ridiculous

13 2 0
                                        

Pagi itu, aku terbangun dengan cahaya matahari yang menyusup lembut melalui tirai apartemen Sam. Udara di dalam ruangan masih hangat, bercampur dengan aroma kopi dan wangi manis yang familiar.

Aku berjalan ke dapur, masih mengenakan kaos kebesaran milik Sam. Di sana, dia sedang membalik pancake dengan ekspresi yang jauh dari biasanya. Diam. Terlalu diam. Biasanya dia akan menyapa dengan candaan kecil atau minimal senyum menggoda. 

Aku mendekat dan memeluknya dari belakang "Pagi," ucapku lembut.

"Oh, you're awake?" ujar Sam membalikkan tubuh ke arahku, membalas pelukkanku dengan hangat dan mencium keningku. "You slept okay?" tanyanya.

Aku mengangguk lagi. "I guess. I had too many thoughts to really rest."

Sam mengangguk "Come sit down, I've made pancakes." sambil menepuk kepalaku dengan lembut lalu kembali menumpuk pancake yang dia buat di atas piring dan menyerahkannya padaku.

Kami makan berdua di meja kecil dekat jendela. Suara denting garpu dan pisau menjadi satu-satunya irama di antara kami. Aku memandangi wajahnya yang serius, rahangnya mengeras seperti sedang menahan sesuatu.

Aku tahu pasti apa yang ada di kepalanya. Hari ini, dia berencana bicara pada Papaku. Dan aku bisa melihat dengan jelas—bahkan pria setegas Sam pun, bisa gugup.

Saat selesai sarapan dan bersiap kami pergi ke kantor bersama seperti biasa dan di dalam mobil menuju kantor pun suasana tetap hening. Kami mendengarkan musik, tapi tak satu pun dari kami benar-benar memperhatikan. Dia menyetir dengan tangan di setir dan pandangan lurus ke depan, kadang menggigit bibir bawahnya, lalu menghela napas pelan.

Aku meliriknya. "You okay?"

Sam mengangguk pelan tanpa menoleh. "Yeah... just thinking. A lot."

"I know," jawabku. "You'll do great."

Sam akhirnya menoleh dan menatapku sebentar, matanya lembut tapi penuh tekanan. "Let's hope so."

***

Siang harinya, kami bertiga—aku, Sam, dan Niko—bertemu di kafe kecil dekat kantor untuk makan siang. Niko sudah menunggu duluan, duduk di pojok dekat jendela dengan kopi dingin dan senyum datar.

Begitu kami duduk, Niko langsung menatap Sam. "So... what's the plan?"

Sam mengambil menu, lalu meletakkannya begitu saja tanpa membaca. "Tonight," katanya, sambil menepuk bahu Niko. "I'll tell him tonight."

Niko mendengus, setengah kaget, setengah kagum. "Seriously?"

"Yeah," Sam mengangguk dengan mantap. "He deserves the truth. I won't run from it anymore."

Aku mengangkat alis, sedikit khawatir. "You're sure?"

Sam menoleh padaku dan tersenyum tipis. "I'm sure. Kalau ini mau jadi sesuatu yang nyata, aku nggak bisa terus bersembunyi."

Niko mengangguk pelan. "Good. Finally. That's the only way forward."

Lalu Niko menatapku sekilas dan kembali ke Sam. "Okay then. I'll book the restaurant for tonight. You—" ia menunjuk Sam, "—invite Anna's parents. Dinner at seven. Neutral ground. No running."

Sam tersenyum tipis. "Got it. I won't run."

Aku melirik mereka berdua, perasaanku campur aduk. Gugup, takut, tapi juga... bangga. Sam tidak memilih jalan pintas. Tidak bersembunyi. Dia memilih untuk jujur.

"A nice place, private enough. You'll have dinner with Anna's parents, and boom—perfect setting for your confession." ujar Niko sambil terkekeh.

Sam mendecak pelan. "That sounds like a damn execution."

Dear SamTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang