Bab 100

1.9K 209 167
                                        

Selamat Membaca...


































Lorong rumah sakit dipenuhi aroma obat dan suara monitor jantung yang menusuk telinga. Christy masih terduduk di kursi tunggu, wajahnya pucat, tubuhnya gemetar tak terkendali. Tangannya tak lepas menggenggam ujung baju Marsha, seperti anak kecil yang takut ditinggalkan.

Pintu lorong terbuka keras. Mama Shani dan Papa Gracio masuk terburu-buru, wajah mereka panik.

"Mana Chika?! Gimana keadaannya?!" tanya Shani tergesa, matanya liar mencari jawaban.

Zean yang baru keluar dari ruang dokter menunduk sebentar, lalu membuka suara. "Chika di dalem, Ma.. Lagi ditangani dokter"

Belum sempat suasana sedikit tenang, suara Gracio langsung memecah udara.

"Zean!"

"sudah kukatakan chika sebaiknya pulang kerumah tapi kau menghalangi

Shani menahan, tapi Gracio tak berhenti.

"Dan sekarang.. Liat yang terjadi?!!!Chika celakan kan?

-Bugh!!

Tinju Zean mendarat keras di wajah Gracio. Semua orang di lorong terperanjat.

Napas Zean memburu, matanya basah, tapi suaranya penuh api. "JANGAN NYALAHIN AKU! Semua ini karena MASA LALU PAPA!"

Gracio terhuyung, menatap putra sulungnya dengan wajah terkejut. "Apa... maksudmu?"

Zean maju selangkah, suara seraknya pecah. "Chika tertembak oleh Leonardo... dan Christy hampir DIPERK*SA sama Dirga"

"DIRGA ANAKNYA LEONARDO PAH!!!!"

Lorong hening. Kata-kata itu menampar semua orang. Shani langsung menutup mulutnya dengan tangan, menahan isak yang hampir pecah.

Christy yang sejak tadi terdiam mulai histeris. "Hiks Jangan... jangan sebut nama itu... jangan biarin dia deket aku lagi... hiks... dedek kotor, Ma... dedek kotor!!" Tubuhnya bergetar keras, air matanya tumpah tanpa bisa dikendalikan.

Shani buru-buru meraih putri bungsunya, memeluk erat tubuh mungil itu. "Ssshh, sayang nggak ada yang kotor di kamu, kamu nggak salah apa-apa. Mama di sini, Mama jagain dedek" bisiknya, meski matanya sendiri berlinang kebingungan dan rasa takut.

Zean menatap Gracio tajam, dadanya naik turun.
"Puas, Pa?"

"Semua ini nggak akan terjadi kalau Papa nggak ninggalin luka di masa lalu. Leonardo Adijaya... dia balik buat balas dendam. Dan yang Papa lakukan sama Riana... itu jadi pemicu semuanya."

Wajah Gracio seketika memucat. Nama itu menghantam kepalanya seperti palu. Riana... Kenangan lama muncul malam ketika penuh ambisi, menodai Riana. Hal yang selalu coba ia kubur dalam-dalam. Dan Leonardo... sahabat yang berubah jadi musuh.

Gracio tertegun, langkahnya goyah. Mendengar nama Dirga, ia makin hancur. Putra dari leo hampir merenggut kesucian putrinya. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

"Tuhan... Apa yang sudah aku lakukan..." suaranya nyaris tak terdengar.

Shani mendongak, matanya merah penuh tanya. "Apa yang kamu sembunyikan dari aku, mas? Apa yang sebenarnya kamu lakukan di masa lalu?!"

Gracio hanya terdiam, Suara tangisan Christy yang masih bergetar di pelukan Shani terdengar begitu pilu, membuat hati gracio hancur berkeping-keping

Zean menutup matanya rapat-rapat, menahan emosi yang hampir meledak lagi. "Semua dosa Papa malah kita yang tanggung!"

YANG INDAH? | ch2 (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang