Dipaksa menikah dengan seorang rentenir ternyata Fira justru mendapat anak dari si Rentenir.Sosok pria yang lembut pada dirinya namun sangat dingin pada orang lain, awalnya Fira berpikir kalau Suaminya itu juga sama kejam seperti mertua tapi ternyat...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Fira mulai membuka laptop, ia diam memperhatikan laptop tersebut, tidak tahu cara mengoperasikannya.
Fira sungguh sangat malu, sudah SMA tapi tidak bisa mengoperasikan laptop, ia menoleh pada Maulana, pria itu diam memperhatikan dirinya.
Maulana meraih laptop tersebut lalu membuka ms word setelah itu mengatur jenis tulisan, ukuran dan formatnya, setelah itu menyerahkan kembali pada sang Istri." Kamu tinggal menulis novel mu di sana, Sayang."
Fira mengangguk, ia duduk di karpet permadani hijau, tidak di sofa. Gadis duduk di bawah sang Suami, dan mulai mengetik.
Maulana menggaruk kepalanya yang tidak gatal melihat cara sang Istri mengetik, dirinya biasanya menggunakan 10 jari sedangkan Fira menggunakan 2 jari.
Maulana mengalihkan perhatian pada Antonio, muridnya itu menggunakan 10 jari dan sangat cepat, terlihat sekali biasa menggunakan laptop.
Maulana mengangguk, ia mengalihkan perhatian pada Angga, muridnya yang satu itu mirip dengan Fira hanya lebih baik sedangkan Naira menggunakan 3 jari dan Zayda menggunakan 6 jari.
Maulana kembali mengalihkan perhatian pada buku tulis sang Istri, tulisan Fira sangat rapi dan indah, artinya terbiasa menulis di buku.
Maulana bangkit dari tempat duduknya."Kalian kerjakan dulu, Bapak mau ganti baju. Nanti kalian bisa makan malam di sini."
Pria itu melangkahkan kaki melewati sang Istri lalu berjalan menuju lift, Fira menghela nafas panjang, rasanya sangat memalukan.
Antonio mengalihkan perhatian pada Fira, ia menggeser duduknya dan pindah ke karpet seperti gadis itu, pria itu mengintip pekerjaan Fira.
Tulisan Fira masih dapat 2 baris sedangkan dirinya sudah hampir 2 lembar."Fir, kalau caramu menulis seperti itu, kamu tidak akan selesai -selesai."
Fira menunduk lesu, kalau harus memilih ia lebih memilih menulis di buku tulis dari pada di laptop, tapi Indri meminta tugas untuk diketik.
"Kamu sudah selesai belum, Ant?" Fira mengangkat pandangan menatap Antonio.
"Belum, tapi aku sudah dapat banyak." Antonio menunjukkan layar laptopnya, terlihat sudah 10 lembar hasil ketikan Antonio.
"Kamu cepat sekali." Fira menatap iri hasil pekerjaan Antonio.
Antonio tersenyum bangga."Iya dong, nanti kamu minta tolong Pak Ivan saja. Pasti cepat kalau Pak Ivan yang mengetik."
"Mana boleh seperti itu?!" Zayda menyahut ucapan Antonio.
Antonio dan Fira mengalihkan perhatian pada Zayda, Antonio menatap gadis itu tidak suka."Memang kenapa?"
"Itu namanya curang, kalau Pak Ivan yang mengerjakan, pasti hasilnya sangat baik. Meski itu karya Fira, tapi nanti bisa direvisi secara langsung oleh Pak Ivan." Zayda menjelaskan alasannya.
"Mana mungkin, Pak Ivan kan guru Agama? Kalau perusahaan, kan perusahaan Pak Ivan itu berlian." Naira mengangkat pandangan menatap Zayda.
Zayda mengalihkan perhatian pada Naira."Kamu buta ya? Kamu pikir perusahaan Pak Ivan hanya Mizuruky Corp saja? Pak Ivan juga punya perusahaan yang bergerak dibidang penerbitan novel, namanya Maula Publisher juga perfilman namanya Mizuki Intertaiment." Pandangan mata gadis itu terlihat menghina.
Tak lama kemudian Maulana datang, ia menghela nafas melihat murid-muridnya kembali bertengkar padahal baru ditinggal sebentar."Kalian sudah selesai?" Ia berjalan menuju sisi sofa, di tangannya terdapat sebuah laptop.
Maulana duduk di sofa samping Fira, ia menaruh laptop di atas pangkuannya.
