53. Suatu Hari di Rumah Kumuh

2K 80 0
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Rombongan Eva menemukan alamat rumah Bunga, masuk gang selebar 2 meter. Kiri-kanan rumah padat penduduk. Banyak anak kecil telanjang dada berlarian disitu.

Pintu rumah Bunga langsung di pinggir gang, tanpa pagar. Ada jembatan kayu penutup got kecil selebar 30 senti, bau busuk, persis di dekat pintu.

Tiga tamu dari YLI membuat rumah terasa sesak. Mereka diterima ibu Bunga, sebut saja Melati (samaran) di ruang tamu ukuran 2 X 3 meter. Mereka duduk di lantai beralaskan plastik merah yang biasa dijadikan tenda pedagang kaki lima.

Seorang adik lelaki Bunga seusia kelas 4 SD main dengan dua bocah lelaki, mondar-mandir keluar-masuk rumah. Mereka beberapa kali meloncati Melati dan para tamu yang duduk lesehan.

Melati cerita, mereka habis-habisan mengupayakan kesembuhan Bunga. Semua ludes untuk biaya pengobatan.

"Sekarang dia terbaring di kamar," ujar Melati.

"Boleh kami menengok Bunga, Bu?" tanya Eva.

"Silakan. Maaf, rumahnya kayak kapal pecah gini."

Di dalam, kamar sempit campur dapur. Di ranjang reot terbaring seorang gadis. Kulit putih bersih, kepala gundul berambut beberapa helai, wajah moonface, ruam merah di pipi. Dia pakai kaos putih kusam, celana pendek yang sama kusam. Kedua kaki bengkak.

Setelah Eva dan kawan-kawan mendekat, tahulah mereka bahwa Bunga sudah buta. Kornea bergerak cepat kiri-kanan karena mendengar ada orang masuk kamar.

"Assalamualaikum," salam Eva.

"Waalaikumsalam..." sambut Bunga.

"Bunga, kami bertiga dari YLI. Mendoakan kamu cepat sembuh dan tetap tabah," kata Eva.

"Terima kasih... Ibu-ibu, Kakak-kakak semua," ujar Bunga.

Eva menghibur:

"Kuatkan hatimu, Dik. Kamu tidak sendirian menderita Lupus. Kami bertiga yang datang ini Odapus seperti kamu. Saya hidup tanpa kantung empedu. Kakak-kakak di sebelah saya ini sudah kehilangan limpa, pankreas, dan sering jalani kemo. Kepala kami semua botak."

Bunga menangis

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bunga menangis. Eva memeluk. Mereka terguguk-guguk. Dua pengurus YLI lain ikut meredakan tangis Bunga, walau mereka sendiri juga berlinangan airmata.

Tak tahan berlama-lama disitu, rombongan YLI berpamitan. Sebelum meninggalkan Bunga, Eva menyerahkan amplop coklat isi uang sumbangan.

"Ini sekadar bantuan dari kami Odapus se-Indonesia. Mohon Bunga menerima," ujar Eva.

Meledak-lah tangis Bunga, menggenggam amplop. Eva, dua pengurus YLI, dan ibu Bunga, tak kuat menahan haru. Lima wanita itu larut menangis semua.

Eva bersama rombongan meninggalkan rumah Bunga dengan perasaan campur-aduk. Sedih, kasihan, bersyukur bahwa kondisi mereka kini sehat.

Sepekan kemudian, jelang sore, ada telepon ke kantor YLI. Kebetulan, penerima telepon Eva.

Dari seberang sana, seorang wanita sambil menangis, mengatakan: Mohon doa para Odapus, Bunga baru saja meninggal.

Semua pengurus YLI mengantarkan Bunga sampai ke liang lahat. Tempat dikuburnya penderitaan Bunga.

------------------ Lari ke 54 Derita beralih ke Eva.

728 HARICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang