Dua hari berlalu sejak Alle bersembunyi di tempat Vivian. Sesuai janjinya, Will menjemputnya. Banyak hal yang diceritakan Vivian kepada Alle. Rahasia tentang Will seakan tak habis. Dihari terakhir Alle akan pergi, Vivian mengajarkannya memasak sup yang Alle nikmati tempo hari. Vivian tak pernah bertemu gadis sesederhana Alle, dan itu membuatnya semakin ingin mengetahui tentang Alle.
Alle pamit dan memeluk Vivian. Wanita bertubuh gemuk itu masih melambai saat mobil sudah melaju dan hilang. Langit masih mendung bahkan disiang hari seperti ini. "Semoga tidak terjadi sesuatu pada mereka." Vivian memandang ke atas.
Alle sudah melepaskan perban ditangannya, karena lukanya sudah mengering. Tapi Will tak bermaksud mengungkit tentang luka yang diakibatkan nya. Alle memperhatikan pepohonan dikiri kanan jalan, diam menikmati alunan musik yang Will pasang di mobilnya.
Tak ada mobil yang melintas selain mobil Will. Pohon pinus yang menjulang ujung rantingnya ditutupi oleh salju. Pemandangan gunung yang samar-samar ditutupi oleh kabut awan membuat Alle tak sadar Will sudah berhenti mematikan mobilnya.
"Ada apa?" Alle melihat Will yang melepas sabuknya dan turun keluar.
"Ban nya kempes, sial." Will tampak kesal. Alle turun dari mobil.
"Apa kau tak membawa pengisi udara?" Will menggeleng. Alle mendengus. "Kita tunggu sampai mobil lain lewat." Kata Alle. Will mencoba menghubungi menggunakan ponselnya, sialnya tak ada sinyal ditempat seperti ini. Lagi-lagi Alle mendengus.
"Jadi bagaimana?" Mereka berpandang-pandangan. "Tak ada sinyal."Jawab Will. Gerimis mulai turun.
"Ayo masuk, gerimis." Alle dan Will sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Alle menunggu mobil lain lewat, tapi nihil. Hujan mulai turun deras, menambah udara semakin dingin. "Apa kau punya ban cadangan?" Tanya Alle kemudian. Bodohnya Will tak menyadari.
"Kau tak bisa memasangnya?" Kata Alle tak percaya. Will menggeleng. Gelegar petir membuat Alle dan Will tersentak. Alle tak punya pilihan, dia menarik nafas lebih dalam. "Aku bisa memasangnya." Will takjub dengan pendengarannya.
"Kau meragukan ku?" Alle tak suka tatapan pria itu. "Kau yakin turun di saat hujan seperti ini?" Tanya Will. Alle mengangguk. "Kau punya peralatannya bukan, Tuan Altamirano?" Ada nada mengejek dari cara Alle bertanya. "Tak ada pilihan, ayo bantu aku." Alle membuka pintunya, seketika itu hujan deras membasahi rambut Alle. Will turun membuka bagasi dan mengeluarkan payung untuk Alle. Laki-laki itu memayungi Alle.
"Kau yakin bisa menggantinya?" Teriak Will, tangannya memegangi payung sambil was-was melihat mobil yang mungkin akan melintas.
"Aku pernah bekerja sebagai montir!" Seru Alle. Kepalanya menyelinap masuk ke dalam kolong mobil. Gelegar petir tak membuat mereka takut. Will sudah basah memegangi payung selagi gadis itu mengganti ban mobilnya. Tangan gadis itu tampak terampil memutar, membuat Will kagum. Alle benar-benar perempuan yang tak biasa.
Tak sampai lima belas menit, Alle sudah berhasil menggantinya. "Sudah bisa, ayo coba." Alle buru-buru naik ke mobil. Badan mereka sudah basah terkena air hujan.
"Kau hebat." Puji Will sambil menyalakan mobilnya lagi. "Kita cari penginapan terdekat." Kata Will. Will melajukan mobilnya cepat seraya mencari pemukiman terdekat.
"Tak ada rumah penduduk di sekitar sini." Kata Alle.
"Bagaimana kau tahu?"
"Vivi mengatakannya."
Will diam. "Kita masih butuh empat jam untuk tiba di kota, Alle." Jelas Will. Gadis disampingnya mulai menguap. Alle melepas jaketnya. Pandangan pertama Will jatuh pada lekuk payudara gadis itu. Tak ingin bertindak diluar kendali, Will memilih fokus pada jalanan didepannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
AFTER MORNING COMES (END)
RomansaNOVEL DEWASA. 2018. Copy Right. Qeryana Grail. Fiksi. Indonesia. Musim dingin segara berakhir, dan Allegra harus menyelesaikan pekerjaannya agar bisa mendapatkan uang. Mimpinya untuk bisa kembali tinggal bersama Ibunya harus terwujud, atau Allegra...
