Dipaksa menikah dengan seorang rentenir ternyata Fira justru mendapat anak dari si Rentenir.Sosok pria yang lembut pada dirinya namun sangat dingin pada orang lain, awalnya Fira berpikir kalau Suaminya itu juga sama kejam seperti mertua tapi ternyat...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Satu persatu Antonio, Naira, Angga, Andrian dan Zayda masuk ke dalam rumah Maulana.
Naira, Zayda dan Angga tercengang melihat kemegahan dan kemewahan rumah Maulana, rumah ini tidak kalah dengan Mension Mizuruky.
Ruang tamu rumah Maulana yang diberi nama Mizuruky Menara memiliki ukuran yang sangat luas dengan langit-langit yang tinggi dan dihiasi dengan ornamen-ornamen yang rumit. Dinding-dindingnya dilapisi dengan panel-panel kayu yang elegan, sementara lantainya terbuat dari marmer yang berkilauan dengan motif yang unik.
Ruang tamu ini dilengkapi dengan furniture yang sangat mewah, seperti sofa dan kursi yang dilapisi dengan kain sutra atau velvet yang lembut dan memiliki motif yang elegan. Meja-meja yang terbuat dari kayu mahoni atau kayu lainnya yang berkualitas tinggi, dihiasi dengan ukiran-ukiran yang rumit dan memiliki desain yang sangat artistik.
Ruang tamu Mizuruky Menara dihiasi dengan dekorasi yang sangat elegan, seperti lukisan-lukisan karya seniman terkenal, patung-patung yang indah, dan vas-vas bunga yang mewah. Lampu-lampu kristal yang tergantung dari langit-langit memberikan kesan yang sangat mewah dan elegan.
Pencahayaan di ruang tamu ini sangat strategis, dengan lampu-lampu yang ditempatkan secara tepat untuk menonjolkan keindahan dekorasi dan furniture. Lampu-lampu ini juga dapat diatur untuk menciptakan suasana yang berbeda-beda, seperti suasana yang lebih santai atau lebih formal.
Ruang tamu Mizuruky Menara memiliki atmosfer yang sangat mewah dan elegan, membuatnya menjadi tempat yang ideal untuk menerima tamu atau menghabiskan waktu bersama keluarga.
"Hanya ruang tamu saja sebagus ini, bagaimana dengan ruangan yang lain?" Naira memperhatikan ruangan tersebut, ia sangat kagum dan terkesima.
Zayda berjalan ke sisi sofa mewah, tangannya terulur menyentuh sofa itu dengan lembut."Ini sofa mewah yang pernah ku lihat, tapi aku tidak bisa memilikinya."
Antonio melihat kedua gadis itu dengan malas."Kalian ini, terutama kamu, Za."
Zayda menoleh pada Antonio."Kenapa denganku?"
"Waktu itu kamu menghina Fira sebagai gadis miskin, tapi lihatlah sekarang. Fira punya rumah semewah ini." Antonio mencibir.
"Tapi ini rumah Pak Ivan, bukan rumah Fira." Zayda membantah ucapan Antonio.
"Sama saja." Antonio membalas ucapan Zayda.
Mata Andrian mencari keberadaan Maulana atau Fira, di luar rumah ini terlihat ramai tapi di dalam sepi."Pak Ivan tidak ada?"
"Kenapa kalian selalu berisik?"
Andrian terkejut, ia mengalihkan perhatian pada asal suara tersebut. Maulana menuruni anak tangga, satu persatu satu anak tangga dilewati, berjalan mendekati murid-muridnya tersebut.
"Assalamualaikum, Pak." Antonio mengambil tangan Maulana lalu mencium punggung tangannya. Begitu juga Andrian, Naira, Zayda dan Angga.
"Walaikumsalam. Duduklah." Maulana mempersilahkan mereka duduk, ia berjalan ke sisi sofa dan duduk di sana.
Antonio menaruh tas di atas sofa lalu memandang Maulana."Pak, dimana sayangku Fira? Aku sangat merindukannya."
"Kamu lihat benda itu?" Maulana menunjuk sebuah pedang panjang yang tergantung di dinding menggunakan pandangan matanya.
Antonio mengikuti arah pandang Maulana, ia pun langsung senyum minta maaf."Hehehe, Pak Ivan jangan gitu. Aku hanya becanda."
Maulana menyeringai tipis."Kenapa kalian ke sini?"
Antonio mengeluarkan sebuah jilidan lalu diletakkan di atas meja."Kami satu kelompok, Pak. Besok presentasi, aku harus belajar bersama say, eh maksudku dengan Fira."
Maulana menoleh ke samping."Sayaka."
