Jimin melihat mobil taksi yang ditumpangi oleh dua orang pria itu berhenti di depan sebuah gedung pencakar langit. Gedung yang begitu dikenalinya ㅡGedung perusahaan Kim.
Jimin tidak lantas berlari dan mengikuti. Ia hanya memastikan terlebih dahulu kalau kedua pria itu tidak akan pergi kemanapun setelah memasuki gedung. Setidaknya ia tahu kedua pria itu akan tetap berada di dalam gedung.
Sejak tadi sebenarnya fokusnya terpecah. Selama ia membuntuti Taehyung, benaknya terus berteriak untuk mencari tahu keberadaan Jungkook terlebih dahulu. Ia pun paham kalau seharusnya ia menjadikan Jungkook prioritas ketimbang mengikuti Taehyung layaknya seorang penguntit. Akan tetapi, amarahnya terus mendorong agar ia harus terlebih dahulu tahu kemana pria bajingan itu pergi. Ia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk melayangkan satu atau dua pukulan mematikan tepat di wajah sang pria.
Harus ada seseorang yang melampiaskan kekecewaan serta rasa sakit Jungkook atas pengkhianatan sang pria. Dan ia akan dengan sukarela mengajukan diri sebagai orang tersebut.
Sebelum Jimin memutuskan untuk berjalan memasuki gedung, ia terlebih dahulu menghubungi Hoseok. Meminta pria yang telah membantunya itu untuk mencari tahu keberadaan Jungkook dan segera mengabarinya jika pria itu berhasil menemukan jejak sang pemuda. Sebab, berapa kali pun Jimin mencoba, ia tetap tidak dapat menghubungi Jungkook. Ponsel yang dituju agaknya memang sengaja dinonaktifkan oleh sang pemilik.
Mungkin, Jungkook hanya butuh waktu sendiri.
Walaupun begitu, Jimin tetap tidak mampu menyembunyikan rasa khawatirnya.
Jimin lantas berjalan memasuki gedung. Ia berlagak selayaknya seorang pemimpin perusahaan yang hendak berkunjung ke perusahaan lain yang menjalin kerja sama dengan perusahaannya.
“Ada yang bisa saya bantu, tuan?” Tanya sang resepsionis begitu Jimin datang menghampiri.
“Kim Taehyung. Dia sudah kembali kan? Katakan pimpinan dari perusahaan finansial Park ingin bertemu.” Terang Jimin dengan entengnya.
Resepsionis itu tampak meragu. “Maaf, tuan. Tapi, presdir sedang tidak berada di ruangannyaㅡ“
“Jangan berbohong padaku. Kalau kau tidak mau mengatakan padanya soal kedatanganku, setidaknya beritahu aku dimana ruangannya. Jika kau tetap menolak, aku tidak bisa menjamin kerja sama ku dengan perusahaan ini akan tetap berlanjut.” Ancam Jimin dengan aura yang amat mendominasi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jimin telah sampai di lantai tertinggi. Ia berjalan keluar dari dalam lift dan mengikuti arahan yang telah diberikan oleh wanita penjaga resepsionis tadi.
“Tuan akan melihat satu-satunya ruangan yang berpintu besar disana.”
Jimin menemukannya. Tidak jauh dari lift.
Entah bagaimana hanya dengan mengetahui sosok yang dicarinya berada di balik pintu besar itu mampu membuat Jimin merasakan amarah yang begitu besar. Gemuruh di dadanya kembali disertai dengan perasaan ingin segera menghajar wajah menyebalkan pria tersebut.
Maka, tanpa repot memikirkan apa itu sopan santun, Jimin langsung saja menerobos masuk dengan mendobrak pintu tersebut. Sekilas ia melihat ada dua orang pria di dalamnya. Taehyung serta satu lagi pria yang entah siapa yang sepertinya siap meninggalkan ruangan tersebut. Jimin tidak sempat meneliti keadaan. Yang ada di kepalanya saat itu hanyalah melampiaskan amarahnya pada pria yang berdiri cukup jauh di belakang pria satunya. Oleh karena itu, tanpa babibu Jimin pun lantas melayangkan satu pukulan mematikannya tepat ke wajah Taehyung. Pukulan yang teramat keras yang mampu membuat Taehyung jatuh tersungkur di atas lantai yang dingin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Between Us (Vkook) END #Wattys2019
Fanfiction"Aku tidak tahu dia siapa, tapi aku merasa nyaman berada di dekatnya." -Jjk "Waktu itu, aku hanya ingin menolongnya... Tapi sekarang aku tak ingin kehilangannya." -Kth Vkook Taekook BoyxBoy NamjaxNamja Bangtan Yaoi Zoopapp
