Malam sebelumnya...
Uap air mengepul bersamaan dengan sosok Jimin yang berjalan keluar dari arah kamar mandi. Membasuh rambut basahnya dengan handuk kecil yang melingkar di leher serta hanya mengenakan celana bahan panjang semata kaki tanpa baju atasan ㅡtopless.
Pria itu berjalan ke arah ranjang. Menjatuhkan bokongnya di tepian lalu meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Jemarinya bergerak lincah memainkan ponsel pintar tersebut. Mencari satu nama pada menu kontak lalu menekan tombol dial.
"Halo, Namjoon-hyung." Katanya segera setelah seseorang diujung sana mengangkat panggilannya.
"Jiminㅡ ada apa?" Suara berat itu menyahut.
"Hyung, Bisakah besok kita bertemu?" Jimin menyelipkan ponsel diantara telinga dan bahunya sementara ia berjalan ke arah lemari. Mencari kaos lengan pendek tipis yang sengaja ia gantungkan disana saat membongkar isi tasnya.
"Besok? Kenapa mendadak sekali. Aku sedang tidak berada diㅡ"
"Tidak usah khawatir. Aku datang berkunjung ke kota yang kau bilang. Lagipula ada urusan perusahaan yang mesti kuurus disini. Kita sedang berada di kota yang sama, Jadi bisakah kau luangkan waktumu untuk makan siang bersamaku? Ada sesuatu yang harus kutanyakan. Kau mengerti maksudku, kan?" Jelas Jimin sembari memakai kaos pilihannya tanpa melepas ponsel dari telinganya.
"Woowㅡ Jimin. Kau benar-benar percaya kata-kataku? Maksudku, bahkan aku tidak yakinㅡ"
"Kita tidak akan tahu sebelum mencoba, Hyung. Aku akan mencari tahunya terlebih dahulu. Entah kenapa perasaanku berkata bahwa aku bisa menemukannya disini." Jimin lagi-lagi memotong ucapan Namjoon.
"Jiminㅡ begini, bukannya aku melarangmu, tapi sudah lima bulan terlewati semenjak insiden itu. Kau tahu? Bahkan orang gila pun akan sependapat denganku. Ingat bagaimana kondisi mobil mereka saat ditemukan? Hancur lebur, Jimin. Tidak tersisa sedikitpun akibat ledakan yang kelewat dahsyat. Kau tahu sendiri bahkan pihak medis pun kesulitan mengenali jasad mereka."
Jimin tidak menjawab. Ia hanya memandang pantulan dirinya pada cermin besar di salah satu pintu almari. Tanpa sadar mengepalkan tangannya erat dengan gigi menggertak marah.
"Cobalah berpikir realistis. Tidak akan ada manusia yang selamat jika dihadapkan pada insiden mengerikan itu. Bahkan Jungkook sekalipun. Ia hanya manusia biasa, Jiminㅡ begitupula dengan semua anggota keluarganya. Kau lihat sendiri kan bagaimana kondisi tubuh mereka saat ditemukan?"
"Hanya ada tiga tubuh yang ditemukan." Jimin berkata dengan suara rendah. Kentara sekali ia tengah berusaha menahan amarahnya.
"Mereka tidak benar-benar menemukan jasad Jungkook, Hyung. Kau harus ingat yang satu itu."
"Jimin, kauㅡ"
"Jadi, kau bisa atau tidak? Jam makan siang? Aku akan mengirimkan lokasi temunya melalui pesan singkat." Jimin sudah tidak peduli lagi dengan tata krama berbicara dengan orang yang lebih tua. Sekalipun ia menghormati Namjoon lebih dari siapapun.
Terdengar helaan napas berat diujung telepon kemudian dilanjut dengan Namjoon yang berkata, "Kau bebas mengaturnya. Akan kuusahakan datang tepat waktu."
Dengan begitu, tanpa berkata apa-apa lagi, Jimin langsung saja memutus pembicaraan mereka. Melempar ponselnya asal ke atas ranjang kemudian mengarahkan satu pukulan pada cermin di hadapannya. Berjalan tak acuh setelah menciptakan beberapa garis retakan tak beraturan pada cermin. Sama sekali melupakan fakta bahwa ia harus menanggung ganti rugi atas kerusakan yang ia buat pada salah satu properti hotel tempatnya menginap.
Jimin lebih memilih mengabaikan tetesan darah di tangannya yang tercipta akibat goresan dari serpihan kaca yang telah jatuh berhamburan di lantai. Duduk di pinggir ranjang lalu mengambil sebuah cincin emas yang terdapat di atas nakas.
Ia tidak mengatakan apapun. Hanya sibuk menatap cincin itu lamat-lamat. Memperhatikan deretan angka yang terukir pada lingkar bagian dalam.
