Bab 9

2.9K 177 0
                                        

Selamat Membaca





























Pagi yang Cerah di Sekolah

"Selamat pagi sahabat-sahabat terkasihkuuu!" sapa Chika dengan senyum manis yang jarang terlihat di wajahnya.

Adel, yang baru saja menaruh tas di bangkunya, langsung memandang Chika dengan alis terangkat. "Dih! Kesambet apa lo?" tanyanya sambil menyentuh dahi Chika dengan punggung tangan, seolah-olah memeriksa suhu tubuhnya.

Chika pura-pura cemberut, lalu menatap Adel dengan ekspresi dramatis. "Salah ya nyapa sahabat sendiri? Padahal itu kan salah satu bentuk kecintaan gue terhadap lo, Dell," katanya sambil mengerucutkan bibir.

Adel meringis jijik, pura-pura mau muntah. "Ada plastik nggak? Mual! Huek!" katanya sambil meraup wajah Chika.

"Sok imut. Najis, geli anjing," sahut Flora dari bangku belakang, membuat Oniel dan Olla tertawa terbahak-bahak.

Tapi keanehan Chika pagi itu nggak berhenti di situ. Sepanjang pelajaran, senyumnya nggak pernah pudar. Teman-temannya saling pandang, heran melihat Chika yang biasanya cuek dan tomboy, kini mendadak penuh semangat.

"Si Jambul kenapa dah?" bisik Flora sambil melirik Chika yang masih tersenyum di bangkunya.

"Iya, jir. Dari tadi senyum-senyum bae," timpal Oniel.

"Seneng dia, nanti nganter Christy pulang," ujar Olla, sambil mengedipkan mata ke arah Adel.

"Ternyata bahagianya si Jambul sederhana banget ya… cukup jalan bareng adeknya," tambah Adel sambil tertawa.

"Hooh… Christy itu bahagianya dia," gumam Flora, membuat semua kembali tertawa.

Istirahat Kedua

Di koridor lantai dua, Christy sedang berjalan bersama Ella menuju kantin ketika tiba-tiba Ella menepuk bahunya.

"Kak… Kak Christyyy," panggil Ella dengan nada cemas.

"Apa, El?" Christy berhenti dan menoleh.

"Udah baca grup belum?" tanya Ella.

"Belum. Kenapa emang?" Christy merogoh ponselnya dari saku, membuka aplikasi WhatsApp, dan membaca pesan yang baru masuk.

"Hari ini?" tanya Christy memastikan.

"Iya, Kak. Sepulang sekolah," jawab Ella.

"Dadakan banget," gumam Christy, wajahnya berubah cemas.

"Tau nih, ketua OSIS-nya perginya nanti, tapi baru diinfoin barusan," keluh Ella.

Christy terdiam, pikirannya langsung teringat pada janji yang sudah dibuat dengan Chika. Aduh, Kak Chika pasti kecewa…

Akhir Pelajaran

Kring… Kring… Kring…

Bel tanda berakhirnya pelajaran berbunyi nyaring. Para siswa-siswi segera membereskan alat tulis dan bersiap meninggalkan kelas. Chika, yang dari tadi sudah nggak sabar, langsung berdiri.

"Guys, gue duluan ya. Mau jemput Tuan Putri," ucapnya pada geng Gacor sambil meraih tasnya.

"Buru-buru banget, elah… Iyadeh, si paling punya adik," celetuk Oniel sambil tertawa.

Chika keluar kelas dengan langkah ringan menuju kelas XI-2. Tapi saat sampai di depan kelas, senyumnya perlahan memudar. Di sana sudah ada Gita, Ella, Rehan, dan… Dimas. Mereka terlihat seperti sedang menunggu seseorang.

Les terakhir di kelas XI-2 diajar oleh Bu Kinal, guru yang terkenal galak. Bahkan suara bel pun nggak mampu menghentikan ceramah panjangnya. Chika menunggu sebentar, berharap kelas segera bubar.

