Ini kisah nyata, dear... Banjir airmata. Tapi, elegan & inspiratif. Tokoh di novel, cewe cantik, jarang nangis. She pejuang kehidupan yg inspiratif (seperti ditulis novelis Agnes Davonar sebagai endorsement di Cover novel ini).
Mengapa novelis terke...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Waktu kita bayi, ibunda sibuk. Pukul 02.00 dini hari dia terjaga dari lelap. Kaget, kita menangis. Bisa karena kita ngompol, be'ol, demam, digigit semut, atau sekadar cari teman.
Lalu, sambil menahan kantuk, ibu melayani kita. Apakah dia happy waktu itu?
Jawabnya:
"Tidak," kata Dr. William Pollack, asisten professor Harvard Medical School, AS, yang pernah meneliti hal itu di kampusnya pada 1970-an.
Berdasarkan hasil riset, kata Pollack: "Mom melakukan itu karena komitmen kuat sebagai ibu."
Walau, tidak semua ibu otomatis berkomitmen keibuan. Tapi, sebagian besar berkomitmen.
Terus, kalo bunda tidak happy, mengapa selalu dilakukan?
"Karena cinta," kata Pujangga asal Lebanon, Kahlil Gibran. Sebab, menurutnya, sebagian besar komponen cinta adalah pengorbanan (ada di buku dia: Sajak Cinta).
Itu pula yang dilakukan Sugiarti, kepada puterinya, Eva Meliana, penyandang penyakit Lupus, tokoh utama novel true story 728 Hari yang sudah beredar di Gramedia se Indonesia.
Tak terhitung pengorbanan Sugiarti merawat Eva. Mulai dari syok berat saat dia pertama kali mengetahui Eva Lupus. Ikut merasakan sakit di sekujur tubuhnya, setiap Eva merasakan sakit di dalam butir-butir darahnya.
Lihatlah, selama 24 tahun Eva memendam Lupus. Puluhan kali dia masuk rumah sakit. Dan, setiap opname di RS, Sugiarti tak pernah sekalipun tidak menunggui. Tak sedetik pun menjauhinya di saat-saat kritis.
Jika dihitung, rata-rata setiap 1,5 tahun sekali Eva opname. Durasi lama menginap di RS rata-rata sebulan. Itu tidak termasuk berobat jalan yang sudah puluhan kali. Juga, rawat di rumah selama berbulan-bulan.
Maka, jika dikumpulkan akan ketemu durasi Eva menginap di RS, total-jenderal 20 bulan berturut-turut. Ditambah tiga bulan dirawat di rumah. Akumulasi: dua tahun berturut-turut.
Sungguh bukan waktu yang singkat. Benar-benar tidak banyak orang mampu. Bertahan dalam semangat yang tetap stabil, pada durasi siksaan selama itu. Baik bagi Eva, maupun ibundanya.
Saya ngeri... selama menulis novel ini, membayangkan penderitaan Eva dan bundanya.
Tahukah anda, bagaimana yang dilakukan Sugiarti sepanjang total 20 bulan menjaga Eva di rumah sakit? Bagaimana hari-harinya di berbagai rumah sakit?
Jawabnya satu kata: Sengsara.
Malam demi malam, dilewati Sugiarti dengan hati diliputi khawatir. Dia selalu tidur di kursi kecil di sebelah bed RS, tempat Eva berbaring. Jika mengantuk, badannya ditekuk, menelungkup rebah ke bed.
Berarti tulang belakangnya melengkung-bongkok selama berjam-jam.
Pada saat itu, tangan Sugiarti menggenggam tangan Eva. Ibu-anak ini terlelap bergandengan tangan. Disitu-lah energi spirit ibunda tersalurkan secara alamiah. Mengalir lembut ke tubuh Eva. Spirit pantang menyerah, menghadapi hidup yang teramat sulit.
Belum lagi, darah Eva tergolong jenis yang langka. Sedangkan dia butuh berliter-liter darah ditransfusikan ke tubuhnya. Persediaan di RS selalu kosong. Adanya hanya di PMI. Jika di PMI kosong juga, harus dicari melalui calo-calo darah. Keliling kemana-mana.
Badarudin, ayahanda Eva, bertugas mencari darah. Menumpuknya berkantong-kantong sebagai persediaan. Jika darah telat, Eva langsung tamat.
Tapi, Badarudin PNS. Tidak gampang meninggalkan kantor. Bisa dipecat. Sementara, kebutuhan darah tak kenal waktu. Harus segera. Harus cepat.
Terpaksa, Sugiarti meninggalkan 'sarangnya' di RS. Jalan mencari darah kemana-mana. Siang-malam dia berjalan. Dengan hati gundah.
Sumpah... ini tidak gampang.
--------------Saat menulis novel ini, saya putar lagu Iwan Fals:
Ribuan kilo.... jalan yang... kau tempuh...
Lewati rintang... untuk aku, anakmu...
Ibuku sayang....
-------------
Alunan lagu itu menyuntik "kafein". Masuk ke urat nadi saya, untuk terus menulis.... Memindahkan energi Eva dan Sugiarti ke dalam novel.
Dan, saya sudah mengambil hikmah cerita ini, lebih dulu dibanding orang lain.
Namun...
Apakah Eva berniat ingin segera mati? Pasti. Tidak mungkin tidak. Ada di suatu masa, dia merasa tak mampu lagi menahan sakit. Teramat sakit. Menusuk tulang. Menikam jiwa. Dia ingin cepat mati.
Siapa yang menepis itu? Siapa yang membayar dengan linangan airmata hanya untuk mencegah niatan itu?
Dialah Sugiarti.
Pertanyaannya, apakah Sugiarti menerima cobaan hidup ini dengan happy?
Jawabnya, pasti tidak.
Lalu, mengapa dia lakukan?
Jawabnya, karena cinta.
Bukankah cinta seharusnya menciptakan kebahagiaan?
Jawabnya, tidak selalu.
Mengapa orang mau mencintai, jika tidak selalu menghasilkan kebahagiaan?
Jawabnya, pasti ada pengalaman individual yang melatar-belakangi.
Truuus... Apa latar belakang yang dialami Sugiarti?
Jawabnya, ada di novel ini.
--------------Kata Iwan Fals:
Seperti... udara...
Kasih yang, engkau berikan...
Tak mampu... ku membalas...
Ibu.....
-----------------
Pembaca sekalian...
Jika sedikit saja anda membalas kasih ibumu. Maka menurutku, engkau sudah membangun tiang jembatanmu... menuju surga.
Trus... bagaimana reaksi Eva terhadap itu?
Kata Eva pada Penulis: "Jujur, setelah mental saya drop dan saya bilang ingin mati di depan Mama, hati saya rasanya tersobek-sobek, pak...
Saya tidak interview Eva lebih dalam. Saya diamkan dia dalam tangisnya. Wawancara terhenti. Sampai Eva melanjutkan:
"Saya lihat wajah Mama sangat sedih. Saya tahu, Mama selalu berusaha kuat tidak nangis. Tapi waktu itu Mama nangis terbungkuk-bungkuk...
Eva tak kuasa melanjutkan. Dia larut dalam sedih mendalam. Suasana hening beberapa menit. Hingga dia menguasai diri. Lantas dia cerita lagi:
Sakit yang dia rasakan, teramat sakit. Menusuk tulang, mengoyak jiwa. Dan, terus-menerus seolah tiada akhir.
Namun, sejak peristiwa itu Eva seperti menimbang-nimbang antara sakit dia dengan penderitaan batin ibunda. Hasilnya, menurut dia: "Kesakitan Mama lebih berat."
Sejak itu, sesakit apa pun Eva, selalu dia sembunyikan dari ibunda. Tidak boleh kelihatan.
"Supaya Mama tidak menangis..." ujarnya.
Jadi, Eva mewujudkan cintanya pada Mama dengan menahan sakit. Berpura-pura tidak sakit. Karena, lanjut Eva:
"Saya belum bisa balas Mama. Saya ingin bahagiakan Mama. Tapi belum bisa... Saya tidak ingin Mama menangis lagi.... (*)
----------------Lari ke 67. Sayang jika melewatkan the ending moment.
Kalau anda masih ingin beli bukunya, bisa di toko buku Gramedia, atau Gramedia online, ini link-nya: http://www.gramedia.com/728-hari.html?___store=id&___from_store=en