(BEHIND the NOVEL seri 1) Antara Novel dengan Berita

1.7K 46 0
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Saya, penulis novel ini, wartawan. Biasa membuat berita. Ini novel pertama saya.

Mohon, Pembaca jangan berharap kalimat indah mendayu-dayu di novel ini. Sebab, ini kisah nyata. Tidak didramatisir.

Menulis novel berbasis kisah nyata, ternyata butuh ekstra teliti. Salah sedikit bisa membuat orang marah. Bahkan bisa jadi delik hukum. Sebab, semua tokoh cerita, institusi-2, dan action mereka, adalah nyata.

 Sebab, semua tokoh cerita, institusi-2, dan action mereka, adalah nyata

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Beda antara Berita dengan Novel:

Berita, jumlah halaman paling banyak empat page (font huruf 12, spasi 1). Diperiksa berlapis-lapis. Mulai dari self editing Reporter, editing Redaktur, diperiksa Redaktur Pelaksana, terakhir Pemimpin Redaksi.

Novel ini 336 halaman buku. Penulis dibantu Tim Riset membuat banyak catatan.

Beda lainnya: Dari segi topik. Membuat satu berita hanya satu topik. Sedangkan novel, menuliskan sejarah hidup manusia sejak kecil sampai mati. Butuh banyak topik. Juga, sub-topik.

Ketika Pelaku novel true story diwawancarai, Pelaku tidak bisa mengingat semua moment masa kanak-kanak dengan jernih. Menyangkut waktu dan detil kejadian. Sebagian bersifat kira-kira.

Sebaliknya, kalau kisah nyata berdasarkan kira-kira, bisa bahaya. Bisa fatal. Terutama menyangkut instansi dan tokoh masyarakat yang terlibat.

Maka, penulis melakukan riset untuk menegakkan kejadian-kejadian yang diceritakan. Dalam penulisan berita, ini disebut konfirmasi. Dalam berita, konfirmasi hanya kepada satu-dua pihak. Di novel banyak pihak.

Segi finansial:

Jadi wartawan penulis berita, gajinya fix, sebulan kini sekitar Rp 4 juta (fresh-graduate). Novelis berdasarkan royalty 10 % dari harga buku. Harga novel sekitar Rp 75.000.

Kalau novel laku 1.000 eksemplar (sudah bagus, nih) dalam lima bulan, royalty Rp 7,5 juta untuk lima bulan. Pembayarannya di tiap akhir semester tahun berjalan. Maka, pantas jumlah novelis tak sebanyak wartawan.

Akibatnya, novel asing bertebaran di toko buku kita. Sebab, novelis kita belum banyak.

Sebaliknya, sangat-sangat sedikit novel Indonesia versi English yang mejeng di toko-toko buku mancanegara. Kita kalah. Harus dilawan dengan karya.

Saya penasaran. Harus dicoba. Novel ini sebut saja Novel Jurnalistik. Sebab, beda dengan novel fiksi pada umumnya.

Mohon doa restu kawan semua. Kudoakan Anda semua, semoga sukses di bidang masing-masing. Aamiin... (Bersambung ke BEHIND the NOVEL berikutnya, di sela cerita)

-------------- Cepetan... Lari ke 57 Lanjutan novelnya...

728 HARICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang