That Day (2)

6.5K 733 16
                                        

Telat sih tapi...

Happy Ied Mubarak

Gue selaku manusia berlabel author yg tidak luput dari kesalahan ini //terutama typo wkwk// memohon maaf apabila ada salah-salah yg disengaja ataupun tidak disengaja yaww~

Hehe



°°°°°°









Tahu?

Jungkook menyesal karena telah memutuskan untuk mengikuti Taehyung ke kantornya hari ini.

Alasannya?

Tentu saja karena pria itu malah asyik sendiri dengan berkas-berkas laporan ㅡyang entah isinya apaㅡ dan mengabaikan kehadiran Jungkook disana. Sama sekali. Bahkan mengobrol pun tidak. Hanya sesekali menyahut ketika Jungkook memanggilnya lalu kembali tenggelam pada pekerjaannya.

Jungkook kesal? Tentu saja.

Jungkook bosan? Sangat.

Ternyata berada di kantor Taehyung lebih membosankan daripada di rumah sendirian. Meski Taehyung ada disini bersamanya, tapi keadaannya tidak lebih baik. Setidaknya, walaupun ia hanya seorang diri di rumah, Jungkook masih memiliki televisi layar besarnya untuk menemaninya berbincang ㅡMengomentari adegan klise drama yang menjadi favorit nya.

Sementara disini, Jungkook tidak memiliki apapun kecuali sofa yang empuk dan nyaman lalu ponsel dalam genggaman. Tidak ada televisi, tidak ada bacaan selain setumpuk koran berisi informasi saham ㅡBaginya itu tidak menarik sama sekaliㅡ, dan tidak ada yang bisa ia benahi karena ruang kerja Taehyung terlampau bersih, sangat bersih malah.

Tidak ada yang bisa ia lakukan.
Jungkook merasa seperti pajangan pemanis belaka disana.

"Taehyung." Panggilnya pelan. Takut mengganggu pekerjaan pria tersebut.

Taehyung bergumam singkat. Lihat kan?

"Bosan~ Tidak bisakah kita pergi jalan-jalan sekarang saja?" Jungkook berkata lirih setengah merajuk.

Taehyung akhirnya mendongak. Merasa tidak tega setelah mendengar suara Jungkook. Sebelumnya ia melirik jam tangannya terlebih dahulu.

"Baru jam sebelas, Jungkook. Ada seseorang yang harus kutemui, ingat? Bersabarlah." Taehyung kembali fokus pada kegiatan sebelumnya membuat Jungkook mendengus kesal. Memilih bangkit kemudian berjalan menuju pintu keluar. Tidak peduli apabila nanti Taehyung memarahinya karena pergi tanpa izin.

"Salah sendiri mengabaikanku." Batin Jungkook.

Jungkook menghentakkan kakinya sepanjang jalan menuju lift. Menekan tombol lantai paling bawah lalu bergumam tidak jelas menyumpahi sikap cuek Taehyung. Daripada ia mati bosan disana lebih baik Jungkook mencuci mata saja di toko pakaian tepi jalan tepat di depan gedung perusahaan Taehyung. Setidaknya itu lebih menyegarkan, bukan?

Ahㅡ sebelum Jungkook benar-benar meninggalkan gedung tersebut, ia terlebih dahulu berhenti di depan meja resepsionis. Membalas senyum ramah wanita yang sama ketika terakhir kali ia kemari lau berkata, "Noona, kalau nanti Presdir Kim mencariku, bilang saja kau tidak tahu. Ok?" dan tanpa menunggu jawaban, Jungkook berlalu pergi.

Ketika sampai tepat di ambang pintu lobi, tanpa Jungkook sadari ia berpapasan dengan sekretaris Lee. Wanita itu keheranan saat melihat Jungkook keluar begitu saja dari kantor tanpa didampingi oleh Taehyung.

"Tuan Jungㅡ"

"Permisi." Perhatian sekretaris Lee teralih saat seorang pria berdiri tepat dihadapannya. Pria bertubuh tegap dengan setelan jas lengkap berwarna hitam dan kemeja putih di dalamnya dengan dasi abu-abu melingkar di leher.

"Ahㅡ iya, ada yang bisa saya bantu, Tuan?" Balas Sekretaris Lee sopan. Sama sekali melupakan kepergian Jungkook.

"Aku ada janji temu dengan Presdir Kim hari ini. Dimana aku bisa menemuinya?" Tanya pria itu sopan tapi berwibawa.

"Kalau boleh tahu, dengan siapaㅡ"

"Pimpinan dari Perusahaan Finansial Park, Park Jimin."














.
.
.
.
.


















Taehyung mengalihkan pandangannya saat mendengar telepon di ruangannya berbunyi nyaring. Ia pun meraih gagang telepon tersebut.

"Presdir, pimpinan Perusahaan Finansial Park sudah tiba."

Keningnya berkerut heran kemudian melirik jam di tangan. Masih ada waktu tiga puluh menit lebih awal dari jam temu mereka.

"Secepat ini?" Heran Taehyung.

"Kalau begitu bawa dia masuk ke ruanganku." Katanya lagi.

Sekitar tiga menit terlewati sampai terdengar suara ketukan dan panggilan sang sekretaris dari arah luar. Taehyung menyahut dan memintanya masuk. Sekretaris Lee pun melangkah masuk diikuti langkah seorang pria yang mengaku bernama Park Jimin di belakangnya.

"Tamu Anda, Presdir." Ucap Sekretaris Lee seraya membungkuk hormat.

"Terima kasih, Sekretaris Lee. Kau boleh pergi sekarang." Wanita itu membungkuk sekali lagi, tidak hanya pada atasannya, tapi juga kepada pria bernama Jimin tersebut kemudian melangkah pergi.

"Park Jimin-ssi, benar? Senang bisa bertemu denganmu." Tanya Taehyung sembari mengulurkan tangannya ke arah Jimin. Saling menjabat satu sama lain sebagai salam perkenalan.

Taehyung sedikit melirik pada tangan Jimin yang terbalut perban, tapi tidak berminat untuk bertanya.

"Panggil saja Jimin. Itu terasa lebih nyaman didengar. Aku juga senang bisa bertemu dengan pengusaha muda sukses sepertimu." Kedua ujung bibirnya melengkung tinggi, menampakkan senyuman ramahnya yang memancing lengkungan yang sama pada lawan bicaranya.

"Kau terlalu berlebihan. Kalau begitu itu juga berlaku untukku. Silahkan duduk." Ajak Taehyung. Membawa Jimin duduk berhadapan di sofa.

Taehyung baru menyadari ketidakhadiran Jungkook disana, tapi ia berusaha profesional pada pekerjaannya terlebih dahulu. Nanti, setelah urusannya selesai dengan Jimin, ia baru akan mencari kemana hilangnya pemuda tersebut.

"Kau datang lebih cepat dari jadwal temu kita. Apa sesuatu terjadi? Lalu apa kau datang sendirian?"

"Iya kurang lebih seperti itu. Hanya ada satu dua hal yang harus kuurus secara pribadi disini. Apa aku mengganggu waktumu, Taehyung?"

"Ahㅡ tentu saja tidak. Aku justru senang karena dengan begini waktu kita untuk mengobrol jadi lebih banyak. Apa ada sesuatu yang kau inginkan untuk menu makan siang hari ini? Kalau iya, aku bisa langsung memesankannyaㅡ"

"Tidak usah repot-repot. Maaf, tapi aku tidak bisa terlalu lama berada disini. Ada seseorang yang harus kutemui saat jam makan siang nanti." Ungkap Jimin. Kentara sekali rasa tidak enak hati dalam ucapannya.

"Begitu? Baiklah. Kurasa kita bisa memulai diskusi kita sekarang."

"Tentu saja."

TBC


Masih ditunggu gak nih?

Lagi gak mood //unpub saja ya??

Vommentnya~

Between Us (Vkook) END #Wattys2019Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang