Bab 45

1.6K 153 33
                                        

Happy Reading...




























07.10 AM

Alarm di kamar Chika berdering nyaring, tapi ia hanya menggeliat malas, tangannya meraba-raba ponsel di bawah bantal.

"Ugh... berisik..." gumamnya setengah sadar.

Saat matanya sedikit terbuka dan melihat layar, jantungnya langsung berdegup kencang.

07.10 AM.

"SIAL!"

Ia langsung bangkit, kepalanya pening akibat begadang semalam. Bukannya tidur setelah makan malam keluarga, ia malah sibuk nge-game sampai jam tiga pagi.

Tanpa pikir panjang, ia buru-buru ke kamar mandi, mengguyur wajahnya seadanya, mengganti pakaian secepat mungkin, lalu turun ke lantai bawah.

Shani, yang sedang menata meja makan, menatap putrinya dengan kening berkerut. "Kakak sarapan dulu sayang?"

"Nggak sempat, Ma! Aku udah telat!" jawabnya cepat sambil menyambar roti di meja makan dan melesat keluar rumah.

Shani hanya bisa menghela napas, melihat putrinya kabur dengan panik.

---

Sesampainya di sekolah, Chika hampir tidak punya waktu untuk mengecek ponselnya. Ia langsung masuk kelas dengan napas terengah-engah, masih setengah mengantuk.

Namun sebelum ia bisa duduk tenang, pengumuman sekolah terdengar:

"Seluruh siswa kelas 12 harap segera menuju ruang rapat. Ada pengumuman penting mengenai jalur undangan universitas."

Mata Chika langsung berbinar.

Sejak awal, ia memang menargetkan jalur ini. Jika ia bisa masuk universitas di Indonesia lewat jalur undangan, itu berarti ada peluang besar untuk menolak rencana Papanya yang ingin mengirimnya kuliah ke Jepang.

Tanpa berpikir panjang, ia segera menuju ruang rapat bersama teman-teman kelas 12 lainnya.

---

Di dalam ruangan, para guru mulai menjelaskan prosedur seleksi jalur undangan. Mereka membahas kuota, universitas yang bekerja sama, serta syarat yang harus dipenuhi oleh setiap siswa.

Saat daftar siswa eligible dibacakan, Chika menahan napas.

Dan ketika namanya disebut, ia hampir tidak bisa menahan senyum.

Ini kesempatan emas.

Namun, rapat ini ternyata jauh lebih panjang dari yang ia kira. Diskusi tentang universitas dan jalur pendaftaran memakan waktu lebih lama dari perkiraannya.

Bahkan setelah rapat selesai, beberapa guru meminta siswa yang terpilih untuk tetap tinggal dan berdiskusi lebih lanjut.

Tanpa sadar, waktu terus berjalan.

---

Siang Hari - Kantin Sekolah

Barulah saat jam makan siang, Chika akhirnya bisa duduk di bangku kantin dengan napas lega.

Dengan santai, ia merogoh saku dan membuka ponselnya.

Begitu melihat layar, dahinya mengerut.

Beberapa panggilan tak terjawab dari rumah Oma Shanju.

Kok Oma nelepon?

Sebelum sempat mendengarkan pesan suara, Marsha tiba-tiba muncul di hadapannya dengan wajah panik.

YANG INDAH? | ch2 (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang