Satu tahap menuju akhir
.
.
.
.
.
“Kita harus pergi.”
Jimin yang tiba-tiba muncul membuat Yoongi dan Jungkook yang sedang menikmati waktu mengobrol ringan di ruang tamu menoleh bersamaan dengan tatapan terkejut. Dalam keadaan normal, harusnya Jimin mempertanyakan kedekatan yang terjadi antara Jungkook dan Yoongi mengingat atmosfer canggung mereka selama sarapan. Akan tetapi, Jimin bahkan tidak repot untuk sekedar melirik sekilas. Pria itu hanya berjalan lurus, mengambil jas kantornya yang tersampir di punggung kursi tempatnya duduk selama sarapan lalu melenggang melewati ruang tamu menuju pintu keluar.
Kalau Yoongi mungkin tidak memiliki spekulasi apapun atas tingkah laku Jimin. Toh, pria itu yang memberikannya tumpangan kemari, jadi ia tidak akan banyak protes atas keputusan pria tersebut. Lain halnya dengan Jungkook yang keheranan dengan tingkah laku Jimin yang menurutnya aneh tersebut. Bukannya mengharapkan, tetapi Jungkook tahu Jimin tidak akan pernah mengabaikannya apalagi dalam situasi ia yang sehari sebelumnya menghilang tanpa kabar. Jimin yang dikenalnya pasti akan menghambur ke arahnya lalu memberondong Jungkook dengan banyak pertanyaan. Atau kalau pria itu terlanjur emosi dengan tingkah sembrono Jungkook, Jimin pasti sudah mencecarnya dengan kalimat-kalimat tajam dan berakhir menasehatinya berjam-jam persis seperti orang tua.
Pun, Jimin sama sekali belum mengajaknya bicara sejak kedatangannya kemari bersama Yoongi.
“Aku harus pergi. Senang bisa bertemu denganmu, Jungkook.” Kata Yoongi sembari beranjak dari duduknya.
“Jungkook?” Panggil Yoongi saat pemuda itu tidak kunjung menunjukkan reaksi yang berarti. Lantas Yoongi langsung paham apa yang menjadi pengalih sang pemuda begitu ia mengikuti arah pandangannya.
“Heyㅡ“
“A-ah, iya. Apa Hyung mengatakan sesuatu?” Setelah panggilan kedua, Jungkook baru memfokuskan diri ke arah Yoongi. Pemuda itu tampak terkejut dengan panggilan Yoongi, tapi berusaha menyembunyikannya. Yoongi pun terkekeh rendah kemudian mendaratkan satu usapan halus di kepala Jungkook.
“Bicaralah dengannya.”
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
“Taehyung, kau darimana saja? Kenapa baru datang sekarang? Untung, Yoongi-hyung dan Jimin-hyung belum pulang.” Itu Jungkook yang langsung mencerca Taehyung begitu pria itu muncul dari dalam rumah.
“Maaf. Ada sesuatu yang harus kuurus tadi.” Begitu tanggapan Taehyung seraya menggaruk belakang telinganya. Ia menebak, mungkin nanti Jungkook akan menanyakan banyak hal soal hilangnya ia bersama Jimin setelah sarapan.
“Hyung, apa setelah ini kau akan langsung ke Jeju?” Taehyung mengalihkan diri dari tatapan tajam Jungkook dengan membuka percakapan dengan Yoongi yang sudah berdiri tegap di depan pintu keluar setelah selesai mengenakan sepatunya. Jimin sendiri berdiri agak jauh dari mereka dalam posisi memunggungi.
“Kalau kau berpikir untuk menemuiku, aku akan mengusirmu dari sekarang. Aku serius, Kim.” Balas Yoongi yang terdengar seperti ancaman tegas. Taehyung pun menghela napas kasar. Ia tahu Yoongi pasti akan berusaha menghindarinya setelah ini.
“Setidaknya beritahu aku dimana kau menginap, Hyung.” Kalimat Taehyung yang lebih terdengar seperti rengekan itu justru berakhir diabaikan. Yoongi memilih diam dan maju mendekat kea rah Jungkook.
KAMU SEDANG MEMBACA
Between Us (Vkook) END #Wattys2019
Fanfiction"Aku tidak tahu dia siapa, tapi aku merasa nyaman berada di dekatnya." -Jjk "Waktu itu, aku hanya ingin menolongnya... Tapi sekarang aku tak ingin kehilangannya." -Kth Vkook Taekook BoyxBoy NamjaxNamja Bangtan Yaoi Zoopapp