"Ya, Tuan Muda." Gadis cantik bernama Miyamoto Sayaka mendekati Maulana.
"Panggilkan Nyonya Muda di kamarnya, katakan para pengganggu datang." Maulana memberikan perintah.
Maulana kembali mengalihkan perhatian pada Antonio, ia mengambil jilidan di tangan Antonio."Bahasa Indonesia?"
Antonio mengangguk."Iya, Pak."
Maulana membuka lembaran makalah tersebut, kening berkerut melihat isi lembaran dalam jilidan tersebut, isinya berupa novel yang belum selesai namun dibuat seperti makalah.
"Ini kamu membuat novel atau membuat makalah?" Maulana bertanya tanpa menoleh pada Antonio, fokusnya hanya pada isi lembaran dalam jilidan tersebut.
"Itu makalah, Pak." Antonio menjawab, ia menggeser duduknya lebih dekat dengan Maulana.
"Itu novel, Ant. Kita disuruh membuat novel." Naira menyela pembicaraan antara Maulana dan Antonio.
"Sama saja kali." Antonio tidak terima jika ucapannya dianggap salah.
"Beda, Antonio." Maulana mengalihkan perhatian pada Antonio.
Antonio mengalihkan perhatian pada Maulana."Kok bisa, Pak?"
Maulana gemas sekali pada muridnya yang satu itu, bagaimana bisa lulus sampai SMA kalau Makalah dan novel dianggap sama.
Maulana menaruh jilidan kertas yang berisi novel namun dibuat seperti makalah oleh Antonio itu di atas meja, matanya mendelik galak pada Antonio."Makalah itu, sebuah karya tulis yang membahas tentang suatu topik atau masalah tertentu secara sistematis dan terstruktur. Makalah biasanya ditulis untuk keperluan akademis, seperti tugas sekolah atau universitas, atau untuk keperluan profesional, seperti presentasi atau konferensi.Makalah biasanya memiliki struktur yang jelas, seperti pendahuluan. Pendahuluan itu menjelaskan latar belakang dan tujuan makalah, isi. Isi membahas topik atau masalah yang dibahas, kesimpulan. Kesimpulan merangkum hasil pembahasan dan memberikan rekomendasi atau saran." Maulana berusaha sabar saat menjelaskan tentang makalah, rasanya ia sangat ingin menggerakkan tangan menarik telinga Antonio.
"Itu kan sama, Pak." Antonio menunjuk pada latar belakang dalam novel tersebut.
Maulana kembali mengalihkan perhatian pada jilidan novel milik Antonio."Kamu mengatakan ini makalah karena ada tulisan latar belakang?"
"Bukan hanya itu, Pak. Itu juga ada isinya." Antonio bermaksud menunjukan isi novel tersebut.
Maulana menghela nafas."Antonio, latar belakang dalam jilidan ini adalah tentang tempat dan waktu, isi di sini adalah cerita. Jadi ini sebenarnya adalah sebuah novel yang kamu tulis seperti makalah?"
"Lagipula, kalau makalah itu bukan tulisan fiksi atau karangan bebas tanpa sumber, sedangkan novel itu kamu bebas."
Antonio nyengir." Hehehe."
"Ini kenapa tidak kamu ketik, Antonio? Apakah sama Bu Indri suruh kamu menulis pakai tangan?" Maulana bertanya dengan penasaran.
Antonio menggaruk kepalanya yang tidak gatal."Ya harus diketik, Pak." Ia mengeluarkan sebuah laptop dari dalam tasnya."Karena itu mau saya ketik sekarang."
Antonio mengulurkan tangan mengambil jilidan novel di pangkuan Maulana lalu menaruh di atas meja berserta laptopnya.
Maulana mengalihkan perhatian pada murid yang lain."Bagaimana dengan kalian?"
"Saya tinggal setengah, Pak." Andrian ikut mengeluarkan laptop dan lembaran kertas berisi novel namun belum diketik.
Naira, Zayda dan Angga pun melakukan hal yang sama. Tak lama kemudian Fira datang, ia melihat teman-temannya sibuk mengerjakan tugas sedangkan dirinya belum sama sekali.
Maulana mengalihkan perhatian pada sang Istri, dari ekspresi gadis itu terlihat kalau Istrinya juga belum mengerjakan tugas."Malam ini kamu kerjakan saja tugas mu, kamu bisa pakai laptop Mas."
Fira mengangguk, ia meminta seseorang untuk mengambilkan laptop Maulana di ruang kerjanya, namun Maulana menyuruh seseorang mengambilkan laptop baru di ruang kerjanya setelah itu membawa ke Fira.
Fira pun bersama yang lain mengerjakan tugas Bahasa Indonesia.