Terungkap

4.2K 477 29
                                        

Harusnya di up kemarin

Cuma karena mati lampu, harus ditangguh sementara dalam rangka hemat batre:)

Ini udah jatah dua chapter sebenernya

Panjang bener isinya

Ehehehe













.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
















Satu minggu telah berlalu semenjak pertemuan terakhir Jungkook dengan Taehyung. Setelah kejadian itu, keduanya sama-sama kehilangan kontak satu sama lain. Taehyung tidak lagi menghubungi nomor Jungkook. Pesan-pesan yang dikirimnya berakhir pada hari dimana mereka berjanji untuk bertemu.

Pun Jungkook juga bungkam sama sekali. Semenjak hari itu, Jungkook seolah berubah menjadi orang lain. Meski ia menjalani hari harinya bersama Jimin layaknya pasangan normal, tapi terlihat jelas bagaimana pemuda itu tampak memaksakan diri untuk terlihat baik-baik saja. Hal itu tentu saja disadari oleh Jimin.

“Kookie, bagaimana kalau besok kita pergi berlibur? Aku bisa mengambil cuti untukmu.” Tawar Jimin setelah ia menyelesaikan makan malamnya bersama Jungkook yang duduk di sisi lain meja makan.

Jungkook tidak merespon sama sekali. menoleh pun tidak. Pemuda itu nampak tenggelam dalam lamunannya sembari mengaduk asal menu makan malamnya dan tidak mengambil satu sendok pun untuk disuapkan ke dalam mulut. Bahkan makanannya masih utuh.

Ini tidak hanya terjadi satu dua kali. Entah yang keberapa Jimin melihat Jungkook nampak kehilangan fokus dan seringkali melamun tanpa sebab. Pancaran matanya pun kosong. Binar yang biasa menghiasi netra indah sang tunangan lenyap semenjak hari dimana Jungkook sempat menghilang dan tidak dapat dihubungi.

“Kookie...”

“Jungkook.”

“E-eh, iya. Kau memanggilku, Hyung?” Akhirnya Jungkook merespon. Jimin merasa cemas saat kedua mata yang melihat ke arahnya itu nampak kosong walaupun mereka tengah saling berbicara.

“Sudah malam. Istirahatlah. Biar aku yang membereskan semuanya.” Kata Jimin akhirnya. Ia bangkit merapihkan sisa-sisa piring kotor miliknya.

Jungkook tersenyum lemah lalu ikut bangkit. “Terima kasih, Hyung. Maaf kalau aku merepotkanmu.”

“Bukan apa-apa, Kookie. Aku tahu kau sedang merasa tidak baik. Istirahatlah. Jangan berpikir tentang apapun dan lekas tidur, mengerti?”

Jungkook menatap Jimin sebentar lalu mengangguk lemah. Pemuda itu pun beranjak pergi ke kamarnya.

Jimin memandang sendu kepergian Jungkook. Ia tidak bisa bohong kalau ia turut merasa sedih atas perubahan sikap sang tunangan. Jimin kembali duduk alih-alih segera membenahi piring kotor sesuai janjinya. Pikirannya menjadi kacau melihat betapa hampa Jungkook di matanya kini. Ia tidak tahu apa yang terjadi. Jimin hanya menyadari kalau Jungkook mulai berubah semenjak hari itu.

Jimin masih mengingatnya. Tepat seminggu yang lalu saat Jungkook tiba-tiba menghilang dan tidak menjawab panggilannya sama sekali. Kala itu Jimin dibuat kalang kabut sebab rasa takut akan kehilangan sang tunangan kembali menghantui.

Hingga langit berubah gelap, Jimin tidak kunjung mendapat kabar apapun dari Jungkook. Ia sudah lelah mencari keberadaan sang tunangan. Pun ia
juga tidak memiliki petunjuk apapun soal kemana perginya Jungkook sebab semenjak kembali ia jarang membiarkan pemuda itu berkeliaran sendirian sehingga tidak ada banyak tempat yang mungkin disambangi Jungkook.

Between Us (Vkook) END #Wattys2019Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang