Happy Reading...
.
"Kenapa? Gasuka, ya?" bisiknya menggoda
Christy menelan ludah, tubuhnya semakin lemas di dalam pelukan Chika. "Bukan... tapi..." suaranya nyaris tak terdengar, sementara pipinya terasa semakin panas.
Chika terkekeh pelan, lalu menyandarkan dagunya di bahu Christy, bibirnya begitu dekat dengan telinga adiknya.
"Tapi apa? Sayang?" bisiknya
Christy menggigit bibirnya, mencoba mengumpulkan fokus yang sempat hilang. Dengan suara pelan, ia akhirnya berkata,
"Tapi... Mama Papa nungguin kita di mobil... Kasian mereka nunggu kelamaan..."
Chika langsung terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang dengan berat hati. Ia memang enggan mengakhiri momen ini, tapi ia juga tahu Christy benar.
"...Iya, iya," gumamnya, masih terdengar sedikit enggan. Namun, sebelum benar-benar melepas pelukannya, ia mengecup punggung Christy sekali lagi, seolah memberi tanda bahwa ia belum rela melepaskan gadis itu sepenuhnya.
Baru setelahnya ia menarik diri perlahan, lalu mengusap lembut kepala Christy sebelum akhirnya menggenggam tangannya.
"yuk turun, sebelum Papa naik ke atas buat nyeret kita," ucapnya dengan nada bercanda, meski masih ada sedikit ketidakrelaan dalam matanya.
Christy hanya terkekeh kecil, membiarkan Chika menggenggam tangannya erat saat mereka berjalan keluar kamar. Ia bisa merasakan kehangatan jemari kakaknya yang masih tertinggal di kulitnya-sesuatu yang membuatnya tersenyum tanpa sadar.
>>>>
Chika dan Christy berdiri di atas tangga. Christy hendak melangkah lebih dulu.
Tapi tiba-tiba chika mengangkat tubuhnya dengan mudah dan memposisikannya di gendongan ala koala-tangan Christy melingkar erat di leher Chika, sementara kakinya otomatis mencengkeram pinggang kakaknya.
Christy tersentak, pipinya langsung memanas. "Kamu kenapa tiba-tiba-"
Chika tersenyum kecil, menatap Christy dengan tatapan penuh kasih. "aku gendong biar kamu nggak capek jalannya.."
Christy mengerucutkan bibirnya. "Aku masih kuat jalan sendiri, tauu."
Chika tak menjawab ia mengeratkan genggaman tangannya di bawah pahanya, memastikan tubuh Christy tetap melekat erat padanya.
"Kak, ih... jangan gini di luar." Christy berbisik pelan, wajahnya disembunyikan di bahu Chika.
Chika terkikik, lalu menempelkan dagunya di bahu Christy, membiarkan napas hangatnya menyapu lembut telinga adiknya. "Nggak suka?"
Christy menggigit bibirnya, tangannya semakin erat menggenggam leher Chika.
"...Bukan gitu."
Chika tersenyum penuh kemenangan. "Berarti suka?"
KAMU SEDANG MEMBACA
YANG INDAH? | ch2 (END)
FanfictionDipisahkan sejak bayi, Chika dan Christy kembali bertemu setelah 16 tahun. Bagi Chika, adiknya adalah separuh dirinya, sumber bahagia sekaligus luka terdalam. Chika rela mati-matian menjaga, meski perlindungan itu sering disalahpahami. Christy sayan...