"Hai, Kak Chika," sapa Ella sambil melambaikan tangan.

"Hai… Kalian ngumpul di sini ngapain?" tanya Chika, merasa ada yang nggak beres.

"Lagi nunggu Christy. Kita ada janji mau ngerjain tugas OSIS hari ini," jawab Rehan.

Chika mengernyit. "Lho, gue juga mau jemput Christy. Dia udah janji hari ini mau balik sama gue."

Wajah Dimas berubah datar. "Waduh… Pulang barengnya ditunda dulu deh, Chik. Ini lebih penting soalnya," katanya.

Chika menatap Dimas tajam. "Tapi kita udah buat janji dari kemarin!!" Nada suaranya mulai meninggi.

"Dia nggak bisa ninggalin kewajiban," jawab Dimas tenang, tapi nadanya seolah-olah menegaskan bahwa urusan OSIS lebih penting daripada sekadar janji dengan kakaknya sendiri.

Sebelum Chika sempat membalas, Bu Kinal keluar dari kelas, diikuti oleh para murid, termasuk Christy dan teman-temannya.

"Christy…" panggil Chika dengan sorot mata yang penuh pertanyaan.

Christy berjalan mendekat. "Kak… Kalian ke mobil duluan ya, nanti aku nyusul," katanya pada kakak-kakak OSIS-nya, lalu menoleh ke Chika.

Setelah mereka pergi, Chika menatap adiknya dengan kecewa. "Kamu nggak bilang sih, Dek, ada janji sama mereka?"

"Kak, maaf… Ini juga dadakan banget," jawab Christy pelan. "Tadi pas istirahat kedua aku mau ngasih tau kamu, tapi kamunya nggak ketemu, jadi aku kasih tau lewat chat aja. Kakak nggak baca ya?"

"HP aku mati," jawab Chika singkat.

Christy menggenggam tangan Chika erat-erat. "Aku benar-benar minta maaf, Kak…"

Chika menghela napas panjang. Dia kecewa, tapi dia nggak bisa egois. Hidup Christy bukan cuma tentang dirinya. Adiknya itu punya kewajiban lain yang nggak bisa diabaikan.

"Gapapa, sayang… Jangan merasa bersalah terus. Kapan-kapan kan bisa, hari lain masih banyak, Dek," katanya sambil menyelipkan anak rambut Christy ke belakang telinga.

"Udah sana, ditungguin tuh sama mereka," lanjutnya.

Christy mengangguk, lalu mendekatkan wajahnya dan mencium pipi Chika dua kali. Muach! Muach!

"Makasih ya udah ngerti. Bye, Kak Chika sayang!" katanya sambil melambaikan tangan sebelum berlari kecil menyusul regu OSIS.

Chika hanya bisa mengulum senyum melihat punggung Christy yang perlahan menghilang dari pandangan. Tapi jauh di lubuk hatinya, ada rasa sepi yang nggak bisa diabaikan.

Gerbang Sekolah

Saat Chika sampai di gerbang, dia melihat geng Gacor masih berdiri di sana.

"Lo pada ngapain masih di sini?" tanya Chika heran.

"Mobil Olla ngambek," jawab Adel, mengangkat bahu.

"Bareng gue aja lah," tawar Chika, berusaha terdengar santai.

"Christy-nya mana?" tanya Olla penasaran.

"Gak jadi," jawab Chika singkat.

"Hah?! Kok bisa?" tanya mereka serentak.

"Dia ada urusan lain," jawab Chika sambil membuka pintu mobil.

Flora, seperti biasa, nggak bisa melewatkan momen untuk komentar. "Makanya kalo seneng tuh jangan berlebihan. Siapa tau sebentar doang," katanya dengan nada dramatis.

Chika hanya tertawa kecil, meskipun hatinya terasa kosong. Dia tahu, hari ini bukan hari terakhir mereka bisa pulang bareng. Tapi tetap saja, ada sesuatu yang terasa berbeda








Terimakasih sudah Baca

YANG INDAH? | ch2 (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang