argue

49 4 0
                                        

Pagi itu aku bersiap lebih awal. Kupikir aku akan berangkat sendiri, tapi begitu kubuka pintu apartemen, Sam sudah berdiri di sana. Rapi. Diam. Menungguku.

Aku tertegun sesaat. "You're here."

Sam hanya mengangguk. "Of course."

"Have you had breakfast?" tambah Sam.

Aku mengangguk dan lalu kami berjalan menuju mobil tanpa banyak kata. Angin pagi Jakarta bahkan terasa lebih gaduh dari kami berdua. Sesampainya di dalam mobil, keheningan itu masih membungkus, padat, menyesakkan.

Lalu, saat mobil Sam berhenti di parkiran gedung kantor, aku memberanikan diri.

"I've been thinking..." kataku pelan, memandang lurus ke depan.

Sam menoleh, menatapku. Wajahnya serius. "About what?"

Aku menghela napas dalam. "About us. Tentang semua ini. I'm gonna tell them today."

"What?" Sam terdengar kaget. "Tell them what?"

"I'm going to be honest," jawabku, menatap matanya. "Aku akan bilang ke Papa dan Mama soal kita. Aku nggak mau main sembunyi-sembunyian lagi, Sam."

Sam memalingkan wajahnya. "Are you crazy, Anna? They're your parents. And I'm your dad's old friend—his best friend, for God's sake."

Aku menatapnya dengan campuran kecewa dan kemarahan. "Memangnya kenapa? Kamu mau kabur, gitu?"

Sam terdiam. Aku membuka pintu mobil dengan cepat dan keluar.

"Anna, wait!" Sam menyusulku, memegang lenganku. "It's not that I want to run away. But have you really thought this through?"

Aku menoleh tajam. "Yes. My mind is made up. I don't care what they'll say. Aku cuma nggak mau hidup dalam ketakutan. Aku cinta kamu, Sam."

Sam menarik napas, matanya tampak gelisah. "You heard what your dad said last night... about Harry, and that young girl. You saw how he reacted. That could be me. Us."

Aku menatap Sam, kali ini dengan suara lebih tenang tapi tegas. "Tapi kita bukan Harry dan dia. Kita bukan mereka. If I stay quiet just because of fear, then what kind of relationship are we even building?"

Sam menunduk, lama. Seolah kata-kataku menghantam bagian paling rapuh dalam dirinya.

"Aku tahu kamu takut, Sam," lanjutku. "Tapi kali ini... biar aku yang berdiri buat kita."

Sam terdiam sesaat sebelum akhirnya melangkah mendekat dan memelukku erat.

“I get it,” bisiknya di dekat telingaku. “I really do. But please, Anna… sabar. We need time. Kita harus pelan-pelan kasih tahu mereka. Slowly, one step at a time.”

Pelukannya hangat, tapi kata-katanya terasa dingin di hatiku. Aku menggigit bibir, lalu melepas pelukannya perlahan.

“No,” kataku tegas. “Aku tetap akan bilang hari ini. Aku capek sembunyi. I’m not ashamed of us, Sam.”

Sam menatapku, cemas. “Please, Anna. Think again. Don’t rush this. Mereka bisa—”

Aku mengangkat tanganku, menghentikan ucapannya.

“I’m done thinking,” potongku. “Now it’s time to act.”

Sebelum Sam bisa berkata lebih banyak, aku membalikkan badan dan melangkah cepat masuk ke dalam gedung kantor. Aku tahu dia tidak akan mengejarku lebih jauh. Di dalam sini, kami harus menjaga batas. Menjadi ‘Anna dan Mister Henessy’ yang profesional.

Langkah kami berpisah ke arah berbeda. Tak ada lagi kata-kata. Tak ada pelukan. Hanya diam dan formalitas.

Tapi di dalam hatiku, badai masih belum reda.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 5 days ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Dear SamTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang