Bab 98 (17+)

2.2K 188 73
                                        

Happy Reading

















































Mobil zean melaju menembus jalanan kota yang makin lama makin sepi. Bangunan berganti menjadi deretan kebun dan lahan kosong, lampu jalan mulai jarang, hanya sesekali cahaya kendaraan dari arah berlawanan yang melintas cepat.

"Harusnya udah dekat..." gumam Zean, matanya terus menyapu sisi kiri dan kanan jalan, mencari tanda warung tua yang dimaksud Dimas.

Olla menunjuk ke depan, nadanya tegang. "Itu...! Gue liat temboknya ada coretan gede warna merah."

Zean segera memperlambat laju mobil. Di sisi kiri, berdiri sebuah bangunan reyot dengan atap seng berkarat. Pintu kayunya miring, setengah terbuka, dan di temboknya penuh coretan cat semprot: simbol-simbol aneh bercampur kata-kata yang sulit dibaca. Warung itu tampak mati sejak lama, dikelilingi rumput liar setinggi lutut.

"Pas banget kayak yang Dimas bilang," ujar Adell, suaranya pelan seolah takut mengganggu keheningan aneh di sekitar.

Chika merapatkan jaketnya. "Jalan tanahnya di sebelah sini."

Benar saja, di samping warung itu ada jalan sempit yang nyaris tertutup semak, tanahnya becek dan tidak rata. Tidak ada lampu, hanya gelap pekat yang menyambut.

Zean menelan ludah, lalu memutar setir masuk ke jalan itu. Ban mobil langsung berdecit pelan melewati lumpur. Semakin jauh mereka masuk, cahaya dari jalan utama menghilang, digantikan suara jangkrik dan desir angin yang dingin menusuk.

Di depan, samar-samar mulai terlihat bayangan jembatan kayu yang dimaksud Dimas lapuk, miring sedikit, dengan beberapa papan yang tampak hilang.

Olla menggenggam lengan Chika erat. "Kayaknya... kita udah di tempat yang bener."

Zean menghentikan mobil tepat sebelum jembatan, menatap ke arah jalan setapak di seberang. "Mulai dari sini... kita jalan kaki."





























• • •
Langkah Dirga semakin dekat, tatapannya mengunci setiap gerak Christy. "Tapi sebelum lo mati... gue mau lo ngerasain apa yang nyokap gue rasain."

Dirga melirik ke Empat bodyguard di dekat pintu. Tanpa sepatah kata pun, ia menggerakkan dagunya sedikit ke arah luar. Para bodyguard itu langsung paham dan meninggalkan ruangan

Sebelum Leonardo ikut pergi, ia menepuk bahu Dirga putranya dengan tegas. "Sisahkan untuk ku" bisiknya pelan

Dirga mengangguk lalu tersenyum penuh arti..

Leonardo kemudian mengunci pintu di belakangnya.

Christy langsung mundur, punggungnya menempel pada dinding. Nafasnya memburu, matanya terus mencari celah untuk Lari tapi Dirga sudah maju perlahan, langkahnya berat, penuh tekanan.

"tinggal kita berdua sekarang" suaranya rendah

Christy menelan ludah, tubuhnya semakin menegang. "Jangan macem-macem, Ga..."

Dirga hanya menyunggingkan senyum tipis, menatapnya tanpa berkedip.

Ia mengangkat tangannya, jemarinya menyentuh ujung kerah baju Christy, membuat gadis itu spontan meraih lengannya, mencoba menahan.

"Jangan sentuh gue!" bentak Christy, tapi getar suaranya jelas.

Dirga menunduk sedikit, matanya tepat di depan wajahnya. Ia menarik paksa tengkuk Christy

YANG INDAH? | ch2 (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang