20. Mama Dia Kelihatan Welcome

3K 111 1
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

26 Juli 1990, Kamis malam, catatan harian judulnya "10 HARI"

Allah... Engkau selalu memberikan tanda-tanda, sebelum segala sesuatu terjadi. Saat aku pingsan, siang tadi, kukira hitung mundur tiba terlalu cepat. Ternyata itu tanda dari-Mu. Aku udah siap kembali pada-Mu, Ya Allah... Bimbinglah aku kembali dalam kebaikan.

Kejadiannya seperti ini:

Pada jam istirahat sekolah, Eva dan teman-teman makan di kantin. Matanya menyapu mencari-cari Ryan. Yang datang mendekat malah Sisca:

"Ryan hari ini kagak masuk," ujar Sisca, menggoda.

"Gue gak nyari dia, yeee... Lagian, elu sotoy," pancing Eva.

"Gue tau dari Bayu, temen sekelas die..."

"So sweet... baru tau, ada nama Bayu, neeh... Emang lu udah jadian?"

"Kok, jadi gue yang lu serang, sih?"

"Pertanyaan gue belom lu jawab. Hayo..."

"Die anak orang kaya, terlalu disiplin."

"Suit... suiiit... Jawaban lu, menggambarkan ati lu."

"Ah... elu sekarang yang sotoy."

Ketika Eva hendak bicara lagi, Sisca menempelkan telunjuk ke bibir sendiri. Isyarat, jangan lanjutkan pembicaraan, sebab situasi kantin sangat ramai. Bisa chaos.

Eva kontan menyadari. Membatalkan niat menggoda Sisca. Dia paham, jika Sisca diserang, pasti bakal membalas dengan serangan lebih gencar terkait Ryan. Dia juga tidak suka jadi bahan ledekan anak-anak lain. Mereka melanjutkan makan.

Bel masuk kelas berbunyi, semua berhambur meninggalkan kantin. Sisca yang biasa menemani Eva jalan menuju kelas, kali ini tidak. Dia buru-buru pergi dari kantin setelah menghabiskan mi ayam. Katanya, ada urusan penting.

Tidak masalah. Eva sering jalan sendiri. Memang, matahari sangat tajam menghujam bumi. Musim kemarau terlalu panjang. 'Kan ada payung.

Namun, Ya Tuhan... tengah Eva berjalan, mendadak dia merasakan pusing luar biasa. Menyergap kepala secara tiba-tiba.

Dia menghentikan langkah. Hendak balik ke kantin, sudah jauh, lanjut ke kelas lebih jauh. Sekujur tubuh lemas. Beberapa detik kemudian, semua kosong.

Eva tersadar di ruang UKS. Bau balsem menyengat hidung. Dia mengerjap-ngerjapkan mata, melihat beberapa guru disitu. Ada Hesti dan Sisca tersenyum. Ada juga –ini yang tidak dia sukai- Nanan, menggenggam segelas air putih, mendekati.

"Minum dulu, Eva," ujar Nanan lembut.

Eva bangkit dari pembaringan. Seteguk-dua teguk-tiga... air masuk tenggorokan. Pelan-pelan pusing reda. Dia gerakkan tubuh. Saat dia hendak turun dari bed, semua orang mencegah.

728 HARICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang