"I heard news about Charles, Have you tell them Nik?"
Niko bingung. "Tell what?"
Sam melanjutkan, "I mean... have you informed Anna's parents that... Charles won't be back this week?"
Kami bertiga—aku, Niko, dan Tata—langsung menoleh cepat, terkejut. Itu bukan rencana awal. Aku mengira malam ini adalah malam kejujuran.
"Karena," lanjut Sam sambil menatap Papa sejenak lalu menunduk lagi, "I just got the message. Charles baru bisa kembali minggu depan. Ada kendala bisnis di Jepang."
Aku menatapnya dalam-dalam. "You're not telling them the truth?"
Mau tak mau, Niko ikut bermain peran lagi. Dia menelan ludah dan tersenyum canggung pada orang tuaku.
"Oh iya maaf, Om, Tante... sepertinya Papa dan Mama saya baru bisa balik minggu depan. But I promise, once they're back, we'll arrange a proper meeting."
Papa mengangguk pelan. "Oh begitu... Kalau memang begitu, nanti kabari kami, ya."
Aku memalingkan wajah, hatiku mengencang. Sam tak jadi jujur. Lagi. Tapi dari caranya menunduk, dari sorot matanya saat sesekali menatapku... aku tahu. Dia takut. Bukan karena Papa, tapi karena kehilangan. Kehilangan aku. Kehilangan hubungan ini.
Dan aku tak tahu... sampai kapan kami bisa terus bersembunyi.
Makan malam akhirnya usai. Obrolan sempat mencair kembali, tapi tetap saja bayang-bayang kegugupan dan ketegangan tak benar-benar hilang. Sam masih belum mengatakan apapun tentang hubungan kami.
Papa mengusap perutnya puas. "Wah, kenyang. Makanannya enak ya, Ma."
Mama mengangguk. "Iya. Tapi karena orang tua Niko belum bisa ke Jakarta, kami pulang dulu ke Medan ya, Nak. Papa kamu masih ada urusan pekerjaan. Nanti kita balik lagi kalau sudah pasti waktunya."
Aku mengangguk. "Iya, Ma. Titip salam juga buat semuanya di Medan."
Mama tersenyum hangat. "Mama mau belanja besok. Kamu bisa temanin Mama, nggak?"
Aku tersenyum sopan, tapi menyesal harus menolak. "Maaf, Ma. Besok aku ada rapat bareng klien, dari pagi."
Belum sempat Mama menjawab, Tata langsung angkat tangan. "Let me go with you, Tante. I'm free anyway. I've been doing nothing but lazing around di apartemennya Anna sambil ngebajak kulkasnya. Finally, something useful!"
Mama yang memang sudah menganggap Tata sebagai anaknya sendiri menoleh padanya dengan senang. "Wah, boleh banget. "
Pertemuan kami malam itu berakhir cukup larut. Niko menawarkan untuk mengantar orang tuaku ke hotel mereka, dan mereka pun berpisah dengan pelukan hangat. Aku, Tata, dan Sam kembali ke apartemen bersama.
Di sepanjang perjalanan pulang, Sam lebih banyak diam. Tangannya bertumpu di kemudi, pandangannya lurus ke depan. Biasanya dia akan bercanda atau menyelipkan komentar lucu, tapi malam ini... tidak.
Aku melirik ke arahnya sesekali, berharap dia bicara. Tapi tidak ada sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Dan aku juga memilih diam. Jauh di lubuk hatiku, aku kecewa. Rasanya seperti menggenggam harapan kosong.
Sesampainya di depan apartemen, kami semua turun. Tata berjalan lebih dulu ke lift. Aku hendak menyusulnya, ketika Sam tiba-tiba menahan tanganku.
"Anna," katanya pelan. Suaranya terdengar berat.
Aku berhenti. Menoleh pelan, tapi tak bicara.
"I'm sorry," katanya lirih.
Aku menatap matanya. Ada keraguan, ada rasa bersalah, tapi juga ada luka yang belum selesai. Aku tahu dia belum siap, tapi itu tak membuat rasanya lebih ringan di dadaku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Sam
RomanceAnna Wijaya, seorang wanita berusia 27 tahun yang ceria dan bersemangat, baru saja pindah ke sebuah apartemen di Jakarta. Di seberang lorong, tinggal tetangga barunya yang misterius, yang dikenal sebagai Samuel Hennessy. awalnya, Anna hanya mengangg...
