5 Jam sebelum Annas Tasha ditemukan.
"Lo seharusnya cukup pintar untuk gak percaya sama bang Gio kalau dia gak akan sentuh Asyalina sama sekali, Raf."
Rafael menatap marah pada Benu yang dengan tidak tahu diri menariknya menjauh dari auditorium tempat semua orang berkumpul. Tangannya yang terkepal kuat berusaha mati-matian ia tahan agar tetap berada di sisi tubuhnya, padahal ingin sekali ia melayangkannya pada sosok di depannya.
Tadi, saat melihat rekaman yang di putar oleh para bajingan OSIS itu, dengan cepat Rafael menarik kerah seragam Aiden. Menyeretnya sejauh beberapa meter dari tempat mereka semula duduk. Tindakannya itu membuat banyak orang mengalihkan perhatian pada mereka, termasuk para guru yang berusaha melerai, para reporter yang sibuk mengambil gambar, dan para OSIS yang menatap sambil tersenyum meremehkan.
Sumpah serapah ia lontarkan pada Aiden serta orang-orang yang berusaha keras menahan ia untuk memukul bajingan sialan itu. Namun begitu, Rafael tetap memberi pukulan sekuat tenaga saat seorang yang memegangnya lengah jikapun hanya beberapa detik saja.
Disela-sela amukannya, teriakan juga banyak terdengar dari berbagai arah. Sebagian orang merasa terkejut karena aksi tiba-tiba Rafael, sedang sebagian tampak memang menanti terjadinya keributan ini sedari tadi. Sebab jujur saja, agenda ini tidak mungkin berjalan dengan benar-benar lancar, bukan? Memang harus dibumbui keributan dan sedikit drama.
Si Aiden keparat itu? Ia tak menahan atau bahkan menghindar sama sekali saat Rafael terus saja memukuli begitu ia mendapati kesempatan. Bahkan saat tubuhnya sudah terbaring di tangga sambil terbatuk-batuk, ia tetap diam saja. Sungguh, Rafael ingin sekali rasanya melihat tubuh itu tampak mengenaskan. Seperti tubuh Asyalina saat terakhir kali dilihatnya. Jika saja bisa, maka akan ia buat tubuh si brengsek itu penuh dengan darah. Diam saja dengan wajah bersalahnya itu tidak akan membuat Rafael merasa iba. Sedikitpun, tidak akan.
Jika saja Ghani dan Alandra yang bertubuh sangat besar itu tidak ikut campur menariknya dari sana, maka pasti ia akan melanjutkannya sampai menemukan kepuasan jiwa. Jika saja Rhea tidak membawa Aiden untuk pergi bersamanya, maka setidaknya ia bisa membuang ludah padanya. Dan jika saja Pak Dani dan Bu Sita yang bertanggung jawab mengenai etika seluruh siswa sekali ini saja mengabaikan perilaku buruknya, bisa dipastikan ia masih tetap berada di tengah-tengah keramaian sana.
"Bawa temen sialan Lo keluar. Atau gue hancurin badan kurusnya ini sebelum dia hancurin rancangan kami."
Perkataan Ghani saat menolaknya kearah Benu dan Galang beberapa waktu lalu masih menempel begitu lekat di ingatan, dan itumembuat gemuruh di dada Rafael enggan berhenti sejak tadi. Kenyataan bahwa mereka_ia dan orang-orang yang ia sebut bajingan adalah teman membuatnya sadar bahwa ia tak kalah brengsek dari mereka.
Jika ada, makian hina apa yang paling layak diterima olehnya, juga untuk manusia-manusia serakah yang ia jadikan sebagai temannya? Mengingat semua umpatan yang ada, tak ia temukan itu lebih hina daripada perbuatan mereka.
"Lo tahu, Raf? Emosi sesaat Lo barusan itu hampir bikin rencana kita gagal." Benu kembali bersuara.
Emosi sesaat? Apakah bajingan gila ini benar-benar seorang yang ia jadikan teman? Rafael menarik nafas dalam-dalam sebelum ia membuangnya dengan kasar. Cukup lama ia mengusap-usap wajah dengan kedua telapak tangannya, lalu melirik sebentar pada Benu yang tengah fokus menatapnya.
"Lo kasih tahu sama mereka, persetan sama rencana bangsat kalian itu. Gue gak pernah berniat buat ikut ngelakuinnya sama kalian sejak keluar dari ruangan tadi."
"Lo yakin gak mau terlibat?" Benu bertanya remeh.
"Apa? Lo pikir sekarang gue punya alasan? Gue gak butuh lagi kertas-kertas sampah Lo itu, Ben. Kertas sialan itu yang buat Asya meninggal."
KAMU SEDANG MEMBACA
OSIS
Historical Fiction"Curang! Mereka curang!" "Pembunuh! Kalian pembunuh!" "Orang-orang sombong itu. Gue bersumpah akan balas kalian semua!" "Berhenti mengatasnamakan dedikasi untuk sekolah! Kalian cuma sekumpulan sampah yang sembunyi di balik organisasi sekolah!" "Kita...
