Siang itu, Taehyung dengan pikirannya yang kacau memilih untuk membatalkan semua jadwalnya dan pulang ke rumah.
Ceklek
“Lho, Sudah pulang? Padahal aku baru saja ingin mengantarkan makan siang untukmu.”
“Jungkook…”
Taehyung membuang napasnya kasar bersamaan dengan kedua tangannya yang mengepal kuat. Entah sudah yang keberapa kali selama seminggu kebelakang Taehyung terus dihantui bayang-bayang Jungkook. Di rumah, di kantor, bahkan di dalam mobilnya sendiri terkadang Taehyung masih dapat merasakan kehadiran Jungkook yang tersenyum dan memanggil namanya lembut.
Kasarnya, Taehyung persis sekali seperti orang gila.
Tanpa repot-repot melepas setelan jas lengkapnya, Taehyung berjalan menaiki tangga dan melewati pintu kamarnya begitu saja. Tungkai kakinya berhenti tepat di depan sebuah pintu coklat yang belakangan tidak tersentuh oleh sang empunya yang asli.
Taehyung membuka pintu kamar tersebut. Akan tetapi, Taehyung tidak lantas langsung melangkah masuk. Ia termenung sejenak di muka pintu. Memandangi satu persatu barang yang masih tertata rapih persis seperti sebelum hilangnya sang pemilik, Jeon Jungkook. Rasa sesak tiba-tiba menyeruak. Meninggalkan sakit di dada sebelah kiri hingga Taehyung tanda sadar meremas pakaiannya bersamaan dengan tungkainya yang perlahan limbung.
“Apakah ini yang dirasakan saat Jungkook tahu kalau seluruh keluarganya telah tiada?” Ia tersenyum miris berusaha menegakkan tubuhnya kembali.
Dengan satu tarikan napas, Taehyung berjalan perlahan memasuki kamar Jungkook. Tidak sekalipun ia melepaskan pandangan matanya dari setiap sudut kamar Jungkook. Ruangan yang harusnya ia fungsikan sebagai perpustakaan kecil ini terasa lebih hidup ketika Jungkook masuk dalam kehidupannnya. Mungkin jika Jungkook tidak ditolongnya waktu itu, Taehyung hanya akan menghabiskan waktunya di ruangan ini seorang sendiri dengan tumpukan buku-buku diantara berkas dokumen kerjanya yang menumpuk.
Bruk
Ia membanting tubuh lelahnya di atas ranjang milik Jungkook. Lengan kanannya ia arahkan untuk menutup kedua matanya yang terpejam.
Taehyung lelah, sungguh.
Ia membutuhkan Jungkook. Ia mengharapkan kehadiran Jungkook. Sangat.
Akan tetapi, apakah Jungkook juga merasakan hal yang sama dengannya? Apakah Jungkook masih mengingatnya? Apakah Jungkook akan kembali padanya?
Di tengah kekalutannya, ponsel Taehyung tiba-tiba berbunyi. Ia berdecak malas. Seingatnya, ia sudah meminta Nancy untuk membatalkan semua jadwalnya hari ini lalu siapa gerangan yang berani mengganggu waktunya kali ini.
Taehyung sebenarnya malas dan berniat mengabaikan deringan ponselnya. Akan tetapi, tangannya justru bergerak sendiri tanpa dikehendaki lalu merogoh saku dan menerima panggilan tersebut. Taehyung bahkan terlalu malas untuk memeriksa nama pemanggil.
“Taehyung-ah. Oh—astaga akhirnya kau mengangkat panggilanku juga.”
Taehyung menghela napas. Ia langsung tahu siapa yang berada di seberang sana. “Ada apa, Seokjin-hyung?”
“Aku telah mendengar semuanya dari Hoseok. Kau baik-baik saja?” Kentara sekali unsur cemas dalam nada bicara Seokjin. Taehyung tidak langsung menjawabnya. Jika yang berbicara begitu orang lain, mungkin Taehyung akan langsung berkoar dan meneriaki pertanyaan retorik tersebut dengan emosi menggebu-gebu.
Keheningan yang terjadi memancing Seokjin untuk kembali bersuara. Ia menjelaskan kalau di hari Jungkook menghilang, pemuda itu mendatangi rumah sakit. Sayangnya, hari itu ia tidak berada disana karena sedang menjadi relawan di negeri sakura. Taehyung sudah menduganya, jadi ia tidak terlalu terkejut dengan fakta yang diketahuinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Between Us (Vkook) END #Wattys2019
Fanfic"Aku tidak tahu dia siapa, tapi aku merasa nyaman berada di dekatnya." -Jjk "Waktu itu, aku hanya ingin menolongnya... Tapi sekarang aku tak ingin kehilangannya." -Kth Vkook Taekook BoyxBoy NamjaxNamja Bangtan Yaoi Zoopapp
