Ini kisah nyata, dear... Banjir airmata. Tapi, elegan & inspiratif. Tokoh di novel, cewe cantik, jarang nangis. She pejuang kehidupan yg inspiratif (seperti ditulis novelis Agnes Davonar sebagai endorsement di Cover novel ini).
Mengapa novelis terke...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Nanan teringat kata-kata Eva: "Mas dan Mama nungguin aku tergolek di rumah sakit. Sudah pasti tidak happy. Sehingga kesedihanku naik jadi pangkat tiga..."
Tak sadar, Nanan bergumam: "Oh... makhluk solitair..."
"Apa, Nak?" tanya Sugiarti, mengejutkan Nanan.
Nanan tergagap. Cepat dia menutupi kaget:
"Oh... maaf, Ma. Saya... saya..."
"Jangan ngelamun, Nak. Mama akan jagain disini sampai Eva sembuh," kata Sugiarti dengan intonasi kesabaran.
"Ya, Ma. Saya juga jagain Eva dan Mama sampai Eva sembuh."
"Lho, jangan... nanti kamu dipecat dari pekerjaanmu."
"Saya sudah izin tidak masuk, Ma."
"Ya, tadi pagi. Sebaiknya besok kamu masuk kerja. Pimpinanmu tidak akan toleransi, meskipun ada keluarga yang sakit."
"Baik, Ma."
"Ketahuilah Nak, Mama tidak akan membiarkanmu sendirian menanggung beban merawat Eva. Jangan khawatir. Sudah tekad Mama untuk terus mengawal kesehatan Eva sampai Mama tidak ada lagi."
"Saya sedih mendengarnya, Ma."
"Jangan sedihkan Mama... Nak... Mama yakin, Allah ridha kalo kita punya tekad kuat untuk menghadapi apa pun dalam hidup ini. Baik berjuang untuk kebaikan, maupun tabah dalam cobaan."
"Saya akan terus belajar dari Mama."
"Mama tahu, sekarang kamu sedih karena Eva. Mama juga tahu, Eva selalu sedih setiap Mama merawat di rumah sakit atau di rumah. Meskipun dia tidak pernah mengatakan," kata Sugiarti. "Sedih itu normal. Seperti halnya senang. Sedih dan senang harus kita terima dengan ikhlas, Nak. Karena akan selalu datang silih-berganti."
"Saya akan mengingat terus nasihat Mama ini."
"Kamu sudah shalat Isya?"
"Saya shalat dulu, ya Ma."
"Silakan. Mama mau masuk kamar Eva."
Di kamar ternyata Eva belum tidur. Lengan kiri-kanan terhubung selang infus untuk makanan dan obat. Melihat Mama masuk dia tersenyum. Mama duduk di kursi dekat bed.
"Mana Mas Nanan, Ma?" tanya Eva.
"Shalat di mushala."
"Dia mulai sedih, ya Ma?"
"Sedih biasa, seperti senang. Tapi, dia anak baik."
"Tapi, kalo dia sedih 'kan kasihan, Ma."
"Itu tanda kamu cinta dia. Dan Mama tahu, dia cinta kamu."
"O, ya... tolong Mama ambilkan kolonyet di tasku. Gak enak, ada Mas Nanan, aku bau karena seharian gak mandi."
Sugiarti tersenyum melirik anaknya. Ini termasuk dalam konsep keluarga "Mawaddah". Gairah cinta fisik pasangan suami-isteri yang menggebu-gebu. Dibutuhkan sebagai perekat hubungan. Eva-Nanan pengantin baru, lho...
Sugiarti menyobek dua kemasan kolonyet. Mengambil tisu basah di dalam, mengusap ke wajah dan badan Eva.
Sekejap, Eau de Cologne berkibar-kibar mengisi kamar.
Nanan masuk, disambut aroma mawar, melati, lavender, dan lemon. Dia tersenyum melihat Eva tersenyum. Mereka tersenyum diselimuti wangi bunga setaman.
Esok, Nanan berangkat kerja dari RSCM. Wajah pucat karena kurang tidur, sehingga mengganggu konsentrasi kerja.
Atasan melihat itu dan Nanan menjelaskan bahwa dia dua hari menunggu isteri di RSCM. Atasan prihatin, tapi menganjurkan Nanan mengutamakan kerja, jika tidak ingin bermasalah.
Sedangkan, Sugiarti dipanggil ke ruang dokter, diberi penjelasan tentang penyakit Eva. Sugiarti selalu berdebar-debar masuk ruang dokter. Setelah basa-basi, dokter menjelaskan:
"Ada masalah di pencernaan Eva, Bu. Bilirubin terlalu tinggi," kata dokter pria usia sekitar 40.
Dijelaskan, bilirubin adalah cairan produk limbah dari liver. Berasal dari proses daur ulang sel darah merah yang sudah tua. Usia sel darah merah manusia 120 hari dan harus didaur-ulang di liver.
Kadar bilirubin langsung dalam darah orang normal adalah 0 sampai 0,3 mg/dl (miligram per desiliter). Sedangkan kadar bilirubin total manusia normal 0,3 sampai 1,9 mg/dl.
"Kadar bilirubin Eva tidak stabil. Rata-rata tiga kali batas normal," tuturnya. Penyebab: AIHA.
"Maaf, sebaiknya langsung pada pokok, Dok," ujar Sugiarti.
"Nah, untuk memperbaiki ini dianjurkan dipasang selang di sekitar pankreas."
"Itu... dipasang permanen di dalam, Dok?"
"Betul."
Lama-lama Sugiarti jadi biasa menerima penjelasan mengerikan seperti ini. Hatinya memang hancur. Tapi, dia sudah tidak mampu menangis lagi. Dia minta waktu untuk mempertimbangkan anjuran itu.
Dia juga meminta copy hasil pemeriksaan kesehatan Eva sebagai bahan pertimbangan. Dokter memberikan.
Sugiarti meninggalkan ruang dokter dengan langkah lemas. Kalau dulu kantung empedu Eva dibuang, kini akan ditambahkan selang di pankreas.
Ketika Nanan datang sore sepulang kerja, Sugiarti menyampaikan sekilas penjelasan dokter itu.
Nanan tercengang. Baru kali ini dia menghadapi keputusan medik yang berat.
Nanan ditugasi Sugiarti, mencari pendapat dokter di luar RSCM sebagai second opinion. Copy data hasil pemeriksaan Eva bisa dijadikan dasar konsultasi. Nanan menyanggupi.
Esok, Nanan menyampaikan hasil konsultasi second opinion kepada Sugiarti. Ternyata lebih mengejutkan lagi: Pankreas dianjurkan diangkat. Percuma dipasang selang.
"Ya sudah. Kita berjuang agar Eva tidak sampai dioperasi," kata Sugiarti.
"Baik Ma. Bagaimana caranya?" balas Nanan.
"Mama akan sampaikan ke dokter, kita pilih jalan obat-obatan. Dulu seperti itu pernah terjadi, dan sukses."
Sugiarti kemudian benar-benar menyampaikan itu kepada tim dokter.
Tim dokter menghargai hak pasien untuk memilih. Karena, pemasangan selang bersifat anjuran demi mempercepat penyembuhan. Bukan wajib.
Eva dan keluarga perlu bersabar. Terutama Nanan. Badai pernikahan datang terlalu pagi.
Eva dirawat hampir sebulan. Sekembali ke rumah, keluarga menggelar acara syukuran bersama pengajian ibu-ibu.
------------------- Lari ke 45 Ssst ... Konflik Hebat Sedang Menunggu