Bab 32

3.2K 199 49
                                        

Selamat Membaca..
































05.30 AM

Pagi itu di kamar Yessica Tamara, suasana masih terasa sepi dengan cahaya matahari yang baru mulai mengintip dari balik jendela. Christy duduk di tepi ranjang, menyuapi bubur hangat ke mulut Chika yang masih terlihat lemas.

"Baru tiga suap masa udah," keluh Christy, mencoba bersabar.

Chika menggeleng pelan, wajahnya menunjukkan rasa enggan. "Kenyang," jawabnya singkat.

"Satu suap lagi, aaaa..." Christy mendekatkan sendok ke bibir Chika, berusaha membujuk.

Namun Chika tetap menggeleng, menolak dengan halus.

"Gak enak ya bubur buatan aku?" Christy memasang wajah sedih yang jelas dibuat-buat, bibirnya manyun seperti anak kecil.

Chika tersenyum tipis, berusaha meyakinkan adiknya. "Enak... enak banget malah."

"Terus kenapa cuma makan tiga suap? Berarti nggak enak dong," balas Christy, masih dengan nada merajuk.

Chika menarik napas pelan, lalu memegang tangan Christy dengan lembut. "Kenyang, Dek... Takutnya nanti malah muntah. Aku nggak mau ngerepotin kamu," katanya dengan suara serak.

Christy terdiam sejenak, lalu menggeser bubur ke samping dan mengambil obat dari meja kecil di samping ranjang. "Yaudah, sekarang minum obatnya dulu," ucapnya serius.

Melihat perubahan ekspresi Christy yang jadi lebih serius dan sedikit sedih, Chika merasa bersalah. Dia tahu adiknya sudah berusaha keras merawatnya.

"Aku mau makan buburnya lagi... aaa," ucap Chika tiba-tiba, mencoba terdengar bersemangat.

Christy mengerutkan alisnya, tahu betul Chika hanya pura-pura. "Tadi katanya kenyang..."

Chika memasang wajah memohon. "Aku masih laper, Dek. Sini, suapin lagi," pintanya manja.

Christy menghela napas, lalu tersenyum kecil. "Aku tahu Kak Chika terpaksa karena takut aku sedih. Aku nggak apa-apa kok. Aku tahu rasanya kalau sakit, makan bubur pasti bikin mual."

Chika menatap Christy, matanya berkaca-kaca karena merasa bersalah telah membuat adiknya khawatir.

Christy menyerahkan obat ke tangan Chika. "Nih, minum dulu, ya."

Tanpa membantah, Chika mengambil obat itu dan langsung menelannya dengan air putih yang disodorkan Christy.

"Aku taro ini ke bawah dulu, Kak. Kak Chika istirahat, ya," kata Christy sambil mulai berdiri, membawa mangkuk bubur yang belum habis.

"Naronya nanti aja, kamu istirahat juga. Semalam tidurnya kurang, kan?" Chika mencoba menahan.

Christy menggeleng pelan. "Kalau aku ikut tidur, takut kebablasan. Soalnya mau sekolah."

Chika mengerucutkan bibir, matanya mulai berkaca-kaca. "Kalau kamu sekolah, aku sama siapa?"

"Kan ada Mama. Aku sekolahnya juga cuma sampai siang," balas Christy, mencoba menenangkan.

Tapi Chika semakin terlihat sedih. Suaranya mulai bergetar. "Aku maunya sama kamu..."

"Kak..." Christy mendekat, memegang pipi Chika dengan lembut.

"Aku nggak mau ditinggal, Dek," rengek Chika, suaranya seperti anak kecil yang takut ditinggalkan.

Christy menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan air matanya sendiri. "Kan nanti aku balik lagi. Aku janji habis sekolah langsung pulang, nggak ikut kegiatan OSIS dulu."

YANG INDAH? | ch2 (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang