Ini kisah nyata, dear... Banjir airmata. Tapi, elegan & inspiratif. Tokoh di novel, cewe cantik, jarang nangis. She pejuang kehidupan yg inspiratif (seperti ditulis novelis Agnes Davonar sebagai endorsement di Cover novel ini).
Mengapa novelis terke...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Mengerikan".
Satu kata untuk menggambarkan tindakan medis yang akan dijalani Eva, besok. Dia akan menjalani Bone Marrow Puncture (BMP). Ini adalah teknik kedokteran untuk pengambilan cairan sumsum tulang belakang.
Sebagai ilustrasi, jika kita pesan "Sop Buntut" di suatu restoran, yang terhidang potongan-potongan tulang ekor sapi. Di pinggiran tulang melekat daging.
Kita, selain menggerogoti dagingnya, banyak orang suka menghisap-hisap bagian dalam tulang yang bolong akibat dibelah dengan kampak. Rasanya gurih. Nah, di lubang gurih itulah letak cairan sumsum tulang sapi.
Cairan sumsum tulang Eva, akan diambil untuk diperiksa. Karena disitulah lokasi terbentuk eritrosit. Sel pembentuk eritrosit bernama hemositoblas, yaitu batang myeloid yang tersimpan di dalam sumsum tulang.
Eritrosit milik Eva harus diperiksa, sebab diduga dirusak zat imunitas (disebut AIHA). Indikator sudah dijelaskan dokter, beberapa hari lalu. Untuk menentukan jenis dan dosis obat yang tepat, maka eritrosit harus diperiksa.
Caranya yang mengerikan.
Tulang dibor untuk mengambil sampel sel. Mata bor terbuat dari bahan logam paling kuat di dunia saat ini: Titanium. Karena, tulang adalah organ paling kuat dan keras yang dimiliki manusia.
Mata bor bukan logam utuh, seperti bor untuk tembok. Melainkan berongga seperti pipa paralon. Maka, logam harus sangat kuat dan tajam, supaya tidak patah saat menembus tulang.
Rongga pada mata bor berfungsi sebagai jalan masuk jarum suntik, saat pengambilan cairan. Tentu, sesudah mata bor dilepas dari mesin.
"Ini tidak sakit kok, Bu," kata dr Chaterine Agustina kepada Sugiarti.
"Astaghfirullah.... Ya Allah... Ya Rabbi...." Sugiarti terkulai di kursi.
Dokter membiarkan Sugiarti mencerna dulu informasi yang diterima. Biar tuntas kekagetan. Biar dihabiskan. Biar lemas.
Siapa pun yang akan menjalani BMP pasti ngeri. Manusiawi. Apalagi yang menjalani ini bukan Sugiarti sendiri, melainkan ananda tercinta. Dokter memaklumi Sugiarti syok.
"Apakah tidak bisa dengan cara lain, Dok..." tanya Sugiarti dengan suara bergetar.
Dokter diam. Memberi kesempatan Sugiarti menarik napas yang terengah-engah. Namun, dokter harus cepat menjawab, agar tidak ditafsirkan ada alternatif, sehingga memberi harapan kosong.
"Harus dengan cara itu, Bu."
"Ya Allah... begitu beratnya anakku..."
Dokter Chaterine berusia sekitar tiga lima itu berdiri dari kursi. Berjalan mendekati Sugiarti. Lantas memeluk. Erat.
"Percayalah, Bu. Ini tidak sakit."
"Tapi... tulang akan dibor..."
"Hanya sedikit sekali. Dan waktunya sangat cepat."
"Bolehkah saya bicara dengan suami dulu, Dok?"
"Silakan, Bu. Tapi, harus ada keputusan cepat."
"Bapaknya sekarang dinas di kantor. Besok pagi dia akan kesini."
dr Chaterine menjelaskan dengan sabar:
"Kalau keputusan besok, pelaksanaan BMP bisa lusa atau beberapa hari lagi. Sebab, tim kami juga membutuhkan persiapan. Sedangkan pengobatan Eva yang tepat, harus secepat-cepatnya. Sebelum organ lain terimbas."
Ampun, Tuhanku...
"Kalau begitu, saya akan telepon suami sekarang."
"Nah, silakan Ibu. Gunakan telepon ini," ujar dokter menunjuk telepon di meja.
Sugiarti telepon, dokter keluar meninggalkan ruangan. Sugiarti menjelaskan dalam bahasa Jawa. Dia menangis lagi tersedu-sedu. Terjadi perdebatan seru. Tawar-menawar ketat.
Saat dokter masuk, Sugiarti mengakhiri pembicaraan.
"Baiklah, Dok. Kami setuju."
"Oke, Ibu. Jangan khawatir, ini akan ditangani ahlinya, dokter Abidin Widjanarko."
"Terima kasih dokter."
Dokter kembali ke meja, mencari-cari berkas disana. Berupa surat persetujuan keluarga pasien atas tindakan medis. Surat itu harus ditanda-tangani keluarga pasien, selaku penanggug-jawab.
"Ibu pilih BMP dilakukan di dada atau punggung?"
Sugiarti tersentak. Kaget. Matanya terbelalak. Dikira di kaki atau tangan. Duh, Gusti...
Dijelaskan dokter, cairan sumsum tulang terletak di dua titik: tulang belakang dan tulang dada. Tepatnya, di bagian tengah tulang belakang, antara tengkuk dengan tulang ekor.
Sedangkan, di dada, persis di bagian tengah antara tulang iga.
"BMP dilakukan dengan bius lokal, loh... Jadi, pasien masih sadar."
Penjelasan ini memudahkan Sugiarti mengambil keputusan. Jika Eva masih sadar, dia pasti akan ngeri setengah mati. Alat bor persis berada di bawah dagu. Ketika mata bor mendesing, aduh...
"Pilih punggung, Dok."
"Sekarang, Ibu tanda tangan disini," disodorkan selembar kertas.
Sugiarti tanda tangan. Beres sudah.
"Nah, Ibu jelaskan kepada puterinya. Usahakan dia tenang saat pelaksanaan besok, sehingga tidak perlu diikat," tutur dokter.
Ini masalah lagi.
"Akan saya usahakan, Dok."
"Terima kasih, Bu."
Tiba di kamar Eva, Sugiarti disambut senyum anaknya. Eva menghentikan membaca komik. Mengamati wajah Mama.
"Mama dari mana? Pulang, ya?"
"Nggak. Mama dari ruang dokter."
"Lho, Mama habis nangis, ya? Ada apa lagi?"
"Ah... Mama cuman ngantuk. Mama tiduran di sofa sini dulu, ya..."
Sugiarti yang sudah mendekat ke bed Eva, malah balik kanan menuju sofa. Dia ragu, sedih, bingung. Terombang-ambing antara takut-tega-kasihan.
Pelan-pelan dia membangun benteng ketegaran, supaya hati mampu menyampaikan pesan. Memilih kalimat yang tidak mengerikan, sekaligus meneguhkan hati Eva agar berani.
Sedangkan, hatinya sendiri belum teguh dan berani.
------------------- Lanjut ke 13 Hwaduuuh... Gak Tau Apa yang Bakal Terjadi