"Belum, Pak." Naira menjawab pertanyaan Maulana, ia kembali mengerjakan tugasnya.
Maulana mengangguk."Baiklah, Bapak temani. Bapak juga sambil memeriksa novel-novel yang terdaftar untuk diadaptasi menjadi sebuah film."
Naira bangkit dari tempat duduknya, berpindah ke sebelah Maulana, Naira memperhatikan layar laptop yang ada di pangkuan Maulana dengan penuh minat. Layar laptop menampilkan data-data buku yang masuk dan lolos bergabung di Maula Publisher. Naira melihat tabel yang rapi dan terstruktur, menampilkan informasi tentang judul buku, nama penulis, genre, dan status penerbitan.
"Wah, Pak. Banyak sekali buku-buku yang lolos." Naira menunjuk data-data di layar laptop Maulana.
"Hm." Hanya itu jawaban Maulana, matanya masih fokus memeriksa isi laporan tersebut.
"Itu semua mau difilmkan ya, Pak?" Naira bertanya dengan nada penasaran.
"Tidak semua, hanya yang menurut Bapak layak saja." Maulana tidak sedikitpun beralih dari layar laptop di depannya.
"Menurut Bapak, karya saya masuk tidak?" Naira semakin mendekat pada Maulana, ia sangat penasaran dengan tabel -tabel tersebut.
Maulana menoleh pada Naira." Kamu menjauhlah sedikit, jangan terlalu dekat." Ia merasa tidak nyaman dekat dengan lawan jenis, terlebih sekarang sudah memiliki seorang Istri, ada hati yang harus dijaga.
Dengan cemberut, Niara menggeser tempat duduknya."Pak Ivan ini, tidak bisa didekati. Jangan-jangan Bapak..." Ucapan Naira terhenti saat melihat tatapan mata Maulana..
"Kamu itu seorang gadis, jangan biasakan duduk terlalu dekat dengan seorang pria, kecuali dia Suami mu atau saudaramu." Maulana memberikan teguran pada Naira.
"Iya, ya, Pak." Dengan berat hati Naira kembali ke tempat semula.
Fira menoleh pada sang Suami, ia ingin meminta tolong untuk membantu dirinya mengetik novel, namun melihat pria itu punya pekerjaan sendiri, rasanya sangat tidak enak hati.
"Ahh, akhirnya selesai juga." Antonio menegangkan tangan setelah menyelesaikan 20 lembar ketikan.
Maulana mengangkat pandangan melihat Antonio."Kalau begitu kamu naiklah ke lantai 17, pergi ke tempat kerja Bapak, kamu bisa mencetak pekerjaan mu di sana."
"Baik, Pak." Antonio mengangguk.
"Tunggu dulu, Ant. Ini aku hampir selesai, nanti kita barengan saja." Andrian menyahuti, yang lain mengangguk setuju kecuali Fira, gadis itu hanya diam karena memang pekerjaannya belum selesai dan masih banyak.
Maulana menaruh laptop di atas meja lalu memberi isyarat pada sang Istri untuk mendekat padanya.
Fira mengangguk lalu bangkit dari tempat duduknya, ia berganti duduk di atas pangkuan Suaminya.
"Biar Mas bantu mengetik, kamu bacakan saja ceritamu." Maulana meraih laptop Fira.
Fira mengangguk lalu pindah posisi duduk, ia duduk di samping Maulana sambil membacakan ceritanya dan Maulana mengetiknya.
Fira kagum melihat kecepatan tangan Maulana saat mengetik pakai laptop, pria itu tidak sedikitpun menghapus hasil ketikannya, hanya butuh 30 menit pria itu mengetik dan 20 halaman sudah beres.
"Ini sudah selesai, Mas akan kirim ke email Musashi untuk dicetak dan dijilid sekalian. Besok pagi-pagi sekali dia akan mengantarkannya ke sini, sekarang kamu bisa makan malam." Maulana mengirimkan hasil ketikannya di alamat email yang dituju setelah itu mematikan laptop tersebut.
Fira tersenyum lega, ia mengangkat sedikit tubuhnya lalu mengecup bibir sang Suami dengan bahagia hingga lupa bahwa teman-temannya masih ada di situ dan menatapnya dengan tatapan cemburu.
"Mas memang yang terbaik." Ia menggesekkan kepalanya di dada sang Suami dengan bibir tersenyum manis.
"Fir, kami masih di sini." Antonio melongo melihat sikap manja Fira, ia menjadi ragu apakah sungguh mampu menghadapi sikap manja gadis itu jika sungguh menjadi Istrinya.