57. Keputusan Ini Sangat Pahit

1.9K 72 0
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

11 Agustus 2011 Eva kambuh lagi. Keluhan sakit perut bagian kiri atas. Sakit tembus sampai ke punggung.

Saat tubuh drop, sore hari, dia sedang di kantor YLI di lantai 2 RS Kramat 128, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat. Ketua YLI Tiara Savitri yang ada disitu, segera minta tolong dokter.

Eva diangkut brankar dari kantor YLI di lantai dua, ke ruang periksa di lantai satu.

Hasilnya: Eva harus rawat inap. Langsung dikirim ke ruang rawat inap di lantai 3.

Tak seperti umumnya pasien, keluarga Eva tak diminta membayar DP. Hampir semua dokter, perawat, dan bagian administrasi disitu kenal Eva. Karena YLI juga berkantor disitu. Diberi ruangan kantor ukuran sekitar 5 X 5 meter.

Ternyata kamar rawat inap tak perlu bayar, khusus untuk pengurus YLI. Biaya lain selain kamar, tetap harus bayar. Ini perhatian besar dari RS Kramat terhadap Odapus. Belum ada RS lain membantu Odapus.

Malam itu juga Nanan dan kedua orang tua Eva langsung ke RS Kramat. Mereka mendapati Eva dalam kondisi sadar. Sangat lemah, diinfus. Eva bisa tersenyum saat melihat keluarga datang.

Perawat menyambut keluarga Eva, menyampaikan pesan dokter bahwa pihak RS minta copy medical record yang, kata Eva, tersimpan di RSCM.

Nanan lari ke RSCM mengambil data yang diminta. Gampang. Kebanyakan petugas RSCM kenal Nanan. Data diambil, Nanan kembali ke RS Kramat. Menginap disana.

Hari kelima, Nanan dipanggil dokter untuk penjelasan penyakit Eva. Sugiarti ikut mendampingi.

Sugiarti sudah menyiapkan mental untuk menerima kejutan. Kendati, lututnya tetap saja gemetaran. Dia memberitahu menantu, agar tabah menghadapi apa pun. Terimalah kenyataan dengan ikhlas.

Mereka masuk, seorang dokter pria usia sekitar 50 sudah menunggu. Dokter menyilakan tamu duduk. Merekan berkenalan.

Dokter beranjak, berdiri di dekat negatif foto, gambar organ dalam manusia. Negatif foto itu disinari lampu dari belakang.

Sugiarti gemetaran. Nanan mual. Campur-aduk antara ngeri, gelisah, sedih, ingin keluar ruangan. Tapi, semua perasaan dia tekan sekuatnya.

Dokter mulai menjelaskan gambar di negatif foto itu.

"Ini foto scan organ dalam Eva Meliana," kata dokter.

Kalimat pendek, diucapkan pelan, santun, serius. Itu serasa bagai petir menggelegar di telinga Nanan dan Sugiarti. Wajah-wajah mereka pucat-pasi. Segala doa mereka panjatkan dalam hati.

Bagi Nanan, ini pertama kali. Bagi Sugiarti sudah sangat sering.

Berdasarkan gambar, limpa Eva membesar, dibanding limpa normal pada gambar di sebelahnya. Dokter menunjuk bagian limpa dengan stik panjang. Dibandingkan. Tampak beda besaran limpa.

Dokter menjelaskan, kondisi ini membahayakan pasien dan perlu tindakan segera. Berupa: splenektomi. Jika tidak cepat...

"Apa itu, dok?" potong Nanan, bergetar.

"Pembuangan limpa."

Sugiarti-Nanan lemas. Mereka tercengang.

Tangis Sugiarti kering kurang tenaga. Sudah terkuras oleh ratusan tangisnya selama 23 tahun ini mendampingi Eva. Sudah letih berurusan dengan puluhan dokter.

Tubuh Sugiarti yang kurus, terbungkuk. Kontan, ditahan Nanan agar tak jatuh. Ruangan sepi, hanya diisi isak tangis Sugiarti.

Dokter diam, larut dalam haru. Nanan coba menawar:

"Apakah tidak bisa cara lain, Dok?" tanyanya.

"Tidak ada pilihan, Pak."

"Baiklah, kami bicarakan dulu dengan keluarga," ujar Nanan, mengajak mertua keluar ruangan.

"Kami tunggu. Kalau bisa keputusan hari ini. Supaya kami punya waktu persiapan operasi. Ini operasi besar."

"Baik Dok."

Nanan-Sugiarti keluar ruangan.

Di luar, mereka berunding. Ketat. Sugiarti mengatakan, keputusan dokter sudah tidak mungkin berubah. Dia sudah pengalaman. Tindakan medis harus segera, sebaiknya operasi disetujui. Sekarang sudah lewat tengah hari.

"Persetujuan dari kamu, Nak. Sekarang kamu penanggung-jawab Eva," ujar Sugiarti.

Nanan gemetar mendengar kata "tanggung-jawab". Sesuatu yang gampang diucapkan, ternyata begini pahit di kenyataan. Sesuatu yang lembut di angan-angan, namun begitu tajam menusuk di kenyataan.

Nanan diam menunduk. Bayangan masa lalu, berkelebat cepat bagai potongan-potongan film. Susul-menyusul. Membuat dadanya terasa sesak. Kini dia tahu, hidup tak seindah puisi.

Tapi, dia tak mungkin lari. Dia sudah berjanji, apa pun akan dihadapi. Janji yang kini dipantau realisasinya oleh semua orang dekatnya. Ini penentu kualitas kemanusiaan dia.

Nanan menghela napas. Dia berpedoman pada Sugiarti, orang paling berpengalaman merawat Eva selama puluhan tahun ini. Sugiarti menganjurkan operasi. Anjuran itu tidak mungkin meleset.

Keputusan Nanan sekarang, menentukan hidup Eva. Apakah hidup akan berakhir sekarang? Ataukah berlarut-larut dalam kesakitan? Atau, adakah pilihan lain?

Nanan berkata tegas:

"Baiklah Ma. Saya akan menyetujui," kata Nanan.

Sore itu juga Nanan menandatangani persetujuan operasi splenektomi Eva.

---------------- Lari ke 58 Sukseskah oparasi Eva? Atau semuanya berakhir?

728 HARICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang