"Jung-Jungkook, sedang apa kauㅡ"
"Kau menyembunyikan sesuatu dariku, Taehyung."
"Ap-apa yang kau katakan?" Taehyung lekas mematikan sambungan teleponnya lalu menghampiri Jungkook.
"Tadi kau bilang makanan sudah siap kan? Kalau begitu ayo. Aku sudah lapar."
Taehyung menarik lengan Jungkook untuk pergi dari sana. Namun, rupanya tidak semudah itu. Jungkook menepis tangannya kasar lalu berbalik ke arahnya dengan tatapan tajam.
"Katakan, Hyung. Jangan berbohong padaku."
Taehyung menunduk dengan tangan terkepal kuat hingga garis-garis ototnya terlihat begitu jelas. Padahal ia sudah berencana untuk menyimpan hal ini sedikit lebih lama dari Jungkook. Kenyataan ini terlalu berat untuk dapat diterima oleh pemuda itu sekarang.
Tapi, Jungkook berhak mengetahuinya.
"Katakan, Hyuㅡ"
"Aku sudah menemukan informasi mengenai keluargamu."
Jungkook membeku di tempatnya. Tidak menyangka sama sekali bahwa kata-kata itulah yang akan keluar dari mulut Taehyung.
"Ap-apa maksudmu?"
"Jungkook, maafkan aku."
Jungkook jelas melihat raut pilu itu dari wajah Taehyung. Ekspresi yang sama seperti yang ia lihat di dapur tadi saat ia baru pulang dari supermarket.
"Apa yang kau katakanㅡ"
"Maafkan aku, tapi aku harus mengatakannya. Kau harus mengetahui kenyataannya, benar?" Taehyung semakin mengeratkan kepalannya. Ia memandang Jungkook tepat di kedua matanya.
"Keluargamu... mereka semuaㅡ mereka semua meninggal dalam kecelakaan mobil lima bulan lalu. Tepat di hari aku menemukanmu dengan tubuh penuh luka di hutan."
Deg
Tubuh Jungkook seolah dihempaskan dari langit dan jatuh menghantam bumi. Langsung bertabrakan dengan kerasnya tanah tanpa perlindungan apapun dan menghancurkan tubuhnya hingga berkeping-keping.
Namun, rasa sakit di tubuhnya itu tidak sebanding dengan hatinya yang tiba-tiba berdenyut nyeri. Merasakan sesak yang teramat sangat hingga membuatnya lupa cara bernapas. Tubuhnya melemas, seketika langsung roboh tidak berdaya. Jatuh terduduk di atas dinginnya lantai marmer.
Jungkook seperti orang yang terserang asma. Ia meremat bagian dadanya dengan satu tangan. Sementara tangannya yang lain memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit seperti habis dihantam palu godam.
Pelupuk matanya seperti bendungan air yang tidak kuat menahan luapan air sungai dan berakhir menumpahkan semua materinya. Air mata itu jatuh meninggalkan bekas aliran panjang di pipi Jungkook. Terus dan terus mengalir begitu deras bersamaan dengan teriakan pilu yang mulai menggema ke penjuru ruangan.
"Jungkook!! Jungkook!!"
Taehyung langsung berlari menghampiri Jungkook. Menahan tubuh pemuda itu yang terkulai tidak berdaya, persis seperti bangunan tua yang kehilangan salah satu pondasinya.
Taehyung merasa bersalah. Menyumpahi dirinya sendiri yang telah bertindak gegabah. Seharusnya ia bisa memberitahukan hal tersebut dengan sedikit lebih lembut. Ia tidak tahu jika perkataannya akan berdampak sebegini buruk pada Jungkook.
"Jungkook, tenangkan dirimu!!"
Percuma. Jungkook sama sekali tidak mendengar panggilan Taehyung. Telinganya seolah tuli pada semua perkataan Taehyung. Dirinya sibuk menahan rasa sakit di kepalanya. Suara Taehyung total tertutupi oleh suara teriakan nyaring Jungkook.
Jungkook menarik rambutnya. Berharap rasa sakitnya akan berkurang. Namun, tidak ada yang berubah. Kepalanya justru terasa semakin sakit. Rasanya begitu menyiksa.
"ARRGGHH!!"
"Kookie sayang, jangan bermain ponsel terus. Nanti matamu bisa sakit. Coba lihat keluar jendela, pemandangan disana lebih indah daripada layar datarmu itu."
"Biarkan saja dia, Eomma. Dia pasti sedang asyik berkirim pesan dengan pria pendek itu. Hahaha."
"Wonwoo, jaga bicaramu. Appa tidak pernah mengajarkanmu menyebut orang lain dengan hinaan seperti itu. Mau bagaimanapun dia lebih tua darimu."
"Sayang, perhatikan saja jalannya."
"Eomma!! Kembalikan ponsel Kookie!!"
"HAHAHAHA!! RASAKAN!!"
"AARRGGHH!!"
Jungkook berteriak kesakitan saat bayangan-bayangan aneh mulai bermunculan. Memperlihatkan gambaran-gambaran kebersamaannya dengan tiga orang yang begitu terlihat familiar. Gambaran itu muncul bergantian seperti putaran film pendek. Semakin banyak gambaran itu muncul, kepalanya terasa seperti diperas secara paksa.
Kedua orang tuanya, adiknya ㅡJeon Wonwoo.
Jungkook melihat semuanya. Hanya ada suara tawa disusul candaan sang ayah, perlakuan lembut ibunya, dan tingkah menyebalkan dari adik satu-satunya. Semua tentang bagaimana keceriaan mereka pada hari itu.
Namun, ia tetap tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di hari itu.
Perlahan tapi pasti ingatannya mulai kembali. Walaupun sebagian besar masih berupa bayangan buram.
"Tidak... tidak mungkin... itu tidak mungkin. Mereka tidak mungkinㅡ"
Jungkook terlihat begitu kacau. Rambutnya berantakan dan wajahnya basah bermandikan air mata. Jungkook menangis hingga sesenggukan. Taehyung tidak pernah melihat Jungkook sekacau ini. Apalagi melihat netra Jungkook yang biasa berbinar itu kini redup seolah tanpa nyawa.
"Jungkook..."
Taehyung pun membawa tubuh Jungkook yang bergetar hebat ke dalam pelukannya.
"Mereka meninggalkanku... merekaㅡ"
"Tidak, Jungkook. Tidak ada yang meninggalkanmu. Aku disini. Aku akan selalu disini bersamamu. Tidak ada yang meninggalkanmu."
TBC
Yaudah maaf jadinya begini :'(
Kurang ngefeel dong //syedih
Vomment kuy
👍👍
KAMU SEDANG MEMBACA
Between Us (Vkook) END #Wattys2019
Fanfiction"Aku tidak tahu dia siapa, tapi aku merasa nyaman berada di dekatnya." -Jjk "Waktu itu, aku hanya ingin menolongnya... Tapi sekarang aku tak ingin kehilangannya." -Kth Vkook Taekook BoyxBoy NamjaxNamja Bangtan Yaoi Zoopapp
