Selamat Membaca..
Sinar matahari pagi menyelinap malu-malu lewat celah tirai, menari lembut di atas kulit Chika yang masih tertidur. Ia mengerjapkan mata perlahan.
Kepalanya masih berat, tubuhnya pegal. Tapi ada sesuatu yang...
hangat...
empuk...
dan wangi.
Pipinya bersandar di sesuatu yang lembut. Lalu ia menyadari: itu dada seseorang.
Saat ia mengangkat kepala pelan, jantungnya langsung melonjak.
Christy.
Gadis itu tertidur sambil memeluknya erat, satu tangan memeluk pinggang Chika, tangan lainnya menelusuri rambutnya perlahan, bahkan dalam tidur.
Chika kaget! membeku. "Apa ini mimpi?" Bantuin nya
Hangat tubuh itu seperti magnet. Ia mencoba bergerak perlahan untuk menjauh, tapi tiba-tiba
"Bobo lagi, sayang..." bisik Christy, matanya masih terpejam. Tangan di punggung Chika semakin mengerat, menarik tubuhnya lebih dekat lagi.
"Lepasin gue!" gumam Chika pelan, setengah berbisik, tapi suaranya lemah seperti orang yang bahkan tak yakin dengan amarahnya sendiri.
Christy membuka mata perlahan. Tatapan sayangnya langsung tertuju pada Chika. Ia tidak langsung menjawab. Hanya mengangkat tangannya... dan menyentuh pipi Chika dengan punggung jari, mengelusnya lembut, lalu turun ke dagu... lalu naik ke pelipis
Chika memalingkan wajah, wajahnya merah padam seperti kepiting rebus. Tapi ia tidak menjauh.
"ngapalin lu disini ?!" tanya Chika gugup, nada "lu-gue"-nya terdengar canggung-seolah sedang membangun benteng.
Cup!
sebuah kecupan lembut mendarat di bibir Chika.
Chika menahan napas. Tangannya mengepal, tapi tak mendorong. Ia hanya membeku, pipinya makin merah, dan jantungnya berdetak tak karuan
Muach.
dalam, perlahan. Bibir mereka bersentuhan cukup lama untuk membuat tubuh Chika kehilangan kekuatan.
setelah ciuman itu terlepas..
"Panjang ceritanya.." bisik Christy, suaranya serak dan manja
Chika menutup mata. Ia ingin marah. Tapi sentuhan itu... kelembutan itu... membuatnya runtuh. Ia pun pasrah, menyandarkan kepala ke dada adiknya, diam, dengan pipi masih membara.
Christy memeluknya erat, satu tangan mengelus lembut punggung Chika naik turun, sementara tangan lainnya tak henti membelai rambutnya.
Beberapa saat berlalu dalam hening, hanya suara napas mereka yang saling mengisi.
Flashback (Beberapa jam sebelum pagi)
Di ruang tengah rumah, Christy duduk gelisah dengan kepala bersandar di bahu Mama Shani. Televisi menyala tapi tak ada yang benar-benar ditonton. Wajah Shani tegang, matanya terus melirik layar ponsel.
Sudah lewat tengah malam.
Christy meremas jemarinya sendiri. "Ma... Papa kenapa gak kabarin lagi ya? Aku... aku takut Kak Chika kenapa-kenapa..."
Shani membelai kepala anak bungsunya. "Mama juga cemas, sayang. Tapi kita udah coba hubungin semua temennya..."
Tiba-tiba ponsel Christy berdering. Nama Zean muncul di layar.
KAMU SEDANG MEMBACA
YANG INDAH? | ch2 (END)
Fiksi PenggemarDipisahkan sejak bayi, Chika dan Christy kembali bertemu setelah 16 tahun. Bagi Chika, adiknya adalah separuh dirinya, sumber bahagia sekaligus luka terdalam. Chika rela mati-matian menjaga, meski perlindungan itu sering disalahpahami. Christy sayan...
