Ini kisah nyata, dear... Banjir airmata. Tapi, elegan & inspiratif. Tokoh di novel, cewe cantik, jarang nangis. She pejuang kehidupan yg inspiratif (seperti ditulis novelis Agnes Davonar sebagai endorsement di Cover novel ini).
Mengapa novelis terke...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Eva meloncat-loncat kegirangan. Pak Roto kembali mengikutkan dia ke tim inti basket. Tim akan jadi tuan rumah, berkompetisi melawan SMPN 2 Bekasi, lusa.
"Terima kasih, Pak," ujarnya bersemangat.
"Tapi, bener Eva sudah sehat, ya?" tanya Roto.
"Sehat dong, Pak."
"Ya sudah. Masih ada latihan sekali lagi, sore nanti. Kamu ikut."
"Siap, Pak," kata Eva, dua tangan terkepal ke atas.
Latihan dimulai pukul 16.00. Pada jam itu matahari sudah tidak menimpa lapangan basket. Sinarnya terhalang lantai dua gedung sekolah. Ini memang waktu biasa mereka latihan. Pada jam itu pula kompetisi digelar, lusa.
Tapi latihan kali ini diawasi Roto. Sekaligus seleksi, penentuan pemain utama dan cadangan di kompetisi. Hasilnya: Eva masuk pemain utama.
Sabtu, 15 Oktober 1988 hari pertandingan tiba.
Usai sekolah, sebagian besar murid tidak pulang. Mereka selaku tuan rumah selayaknya menyemarakkan kompetisi.
Sewaktu guru-guru menyiapkan alat pengeras suara menyambut tamu, Ninis dan Kartika baru tahu Eva ikut tanding. Mereka bangga pada Eva.
Rombongan tamu datang pukul 15.30. Mereka membawa supporter lebih dari seratus dengan dua bus. Sebagian seragam sebagian tidak. Sekolah mereka juga masuk pagi, sehingga sebagian sudah pulang, ganti pakaian.
Sementara, supporter tuan rumah lebih dari dua ratus. Mereka menyambut tamu dengan ramah. Membagikan minuman kemasan dan kue yang disiapkan sekolah. Para guru kedua sekolah berkenalan.
Itu pertandingan persahabatan. Tim puteri SMPN 2 Bekasi adalah juara pertama tingkat SLTP se-kabupaten. Mereka ingin menjajagi kemampuan tim SMP Jakarta Timur.
Sebelum tanding, diawali pidato sambutan kedua kepala sekolah. Usai pidato, kedua tim masuk lapangan. Sorakan penonton bergemuruh.
Tinggi tubuh pemain kedua tim, kurang-lebih seimbang, antara 160 – 170 sentimeter. Pemain lawan yang paling tinggi bernomor punggung 1, sekitar 170-an. Postur atletis. Kelihatan kuat.
Sedangkan pemain tuan rumah tertinggi bernomor 1, Yuni, tinggi 170-an juga. Ramping dan gesit.
Referee (wasit 1) guru dari pihak tamu, sedangkan umpire (wasit 2) guru tuan rumah. Penonton penuh melingkari lapangan.
Priiit... pertandingan dimulai.
Pak Roto paling sibuk. Dia meneriakkan instruksi-instruksi di pinggir lapangan. Teriakan tertelan riuh penonton memberi semangat masing-masing tim.
Strategi yang disuntikkan Roto kepada tim adalah pertahanan zona. Masing-masing pemain ditempatkan di zona tertentu dan mempertahankannya. Zona selalu bergeser sesuai pergerakan serangan dan posisi bola.