Ini kisah nyata, dear... Banjir airmata. Tapi, elegan & inspiratif. Tokoh di novel, cewe cantik, jarang nangis. She pejuang kehidupan yg inspiratif (seperti ditulis novelis Agnes Davonar sebagai endorsement di Cover novel ini).
Mengapa novelis terke...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dalam proses wawancara pembuatan novel ini, Eva selalu menjawab dengan jawaban klise. Abstrak. Tidak konkrit.
Sebaliknya, saya (Penulis Novel) selalu berusaha membongkar, agar dia bercerita. Detil kejadian. Proses demi proses.
Terjadi kontradiksi.
Eva, mungkin, ada rasa malu mengungkap detil kehidupannya. Sebaliknya, saya harus mengetahui semuanya, agar cerita jadi 'hidup'.
Akibatnya terjadi benturan kepentingan. Debat sengit.
Tidak semua topik gampang dibongkar. Ada topik-topik yang sulit. Terutama yang menyangkut Tuhan.
Topik sulit, selalu dipecahkan teknik ekstrem. Teknik ini biasa digunakan pewawancara saat terpaksa.
Definisi terpaksa: Topik sangat menarik. Tapi narasumber bersikap tertutup.
Padahal, seandainya narasumber bercerita detil, mengalir, peristiwa ke peristiwa, hubungan kausalitas (sebab-akibat), maka ceritanya jadi 'hidup'.
Suatu sore bulan Mei 2013 kami wawancara di kantor saya di Blok M, Jakarta.
Saya ingin mengungkap kunci utama cerita. Pada wawancara yang lalu-lalu gagal ungkap terus. Karena saya belum ekstrem.
"Apa kunci Eva bersemangat hidup?" tanya saya.
"Saya pasrah pada Allah."
"Apakah Eva tidak pernah frustrasi?"
"Pastinya pernah."
"Bagaimana proses dari frustrasi bisa bangkit lagi?"
"Karena Allah mencintai saya."
"Mengapa tidak minta disuntik mati?"
"Astaghfirullah..."
Eva menunduk. Matanya berkaca-kaca. Saya diam menunggu. Beginilah hasil ekstrem. Harus tega.
Lima-sepuluh menit tak ada hasil. Ruang tamu tetap sunyi. Lalu Eva minum air putih yang tersedia. Saya kira, inilah saat dia segera pamitan. Pasti dia tersinggung. Ternyata:
"Karena saya cinta Mama," katanya.
Saya diam menunggu. Eva mengatur napas satu demi satu. Dia mengeluarkan tisu dari tas. Mengelap mata.
"Mama begitu mencintai saya. Berkorban apa saja demi saya," tuturnya.
Sepi lagi. Saya dilarang memotong. Inilah hasil pertanyaan ekstrem.
"Mama mendorong saya agar kuat. Terus... mendorong. Saya kasihan Mama..."
Airmata mulai jatuh, turun ke pipi. Dia usap dengan tisu. Saya sebenarnya terharu. Tapi, bagaimana lagi? saya sedang bekerja.
"Mama cinta saya, pak... Dan, saya cinta dia...."
Kini meledaklah tangisnya. Bahu terguncang-guncang oleh napas yang tersengal-sengal. Suasana haru-biru.
Ini tidak boleh dibiarkan. Ada batas limit narasumber terguncang. Kalau dibiarkan dia bisa ambruk. Saya harus membatasi.
"Maaf, saya keluar merokok," kataku. "Saya malu nangis disini."
Saya beranjak, keluar, menutup pintu. Eva sendirian, pasti tangisnya akan reda.
Habis sebatang rokok saya masuk ruangan lagi. Betul. Eva sudah normal. Saya berusaha mencairkan suasana:
"Sudah. Saya sudah merokok. Dan, nangis di luar," kata saya.
Dia bisa ketawa.
Tapi, kemudian dia bercerita dengan lancar. Dia ceritakan proses-proses detil yang semula tidak keluar. Dia ungkapkan semua.
Inti cerita sebenarnya sama dengan jawaban dia semula. Bahwa dia bersemangat hidup karena Allah sangat mencintai dia. Bukankah ibunda yang mencintainya adalah wakil Allah di bumi?
Cuma, struktur ceritanya sangat berbeda. Antara tadi dan sekarang. (bersambung)