Kedua alisnya menekuk turun bersamaan dengan tatapannya yang berubah sendu. Merasakan sesak mulai menyerang saat kenangan buruk itu kembali.
Pada hari liburnya yang damai ketika sedang menunggu kepulangan orang tersayang, tapi justru mendapat kabar kematian mengenaskan yang masih terus terbayang hingga saat ini. Hari ketika ia mendapatkan panggilan yang mengatakan bahwa satu keluarga terlibat dalam kecelakaan tunggal dan mengakibatkan semua penumpang tewas dilalap api akibat ledakan besar yang tercipta.
Jimin bukan sosok yang mudah terbawa suasana. Sejak kecil ia dilatih untuk dapat berpikir matang sebelum bertindak dan hal itu selalu ia terapkan dalam memimpin perusahaan yang diwariskan ayahnya.
Namun, pada hari itu, hanya di hari itu, Jimin kehilangan fokus dan akal sehatnya lalu berkendara layaknya seorang pembalap tanpa memikirkan nyawa dan keselamatannya. Ingin secepat mungkin sampai hanya untuk melihat tiga orang jasad tidak bernyawa terbaring kaku di hadapannya dengan kondisi tubuh terbakar delapan puluh persen.
Jimin berteriak seperti orang kesetanan. Memanggil siapapun yang berada disana untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Sampai kemudian sebuah ledakan besar kembali terdengar. Menarik perhatian semua petugas kepolisian maupun medis pada sebuah mobil sedan berukuran sedang yang sukses dibuat hancur lebur tidak bersisa. Melahap semua bagian mobil yang berceceran jauh di bawah jurang bersamaan dengan beberapa pohon tinggi yang berada di sekitarnya. Menyebabkan kebakaran kecil di dalam hutan lebat yang mengitari mereka.
Jimin mendengarnya, Bahwa salah satu diantara petugas penyelamat mengatakan ia tidak berhasil menemukan penumpang lainnya ㅡtidak yakin ada berapa penumpang yang berada di dalam mobil saat itu. Atau lebih tepatnya sudah tidak mungkin lagi untuk menemukan tubuh penumpang ㅡkalau adaㅡ dalam keadaan utuh jika melihat seberapa dahsyat ledakan barusan.
Dan sejak saat itu, Jimin merasa telah kehilangan setengah jiwa dan nyawanya.
Beberapa bulan ia lewati dengan mendekam seorang diri di dalam kamar. Lebih tepatnya di kamar sosok tercintanya. Meneliti setiap benda yang berada disana. Semua benda yang menjadi kebanggaan sang empunya dan begitu terawat di dalam kamar tidur yang beraroma khas.
Butuh waktu lama bagi seorang Park Jimin, pria yang dikenal dengan sikap lembut dan karismanya untuk kembali pada kenyataan. Hingga pada suatu malam yang sunyi, sebuah mimpi menghampirinya.
Mimpi dimana ia kembali dipertemukan dengan sosok Jungkook dalam keadaan hidup. Tidak kekurangan suatu apapun.
Dan dari sanalah keyakinan itu datang. Bahwa Jungkook selamat ㅡmasih hidup. Jungkook tidak benar-benar pergi meninggalkannya.
Keyakinan itupun diperkuat dengan fakta bahwa pada saat kejadian, hanya ada tiga mayat yang ditemukan.
Semua keputusannya, hingga saat ini, sampai ia menginjakkan kakinya di kota ini. Semua itu ia ambil semata-mata berpatok pada mimpinya tersebut. Menyakinkan diri bahwa tidak lama lagi ia akan dipertemukan dengan Jungkook dan kembali menjalani kehidupan lama mereka bersama.
Tidak peduli meski menghabiskan waktu satu tahun, lima tahun, sepuluh tahun sekalipun, Jimin tetap akan menunggu.
Ia pasti bisa kembali bersama dengan sang pujaan hati.
"Aku pasti akan menemukanmu, Kookie."
TBC
Udah ada sekitar sebelas chapter ke depan yang selesai diketik
Dan tebak
Itu belum masuk konflik utama
Astagahㅡ panjang yah
Bta makasih dukungannya :))
Vomment 👇👇
KAMU SEDANG MEMBACA
Between Us (Vkook) END #Wattys2019
Fanfiction"Aku tidak tahu dia siapa, tapi aku merasa nyaman berada di dekatnya." -Jjk "Waktu itu, aku hanya ingin menolongnya... Tapi sekarang aku tak ingin kehilangannya." -Kth Vkook Taekook BoyxBoy NamjaxNamja Bangtan Yaoi Zoopapp
