy kembali bertemu setelah 16 tahun. Bagi Chika, adiknya adalah separuh dirinya, sumber bahagia sekaligus luka terdalam. Chika rela mati-matian menjaga, meski perlindungan itu sering disalahpahami. Christy sayan...
