Nikah, Yuk! 1.9

7.9K 427 10
                                        

~~••~~

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

~~••~~

Garda membuka pintu kamar dan menemui Bening yang terduduk di sisi pembaringan. Pulang dari klinik sekitar satu jam lalu dan Bening masih belum berubah. Dia masih murung, tak banyak bicara. Mungkin, hanya tebakan saja, Garda pikir Bening merasa bersalah karena sakit sampai harus dilarikan ke klinik, Bening berpikir bahwa dia sudah membuat pesta pernikahan mereka cacat.

Padahal Garda tidak merasa begitu, semuanya berjalan lancar meski tidak ada mereka di sana. Para orang tua sudah mengurusnya sebaik mungkin.

"Nuansa." Garda memutuskan untuk masuk ke dalam kamar sembari membawa baki berisi makanan. Sang istri harus segera mengisi perutnya.

Dongakan lemah dan pelan Bening lakukan. Wanita itu berdehem kala menemui Garda berjalan mendekat ke arahnya.

"Saya sudah masakan makanan sederhana, ada baiknya kamu makan dulu."

"Kenapa harus repot-repot? Lagian Bening belum laper kok Mas." Bening betulan tidak lapar meski ia memang melewatkan makan selama beberapa hari terakhir.

Sejujurnya Bening tak pernah menemui pemikiran yang amat sangat berat seperti beberapa hari terakhir. Sampai ia tidak berselera makan dan terkesan melupakan kegiatan tersebut. Padahal di hari-hari biasanya, Bening benar-benar rakus, memasukan ini dan itu ke dalam perut tanpa memikirkan berat badannya.

"Meski begitu, kamu harus tetep makan." Garda menatap sesaat baki yang ia pegang sebelum dengan kikuk menyerahkan barang tersebut ke tangan Bening yang menerimanya dengan sungkan hati. "Coba ya? Saya masak soalnya."

Bening mengembuskan napas, ia menunduk dan menemui sepiring nasi, ayam dan sayur yang masih hangat dan mengepulkan asap tipis yang menggelitik.

"Ayo, dimakan. Saya enggak kasih racun kok di sana."

"Bening yakin Mas enggak bakalan kayak gitu."

Garda menganggukan kepala dan membiarkan Bening mencoba menghabiskan isi di dalam piringnya suap demi suap sampai hampir habis setengah porsi.

"Kenyang? Porsi makanannya terlalu banyak ya buat kamu?"

Agak ragu, Bening mengangguk.

"Ya udah gak apa-apa, kalau kenyang jangan dipaksa."

Sesaat, Bening menyerahkan nampan itu kembali pada Garda. Karena ia benar-benar tak bisa memaksakan diri untuk makan lebih banyak. Ia tak bisa memaksakan diri untuk menghabiskan masakan Garda. Hanya saja saat itu, yang membuat Bening kaget dengan mata yang membesar seperkian detik adalah, saat Garda dengan tenang menyuapkan makanan barusan ke dalam mulutnya.

"Iiiih! Mas Garda? Kenapa dimakan? Itu kan bekasan Bening."

"Bukan bekasan, ini makanan kamu yang enggak abis."

"Enggak boleh, sini Bening yang abisin kalau memang harus habis."

"Kamu kan udah kenyang."

"Gak jadi kenyang." Bening mengambil nampan tersebut secepat kilat dan memakan makanan yang ada di sana.

NIKAH YUK!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang